Liputan6.com, Jakarta - Analis prediksi volatilitas laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi tinggi. Risiko koreksi IHSG ke depan masih membayangi.
Pekan lalu, Jumat, 16 Oktober 2026, IHSG anjlok 11,57% ke posisi 5.185. Koreksi IHSG itu membawa kinerja IHSG sepekan merosot 14,91%.
Advertisement
IHSG merosot itu berlanjut pada Senin, 19 Oktober 2026. IHSG turun 3,64% menjadi 4.996. Namun, IHSG mampu berbalik arah menguat. Sehingga kinerja IHSG sepekan pada 19-23 Oktober 2026 melonjak 4,9% ke 5.439,25.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, penguatan IHSG tersebut belum cukup memastikan pasar telah mencapai titik terendah. Kenaikan IHSG secara teknikal itu masih dapat dikategorikan sebagai pemulihan teknikal setelah tekanan jual yang signifikan.
"Konfirmasi pembentukan bottom perlu didukung oleh keberlanjutan volume pembelian, perbaikan arus dana asing, serta kemampuan IHSG mempertahankan level support. Apabila tekanan jual asing berlanjut dan ketidakpastian terkait MSCI meningkat, IHSG masih berpotensi mengalami koreksi kembali, ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Minggu (25/10/2026).
Ia menambahkan, sebaliknya apabila reformasi pasar modal berjalan efektif dan kepercayaan investor mulai pulih, peluang penguatan lanjutan IHSG tetap terbuka.
“Dengan demikian, saya cenderung melihat prospek jangka pendek IHSG secara cautiously optimistic, tetapi investor tetap perlu mengantisipasi risiko volatilitas,” ujar dia.
Nafan mengimbau agar investor tetap disiplin menerapkan manajemen risiko, mengutamakan saham dengan fundamental yang kuat. Ia juga menilai untuk menghindari keputusan pembelian yang hanya didasarkan pada asumsi koreksi tajam otomatis menandakan harga sudah murah.
Sementara itu, Direktur Infovesta, Wawan Hendrayana pernah menuturkan, saat IHSG masih bergejolak, investor sebaiknya tidak panik dan tetap menjaga kas. “Fokus saham fundamental kuat, stop loss ketat, lebih baik wait and see,” kata dia.
IHSG Sepekan Melonjak 4,9%, Investor Asing Lepas Saham Rp 6,67 Triliun
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan saham 19-23 Oktober 2026. Lonjakan IHSG sepekan ini, menurut analis terjadi di tengah ketidakpastian di pasar setelah penyedia indeks global MSCI membuka konsultasi soal potensi perubahan status pasar saham Indonesia.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu, (24/10/2026), IHSG sepekan menguat 4,9% menjadi 5.439,25 dari penutupan pekan lalu di 5.185,10. Sementara itu, kapitalisasi pasar saham melompat 4,66% menjadi Rp 9.583 triliun dari Rp 9.157 triliun pada pekan lalu.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, pergerakan IHSG pekan lalu masih diwarnai tingginya ketidakpastian pasar. Hal ini terutama setelah MSCI mengumumkan konsultasi terkait usulan reklasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
"Pengumuman itu meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek arus modal asing, likuiditas perdagangan, serta daya tarik pasar saham Indonesia di mata investor global,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.
Meski demikian, ia menuturkan, IHSG sempat mengalami technical rebound usai terkoreksi tajam pada pekan lalu. Penguatan IHSG ini menunjukkan mulai munculnya aksi beli pada saham-saham yang telah mengalami penurunan signifikan, meski belum sepenuhnya mengindikasikan pulihnya kepercayaan investor.
Terkait pengumuman MSCI, ia menilai isu ini perlu dicermati secara serius karena berpotensi menimbulkan dampak struktural terhadap pasar modal Indonesia. Apabila Indonesia benar-benar direklasifikasi menjadi Standalone Market, terdapat risiko berkurangnya alokasi dana dari investor institusi global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi.
"Kondisi tersebut berpotensi memicu penyesuaian portofolio, meningkatkan tekanan jual asing, serta menekan likuiditas dan valuasi saham-saham berkapitalisasi besar. Namun, keputusan final belum diambil. MSCI masih membuka periode konsultasi hingga 30 April 2027 dan dijadwalkan mengumumkan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027,” ujar Nafan.
Faktor Penting Memulihkan Kepercayaan Investor
Oleh karena itu, ia menegaskan, langkah konkret pemerintah, OJK, dan BEI dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham, memperbaiki keterbukaan informasi, memperkuat pengawasan transaksi, serta menegakkan aturan secara konsisten akan menjadi faktor penting dalam memulihkan kepercayaan investor.
Hal senada dikatakan Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Ia menuturkan, pengumuman usulan MSCI bagi Indonesia yang akan diturunkan dari emerging market ke standalone market di mana hal ini membuat aksi jual besar-besaran di IHSG sehingga pada awal pekan lalu sempat mengalami trading halt. Ia menuturkan, dalam hal ini, OJK beserta BEI telah merespons dan menyatakan akan melanjutkan reformasi pasar modal dan juga transparansi tata kelola.
“Pemulihan IHSG setelah koreksi tajam yang kami perkirakan merupakan relief rebound setelah ada perubahan aturan Auto Rejecton Bawah atau ARB, di mana mulai adanya aksi buyback dari emiten-emiten khususnya perbankan dan juga mulai masuknya Danantara ke IHSG,” ujar Herditya.
Keputusan BI Membayangi IHSG
Ia menambahkan, sentimen IHSG lainnya berasal dari keputusan Bank Indonesia yang masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate masih bertahan pada level 5,75% dengan ada kenaikan deposit facility menjadi 5% di tengah pelemahan nilai tukar rupiah.
Namun demikian, BI berkomitmen akan menjaga stabilitas nilai tukar dengan memperkuat instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan juga pasar spot.
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian juga melompat 13,80% menjadi 1,95 juta kali transaksi, dibandingkan 1,72 juta kali transaksi pada pekan lalu. Kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian yang menguat 25,42% menjadi Rp 20,34 triliun dari Rp 16,22 triliun pada pekan lalu.
Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian tercatat 39,96 miliar saham, merosot 9,39% dibandingkan pekan lalu 44,10 miliar saham.
Investor asing masih mencatat aksi jual saham sepanjang pekan ini. Tercatat aksi jual saham oleh investor asing mencapai Rp 6,67 triliun. Aksi jual saham oleh investor asing ini lebih besar dibandingkan pekan lalu Rp 3,19 triliun.