Liputan6.com, Jakarta - Harga emas yang dipasarkan melalui Pegadaian untuk produk Galeri24, Antam, dan UBS menunjukkan perbedaan pada Kamis (22/10/2026). Berdasarkan laman Pegadaian, harga emas Galeri24 berada di level Rp 2.499.000 per gram, Antam Rp 2.589.000 per gram, dan UBS Rp 2.524.000 per gram.
Harga tersebut dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pembaruan dari Pegadaian. Karena itu, calon pembeli sebaiknya memeriksa harga terbaru sebelum melakukan transaksi.
Advertisement
Ketiga produk emas tersebut tersedia dalam pilihan berat yang berbeda. Galeri24 menawarkan emas mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. Sementara itu, emas UBS tersedia mulai dari 0,5 gram hingga 500 gram, sedangkan emas Antam tersedia hingga ukuran 100 gram.
Perbedaan pilihan berat ini dapat menjadi pertimbangan bagi masyarakat yang ingin membeli emas sesuai anggaran dan kebutuhan investasi. Selain harga per gram, pembeli juga perlu memperhatikan harga untuk setiap ukuran karena nilai total pembelian berbeda-beda.
Berikut daftar lengkap harga emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian berdasarkan data yang tersedia.
Daftar Harga Emas Galeri24
- 0,5 gram: Rp 1.311.000
- 1 gram: Rp 2.499.000
- 2 gram: Rp 4.938.000
- 5 gram: Rp 12.254.000
- 10 gram: Rp 24.443.000
- 25 gram: Rp 60.778.000
- 50 gram: Rp 121.460.000
- 100 gram: Rp 242.799.000
- 250 gram: Rp 605.507.000
- 500 gram: Rp 1.211.014.000
- 1.000 gram: Rp 2.422.026.000
Daftar Harga Emas Antam
- 0,5 gram: Rp 1.345.000
- 1 gram: Rp 2.589.000
- 2 gram: Rp 5.116.000
- 3 gram: Rp 7.649.000
- 5 gram: Rp 12.713.000
- 10 gram: Rp 25.370.000
- 25 gram: Rp 63.298.000
- 50 gram: Rp 126.515.000
- 100 gram: Rp 252.951.000
Daftar Harga Emas UBS
- 0,5 gram: Rp 1.364.000
- 1 gram: Rp 2.524.000
- 2 gram: Rp 5.008.000
- 5 gram: Rp 12.374.000
- 10 gram: Rp 24.618.000
- 25 gram: Rp 61.424.000
- 50 gram: Rp 122.595.000
- 100 gram: Rp 245.091.000
- 250 gram: Rp 612.548.000
- 500 gram: Rp 1.223.658.000
Harga Emas Dunia Stabil, Investor Tunggu Keputusan The Fed
Harga emas dunia bergerak stabil di dekat level terendah dalam sepekan pada perdagangan Rabu. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi akibat ketegangan di Timur Tengah.
Sementara itu, investor mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, pada pekan depan.
Mengutip CNBC, Kamis (22/10/2026), harga emas di pasar spot naik 0,3% menjadi US$ 4.136,22 per ons pada pukul 13.55 waktu setempat atau EDT, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 15 Oktober pada perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,2% menjadi US$ 4.152,60 per ons.
Wakil Presiden sekaligus Kepala Strategi Logam di Zaner Metals, Peter Grant, menilai pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini. Namun, kenaikan tersebut kemungkinan baru terjadi pada Desember.
“Saya pikir pasar saat ini memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, tetapi kemungkinan baru terjadi pada Desember. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober telah turun cukup signifikan,” kata Grant.
Ia menambahkan, harga emas diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas untuk sementara waktu, dengan kecenderungan masih melemah.
Menunggu Pengumuman The Fed
Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan kebijakan The Fed pada 27–28 Oktober serta laporan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis pekan depan. Kedua agenda tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Desember mencapai 88%.
Hampir seluruh ekonom yang disurvei memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini sebelum menaikkannya pada Desember. Bank sentral AS diperkirakan memilih bersikap hati-hati meskipun tekanan inflasi masih bertahan dan berpotensi mendorong kebijakan yang lebih agresif.
Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena investor cenderung memilih aset yang memberikan imbal hasil.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran US$ 108 per barel pada Rabu. Pernyataan Iran turut meredupkan harapan tercapainya terobosan diplomatik dengan Amerika Serikat.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena berpotensi menambah tekanan inflasi dan memengaruhi keputusan kebijakan moneter bank sentral.