Liputan6.com, Blora - Lahirkan keajaiban dari tanganmu…
Lirik lagu band Dialog Dini Hari itu nampaknya diresapi betul oleh Widyasintha Himayanti, seorang perempuan muda asal Blora. Bagaimana tidak, dari tangannya, akar pohon jati yang mulanya adalah limbah disulap menjadi beragam furniture berkelas yang punya harga jual tinggi.
Advertisement
Dari keajaiban itu, Widyasintha kini membangun sebuah perusahaan yang terus berkembang dan saat ini sudah punya 16 karyawan. Tidak hanya menyasar pasar lokal, produk kayu jatinya itu juga sangat diminati pembeli di berbagai negara, mulai dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika.
Tapi mengubah limbah akar jati menjadi benda bernilai seni tinggi bukan perkara mudah. Selain dibutuhkan sense of art, hal lain yang tak kalah penting dalam menunjang kerja seninya adalah pasokan listrik yang prima. Tanpa ada listrik, mustahil Widyasintha bisa menghasilkan benda-benda bernilai seni tinggi dari limbah pohon jati.
Bagi Widyasintha, listrik kini bukan sekadar kebutuhan untuk menerangi rumah di malam hari. Energi tersebut menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi yang tengah dibangunnya. Tanpa ada listrik, produksi terhenti, saat produksi terhenti, laju perekonomian sudah dipastikan mandeg.
Widyasintha menceritakan, perjalanan mengembangkan kerajinan akar jati bermula dari rasa penasaran. Sekitar lima tahun lalu, ia mulai mengamati aktivitas sejumlah rekan yang lebih dahulu menekuni usaha pengolahan kayu.
Dari hasil diskusi dan pengamatan di lapangan, ia mengetahui produk mebel yang dibuat para pelaku usaha di sekitarnya dikirim ke sejumlah daerah, seperti Jepara, Yogyakarta, dan Cirebon. Dari sana, produk-produk tersebut kemudian memasuki jalur perdagangan yang lebih luas.
Informasi itu memunculkan pertanyaan di benaknya. Jika bahan bakunya berasal dari Blora, mengapa produk jadi dari daerah yang dikenal memiliki kayu jati berkualitas tersebut tidak dipasarkan langsung ke luar negeri?
"Awalnya itu iseng-iseng aja, karena banyak teman-teman kayu. Tak angen-angen, teman-teman ini kirimnya ke mana. Ada Mbak Lina, ada Mas Pur, dan lain-lainnya. Ternyata mereka rata-rata kirimnya ke Jogja, ke Jepara, ke Cirebon," tutur Widyasintha.
Rasa ingin tahunya kemudian membawanya mengunjungi pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) di Jakarta. Dari pameran itu, ia melihat peluang yang lebih luas bagi produk furnitur Indonesia, termasuk untuk pasar Amerika Serikat dan Dubai.
Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap akar jati Blora. Bahan baku yang selama ini tersedia di daerahnya ternyata dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi apabila diolah secara kreatif dan dipasarkan secara tepat.
"Setelah itu aku berpikir, iki barang-barange Blora, akar jupuk-e saka Blora. Kenapa Blora gak ekspor dewe ya? Aku mikir gitu waktu itu," katanya.
Meski sempat mendapat pandangan bahwa ekspor membutuhkan modal besar, Widyasintha memilih belajar dari pelaku usaha yang lebih berpengalaman. Ia kemudian memberanikan diri mengembangkan usaha dan menjajaki pasar yang lebih luas.
Kini, sekitar 95 persen pembelinya didominasi berasal dari luar negeri. Pesanan datang dari sejumlah wilayah di Amerika Serikat, termasuk Miami dan Florida, serta negara-negara Eropa seperti Belanda, Prancis, Jerman, dan Belgia. Ia juga pernah mengirim produk ke Malaysia dan Afrika Selatan.
Pasar Australia pun tengah dijajaki melalui rencana pengiriman yang dijadwalkan pada akhir bulan, apabila tidak mengalami penundaan.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana potensi bahan baku lokal dapat berkembang menjadi produk bernilai ekspor. Namun, menjangkau pembeli di berbagai negara bukan perkara mudah karena pengrajin juga harus menjaga kualitas, memenuhi spesifikasi pesanan, serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.
Akar Jati Bernilai Jutaan
Daya tarik kerajinan yang dibuat Widyasintha terletak pada karakter alami akar jati. Bentuknya yang tidak seragam membuat setiap bahan memiliki lekukan dan susunan berbeda, sehingga dapat menghasilkan furnitur dengan tampilan khas.
Bahan tersebut diolah menjadi beragam produk, mulai dari meja kopi, meja makan, meja konsol, kursi, lemari, hingga ornamen dekorasi. Ukuran dan bentuk akar menentukan bagaimana bahan itu dapat dimanfaatkan menjadi produk yang fungsional sekaligus memiliki nilai estetika.
Nilai jualnya pun beragam. Widyasintha menyebut produk kerajinan tertentu dijual mulai Rp 15.000 hingga Rp 20.000, sedangkan dekorasi berukuran besar dengan tinggi sekitar 2,5 meter dapat mencapai Rp 25 juta per unit.
Dalam satu kali pengiriman, produk biasanya dikirim menggunakan satu kontainer. Jumlah barang yang dimuat menyesuaikan ukuran produk, mulai ribuan item untuk barang berukuran kecil hingga ratusan unit untuk produk berukuran besar.
Untuk mendapatkan pembeli, ia memanfaatkan berbagai saluran pemasaran, mulai dari pameran hingga media sosial, terutama Instagram. Komunikasi melalui surat elektronik dan WhatsApp juga menjadi bagian penting dalam menjalin hubungan dengan calon pembeli.
Kecepatan merespons permintaan informasi turut menentukan peluang transaksi. Dalam perdagangan lintas negara, calon pembeli membutuhkan komunikasi yang baik agar spesifikasi produk, harga, dan kebutuhan pengiriman dapat dibicarakan dengan jelas.
"Terus juga kita harus fast respons ke buyer, itu harus," ujarnya.
Meski pasar internasional terbuka, perjalanan usahanya tetap menghadapi tantangan. Persyaratan legalitas kayu untuk pasar tertentu di Eropa menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Selain itu, kondisi ekonomi dan pasar di negara tujuan juga dapat memengaruhi keputusan pembeli untuk melakukan pemesanan.
Di tengah dinamika tersebut, kemampuan memenuhi pesanan menjadi faktor penting. Produk harus diselesaikan sesuai spesifikasi dan waktu yang disepakati agar kepercayaan pembeli tetap terjaga.
Artinya, peluang ekspor tidak hanya ditentukan oleh keunikan produk dan kemampuan menjangkau konsumen. Perajin juga membutuhkan proses produksi yang lancar agar pesanan dapat diselesaikan tanpa hambatan berarti.
Ketika Listrik Padam
Di tempat produksi, akar jati tidak serta-merta berubah menjadi furniture siap jual. Bahan mentah harus melalui beberapa tahapan pengerjaan dengan bantuan mesin, mulai dari pemotongan hingga pembentukan dan penghalusan.
Mesin senso digunakan untuk memotong bahan. Setelah itu, proses dilanjutkan menggunakan gerinda, mesin amplas, pasah, serut, serta peralatan lain sesuai kebutuhan bentuk produk.
Sebagian besar tahapan tersebut mengandalkan tenaga listrik. Karena belum memiliki generator set atau genset, kegiatan produksi harus berhenti ketika pasokan listrik padam.
"Semuanya pakai listrik. Jadi kalau misalnya pas listrik mati, itu tukang pasti pulang. Apalagi aku nggak punya genset. Jadi kalau listrik pas mati ya libur," ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat keberlangsungan produksi sangat bergantung pada ketersediaan energi. Ketika mesin tidak dapat digunakan, pekerja tidak bisa melanjutkan pekerjaan seperti biasa.
"Listrik mati, genah karyawan libur gitu kok," katanya.
Bagi usaha yang melayani pembeli dari berbagai negara, terhentinya pekerjaan bukan sekadar persoalan mesin yang tidak beroperasi. Waktu produksi ikut terpengaruh, sementara pesanan tetap harus diselesaikan sesuai kesepakatan.
Di sisi lain, biaya listrik menjadi salah satu komponen pengeluaran yang harus diperhitungkan. Widyasintha mengeluarkan sekitar Rp2 juta setiap bulan untuk membayar listrik, di luar kebutuhan bahan baku, upah pekerja, sewa tempat, dan biaya operasional lainnya.
"Ya pasti, soale kan tetap dihitung mulai harga belinya bahan berapa, produksinya berapa, terus sewa tempat berapa, terus tukang-tukangku berapa, terus bayar listriknya berapa. Kan juga dimasukkan beban," jelasnya.
Pengeluaran tersebut menjadi bagian dari perhitungan harga jual agar usaha tetap berjalan. Sebab, produk yang dihasilkan harus mampu menutup biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan untuk melanjutkan kegiatan usaha.
Sebaliknya, ketika pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat, produk bisa segera dikirim kepada pembeli. Perputaran modal pun dapat berlangsung lebih cepat untuk membiayai pesanan berikutnya.
"Kalau cepat selesai, cepat juga dapat uang," ujarnya.
Dari pengalaman itu, keandalan listrik memiliki arti lebih dari sekadar tersedianya energi untuk menggerakkan mesin. Bagi pengrajin, pasokan yang terjaga membantu mempertahankan ritme kerja, mendukung ketepatan waktu penyelesaian pesanan, dan menjaga kelangsungan usaha.
PLN Melihat Potensi Jati Blora
Potensi industri pengolahan kayu di Blora juga menjadi perhatian PLN. Manager PLN ULP Blora, Wardoyo, menilai ketersediaan bahan baku menjadi salah satu modal penting untuk mengembangkan usaha mebel dan kerajinan di daerah tersebut.
"Karena bahan bakunya melimpah. Kemudian, bahan baku jati di Blora itu terkenal nomor satu ya, mungkin sedunia ya," kata Wardoyo.
Menurutnya, bagian kayu yang belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk limbah pengolahan, masih dapat diolah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi. Karena itu, PLN menyatakan siap mendukung kegiatan usaha melalui pelayanan kebutuhan kelistrikan.
"Intinya, PLN siap mendukung dari sisi kelistrikan untuk menggerakkan usaha tersebut," ujarnya.
Wardoyo menjelaskan, dukungan itu antara lain diberikan melalui pelayanan pemasangan sambungan listrik baru bagi pelanggan yang membutuhkan energi untuk kegiatan produksi.
PLN akan melakukan survei untuk mengetahui kebutuhan daya dan kondisi di lokasi usaha sebelum permohonan ditindaklanjuti sesuai ketentuan.
"Kita layani kebutuhannya apa, supaya bisa segera terlayani dan bisa digunakan untuk usaha produksi tersebut," katanya.
Bagi industri yang menggunakan mesin dari tahap awal hingga akhir, kontinuitas pasokan listrik menjadi faktor penting. Gangguan pasokan dapat menghambat tahapan pekerjaan yang saling berkaitan, terlebih ketika proses produksi bergantung pada penggunaan peralatan listrik.
"Sangat-sangat penting, sangat berpengaruh sekali. Biasanya, untuk proses dari awal sampai akhir memang membutuhkan listrik yang kontinyu ya, tidak ada putus sama sekali," jelas Wardoyo.
Ia juga menilai penggunaan listrik berpotensi membantu pelaku usaha menekan biaya operasional dibandingkan penggunaan bahan bakar minyak untuk menjalankan peralatan tertentu.
"Menurut saya, sangat berpengaruh sekali, ya. Karena sebelum ada listrik itu, kalau kita menggunakan solar atau BBM, biayanya bisa tiga kali lipat dari tarif listriknya, belum perawatannya," ungkapnya.
Sementara itu, Manager PLN ULP Cepu, Lingga Putera Ramadhani, menjelaskan kebutuhan listrik sektor industri dapat berubah mengikuti jumlah pesanan. Ketika permintaan meningkat, kebutuhan energi untuk produksi juga dapat bertambah. Sebaliknya, saat pasar sedang lesu, konsumsi listrik dapat menurun.
PLN juga melayani permohonan pemasangan baru maupun perubahan daya sesuai ketentuan. Pelaku usaha yang memenuhi persyaratan sebagai pelanggan bisnis dapat mengajukan perubahan golongan tarif dengan melengkapi dokumen yang diperlukan, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB).
Meski demikian, PLN mengakui belum memiliki pemetaan terperinci mengenai seluruh pelanggan industri mebel maupun data khusus yang mengukur dampak penggunaan listrik terhadap peningkatan produktivitas setiap usaha.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dukungan kelistrikan merupakan salah satu unsur penting dalam pengembangan industri. Namun, pengukuran dampaknya terhadap peningkatan kapasitas produksi, efisiensi biaya, dan perluasan pasar masih memerlukan data serta pengalaman nyata dari pelaku usaha.
Harapan Keandalan Listrik
Bagi Widyasintha, pengembangan industri kerajinan akar jati Blora membutuhkan dukungan yang dapat dirasakan langsung oleh perajin. Pasokan listrik yang andal menjadi salah satu harapan utama agar kegiatan produksi tidak sering terhenti.
"Mugo-mugo ya jangan sering-sering mati lampu. Itu pertama. Yang kedua, semoga pelaku-pelaku usaha kayu di Blora ini kan banyak ya, mungkin kalau dijumlah ada ratusan. Siapa tahu ada tarif khusus, subsidi atau apa kepada pelaku usaha, terutama yang masih merintis," tuturnya.
Ia berharap ada perhatian terhadap kebutuhan pelaku usaha, terutama mereka yang baru mengembangkan bisnis dan masih memiliki keterbatasan modal.
Menurutnya, dukungan biaya operasional dapat membantu perajin menjaga keberlangsungan produksi dan mengembangkan usahanya.
Selain itu, Widyasintha berharap tersedia fasilitas bersama berupa oven pengering kayu berbasis listrik. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan beberapa perajin secara bergantian, sehingga mereka tidak harus membeli peralatan sendiri yang membutuhkan biaya besar.
"Kalau itu ada diperuntukkan untuk beberapa perajin, dipakai bersama malah bagus," katanya.
Harapan itu memperlihatkan bahwa pengembangan industri akar jati tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Kreativitas perajin perlu didukung oleh pasokan energi yang andal, peralatan produksi yang memadai, efisiensi biaya, serta akses pemasaran yang lebih luas.
Dari Kelurahan Jepon, Widyasintha telah menunjukkan bagaimana akar jati yang tumbuh di Blora dapat diolah menjadi produk yang menjangkau pembeli di berbagai negara. Di balik setiap furnitur yang siap dikirim, terdapat keterampilan pekerja, proses produksi yang panjang, dan mesin yang membutuhkan energi untuk terus bekerja.
Ketika listrik mengalir, mesin dapat berputar, pekerja dapat melanjutkan pekerjaan, dan pesanan dapat diselesaikan. Bagi Widyasintha dan pelaku industri kerajinan akar jati lainnya, keandalan listrik menjadi salah satu penopang agar potensi lokal tidak berhenti sebagai bahan mentah, melainkan berkembang menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar global.