Trump Hapus Sebagian Tarif Kanada, Tapi Langsung Ganti Produk Lain

Jelang pemilu AS, pemerintahan Trump mencabut tarif atas sejumlah barang Kanada, namun langsung menggantinya dengan daftar tarif baru untuk produk lain.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 24 Oktober 2026, 17:00 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Ruang Oval, Gedung Putih, pada 19 September 2025. (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Jakarta - Gedung Putih mengumumkan pencabutan tarif atas sebagian barang asal Kanada pada Jumat (23/10/2026). Namun, pada saat bersamaan, pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diam-diam menambahkan tarif baru untuk kelompok produk Kanada lainnya.

Langkah ini terungkap setelah Senator Susan Collins dari Partai Republik lebih dulu mengklaim "kemenangan" kepada publik. Ia menyatakan telah berhasil mendesak pemerintahan Trump untuk menghapus tarif atas sejumlah produk yang dianggap vital bagi industri di negara bagiannya, Maine.

"Presiden mengambil tindakan sebagai respons atas diskriminasi berkelanjutan dari Kanada dan pembalasan tambahan yang menyasar perdagangan AS, dengan tujuan melindungi petani, produsen, dan pekerja Amerika," kata juru bicara Gedung Putih, Matthew Middleton, dikutip dari CNBC, Sabtu (24/10/2026).

Sayangnya, pengumuman Collins—yang pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal—tidak membeberkan satu fakta penting. Kurang dari satu jam setelah Collins mempromosikan keberhasilannya, Gedung Putih justru merilis daftar tarif baru untuk produk Kanada lainnya.

Artinya, meski sebagian tarif memang dihapus, pemerintahan Trump langsung menambalnya dengan tarif baru. Trump sendiri telah menandatangani proklamasi penghapusan sejumlah produk dari daftar tarif 50 persen yang diterapkan sejak musim panas lalu.

Berdasarkan lembar fakta resmi Gedung Putih, barang-barang yang dihapus tersebut digantikan oleh produk seperti katup, karpet, limbah tertentu, serta barang lainnya. Perubahan aturan ini dijadwalkan berlaku mulai 30 Oktober, tepat empat hari sebelum pemilu AS digelar pada 3 November.

Sebelum lembar fakta resmi diterbitkan Gedung Putih, kantor Collins sudah lebih dulu menyebarkan siaran pers. Siaran tersebut mengklaim keberhasilannya mengamankan pengecualian tarif untuk sembilan kategori produk yang krusial bagi para petani di Maine.

 

Klaim Collins Langsung Disemprot Lawan Politik

Klaim ini dilontarkan saat warga Maine mulai memberikan suara dalam pemilihan Senat yang berlangsung ketat. Kebijakan tarif Trump yang tidak populer memang menjadi salah satu topik paling panas yang diperdebatkan dalam kontestasi tersebut.

Lawan politik Collins dari Partai Demokrat, Troy Jackson, dengan cepat membantah klaim tersebut. Menurut Jackson, Collins justru patut disalahkan karena terus mendukung kebijakan tarif Trump yang dinilai merugikan masyarakat Maine.

"Perang dagang Trump telah membuat hidup warga Maine makin sulit dan mahal. Susan Collins memberi ruang bagi kekacauan ini, dan kini ingin mendapat pujian hanya karena membawa secangkir air untuk memadamkan api," tegas Jackson.

Ini bukan kali pertama Collins mengklaim keberhasilan melawan kebijakan tarif Trump. Dalam debat televisi pertamanya pada 6 Oktober lalu, Collins sempat mengaku berhasil mendesak penghapusan tarif beberapa barang, termasuk garam untuk jalan raya.

Saat itu, Jackson membalas dengan sindiran tajam, "Bagaimana dengan barang lainnya? Kita tidak bisa makan garam jalan."

 

Produk yang Bebas Tarif

Maine sendiri menjadi salah satu negara bagian yang paling terpukul oleh kebijakan tarif Trump terhadap Kanada. Pasalnya, Maine mengimpor produk dari Kanada dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan negara bagian lainnya.

Collins mengaku telah meminta Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, serta Menteri Perdagangan, Howard Lutnick, untuk memberikan keringanan tarif bagi produk-produk khas Maine.

Produk yang akhirnya dibebaskan dari tarif tersebut meliputi kertas bergelombang, kotak dan kantong kemasan plastik, peralatan pendingin, berbagai jenis mesin, hingga produk rumput laut dan alga.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya