Liputan6.com, Jakarta - Perbedaan daya beli masyarakat di berbagai negara terlihat dari lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membeli bahan pangan pokok. Di Irlandia, cukup 1,2 jam kerja. Sementara di Afrika Tengah, warga perlu bekerja sekitar 30 hari.
Perbedaan tersebut terungkap dalam laporan Price Shocks 2026 yang dirilis organisasi kemanusiaan World Vision. Laporan ini membandingkan biaya keranjang berisi 10 bahan pangan pokok dengan pendapatan rata-rata masyarakat di berbagai negara. Keranjang tersebut mencakup pisang, beras, tepung, gula, jagung, telur, minyak goreng, ayam, tomat, dan susu.
Advertisement
Finlandia juga termasuk negara dengan pangan yang relatif terjangkau. Penduduknya membutuhkan sekitar 1,7 jam kerja untuk membeli keranjang tersebut. Sementara itu, warga Malawi harus bekerja sekitar 20,4 hari.
Direktur Senior bidang Pangan, Bantuan Tunai, dan Pasar di World Vision International, Paul Kinuthia menjelaskan alasan waktu kerja digunakan sebagai ukuran keterjangkauan pangan.
"Kami memilih indikator ini karena membuat keterjangkauan pangan menjadi sesuatu yang bisa dipahami orang," kata Kinuthia, dikutip dari media Spanyol, EL PAIS, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, angka inflasi terkadang terasa abstrak bagi masyarakat. Namun, orang akan lebih mudah memahami beratnya persoalan ketika harus bekerja seharian atau bahkan beberapa hari hanya untuk membeli makanan bergizi.
Rata-rata Butuh 4,3 Hari Kerja
Secara keseluruhan, masyarakat di 56 negara yang masuk dalam analisis membutuhkan rata-rata 34,3 jam kerja atau sekitar 4,3 hari kerja untuk membeli satu keranjang pangan pokok. Angka ini turun dari sekitar 4,9 hari kerja pada 2024.
Meski demikian, penurunan rata-rata tersebut tidak berarti persoalan pangan telah teratasi. Di sejumlah negara, masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan makanan bergizi akibat konflik, perubahan iklim, inflasi, dan kondisi ekonomi yang rapuh.
"Jutaan keluarga bekerja lebih keras dari sebelumnya, tetapi tetap tidak mampu membeli makanan bergizi," ujar Kinuthia.
Ia menjelaskan, pedagang pasar, pekerja pertanian, hingga buruh harian yang memiliki pekerjaan pun bisa menghadapi pilihan sulit, yaitu membeli makanan bergizi, membayar biaya sekolah anak, atau memenuhi kebutuhan kesehatan. Kondisi ini berisiko menghambat tumbuh kembang anak dan memperburuk masalah kekurangan gizi.
Harga Pangan Naik di Puluhan Negara
Laporan tersebut juga membandingkan perubahan biaya keranjang pangan pada periode 2024–2026. Dari 47 negara yang memiliki data pembanding, biaya keranjang pangan meningkat di 33 negara, dengan kenaikan rata-rata 28,3%.
Zimbabwe mencatat kenaikan tertinggi sebesar 123%, disusul Malawi sebesar 112%, China sebesar 79%, Zambia sebesar 61%, dan Ukraina sebesar 52%.
Kenaikan harga dipengaruhi berbagai tekanan, mulai dari konflik bersenjata dan kekeringan akibat perubahan iklim hingga pelemahan mata uang dan inflasi. Gangguan pasokan serta kenaikan biaya energi dan pupuk juga dapat menambah beban harga pangan.
Sebaliknya, Sudan mencatat penurunan biaya keranjang pangan sebesar 36%. Namun, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan kondisi masyarakat membaik. Konflik dan gangguan pasar masih memperburuk kerawanan pangan di negara itu.
Keluarga Terpaksa Mengurangi Porsi Makan
Di balik angka-angka tersebut, kenaikan harga pangan berdampak langsung pada kehidupan keluarga. Sebagian orang terpaksa mengurangi porsi makan, membeli bahan pangan yang lebih murah, atau mengurangi konsumsi makanan bergizi.
Dalam laporan tersebut, Marisol dari Guatemala menceritakan bahwa keluarganya masih mengonsumsi jenis makanan yang sama, tetapi dengan jumlah yang lebih sedikit. Daging semakin sulit dibeli karena harganya mahal, sementara harga ayam dapat berubah dari minggu ke minggu.
Kondisi serupa dialami Khin, seorang ibu dari delapan anak di Myanmar. Ketika persediaan makanan terbatas, anak-anaknya terkadang hanya makan bubur nasi.
Kisah-kisah tersebut menggambarkan bagaimana kenaikan harga tidak hanya membebani pengeluaran rumah tangga, tetapi juga dapat memengaruhi kecukupan gizi anak.