Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI Syahganda Nainggolan mengatakan Presiden Prabowo Subianto mendengarkan berbagai masukan dan mengevaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Evaluasi mencakup aspek kebersihan, penyimpanan bahan pangan, hingga penguatan pengawasan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Syahganda, langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program sekaligus meminimalkan risiko keamanan pangan. Salah satu perhatian adalah memastikan bahan makanan disimpan dengan baik agar tidak rusak sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat.
Advertisement
“Sebenarnya kan Presiden mendengar (masukan) kemudian meng-adjust (mengevaluasi). Satu soal kebersihan. Sekarang digunakan pendingin-pendingin untuk menyimpan barang-barang. Jangan sampai barang-barang ayam apa segala itu bisa basi ya sehingga didistribusikan udah basi. Yang kedua itu yang namanya sistem CCTV saya sebut tadi,” kata Syahganda dalam keterangannya, Minggu (25/10/2026).
Selain kebersihan dan pengawasan melalui kamera pengawas atau CCTV, Syahganda menyoroti perubahan mekanisme kompensasi investasi bagi penyedia layanan MBG. Ia menyebut perhitungan yang sebelumnya menggunakan skema kompensasi kini diarahkan berbasis porsi makanan yang disediakan.
“Sekarang per porsi makanan. Nah itu selisihnya yang dijadikan makanan makin besar sekarang,” ujarnya.
Lakukan Evaluasi Berkala
Di sisi operasional, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menerbitkan standar operasional prosedur (SOP) pendinginan makanan yang berlaku sejak 4 September 2026. Ketentuan tersebut mengatur pengendalian suhu dan waktu, penggunaan wadah serta peralatan yang bersih, hingga pencatatan proses pendinginan sebelum makanan memasuki tahap pemorsian.
Penerapan SOP menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas dan keamanan pangan. Prosedur tersebut perlu dijalankan secara konsisten dalam penanganan makanan, mulai dari persiapan bahan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi.
Pengawasan juga diperkuat melalui pemanfaatan teknologi. Pada Oktober 2026, BGN menguji coba integrasi CCTV dari sekitar 70 SPPG ke pusat pemantauan dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sistem tersebut ditujukan untuk membantu memantau kepatuhan terhadap SOP, termasuk dalam persiapan bahan makanan, proses pengolahan, pencucian wadah makan, serta penerapan kebersihan oleh petugas.
BGN juga mengevaluasi operasional SPPG secara berkala. Berdasarkan hasil pengawasan, unit yang tidak memenuhi ketentuan dapat dikenai penghentian operasional sementara sebagai langkah korektif.
Tindak lanjut dilakukan berdasarkan tingkat permasalahan dan hasil pemeriksaan di lapangan.