Liputan6.com, Ottawa - Mayoritas pemilih di Provinsi Alberta, wilayah kaya minyak di Kanada, menolak usulan untuk memulai proses pemisahan dari negara tersebut. Hasil referendum yang diumumkan pada Selasa (20/10/2026) ini menjadi kabar baik bagi Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang berupaya memperkuat persatuan nasional di tengah perang dagang dan ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mencaplok Kanada.
Berdasarkan hasil sementara yang belum resmi dari penyelenggara pemilu Elections Alberta, sebanyak 75 persen pemilih mendukung Alberta tetap menjadi bagian dari Kanada. Sementara itu, 25 persen lainnya mendukung dimulainya proses menuju kemungkinan pemisahan. Hasil tersebut diperoleh setelah lebih dari 1,9 juta suara dihitung, dengan laporan masuk dari 90 persen wilayah dan lokasi pemungutan suara.
Advertisement
Referendum yang digelar pada Senin (19/10) itu bukan pemungutan suara untuk menentukan apakah Alberta langsung merdeka dari Kanada. Jika usulan tersebut disetujui, Alberta akan memulai proses menuju referendum berikutnya yang secara khusus membahas pemisahan dari Kanada.
"Ini hasil yang sangat baik bagi Kanada karena warga Alberta telah memilih persatuan," kata Carney kepada wartawan pada Selasa, sebelum menghadiri rapat kabinet di Ottawa.
Carney mengatakan sekitar seperempat pemilih yang mendukung dimulainya proses pemisahan belum tentu benar-benar menginginkan Alberta merdeka. Menurutnya, kemungkinan hanya sebagian kecil pendukung garis keras yang ingin provinsi tersebut meninggalkan Kanada.
Sejumlah pemilih bahkan mengaku mendukung usulan itu bukan karena ingin memisahkan diri, melainkan untuk menyampaikan ketidakpuasan mereka kepada pemerintah federal di Ottawa.
Kelompok Separatis Akui Kekalahan, Pemerintah Alberta Tak Akan Gelar Referendum Lagi
Pendiri kelompok separatis Take Back Alberta, David Parker, mengakui besarnya kekalahan yang dialami kelompok pendukung kemerdekaan.
"Kemerdekaan tampaknya masih jauh, dan kita tidak seharusnya berpura-pura bahwa ini bukan kekalahan," tulis Parker di media sosial.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa malam, Kepala Pemerintahan Provinsi Alberta, Danielle Smith, menyambut hasil referendum tersebut. Ia berjanji tidak akan menggelar referendum pemisahan lainnya selama masih menjabat.
"Kemarin, warga Alberta memberikan dukungan yang sangat besar untuk tetap menjadi provinsi di Kanada," kata Smith.
"Tingkat partisipasi pemilih mencatat sejarah dan menjadi bukti kuat betapa besarnya kecintaan warga Alberta terhadap negara dan provinsi mereka."
Smith menegaskan pemerintah Alberta akan terus memperjuangkan kewenangan yang lebih luas dari pemerintah federal di Ottawa. Namun, berbagai perselisihan akan diselesaikan melalui lembaga politik dan hukum yang berlaku di Kanada, bukan dengan memisahkan diri.
Sementara itu, Carney mengatakan telah berbicara dengan Smith pada Selasa pagi mengenai hasil referendum dan peningkatan kerja sama antara pemerintah federal dan pemerintah provinsi, termasuk dalam urusan imigrasi.
"Jangan macam-macam dengan Kanada. Presiden Trump sedang memperhatikan ini," ujar Thomas Lukaszuk, mantan wakil kepala pemerintahan Alberta yang memimpin kampanye Forever Canadian untuk menentang pemisahan, kepada para pendukungnya.
Kelompok Separatis Alberta Tetap Perjuangkan Kemerdekaan
Alberta merupakan wilayah yang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar keempat di dunia. Provinsi yang dikenal dengan budaya koboi ini juga menjadi basis kuat kelompok konservatif. Budaya politiknya sejak lama memiliki lebih banyak kesamaan dengan wilayah barat AS dibandingkan sebagian besar wilayah Kanada lainnya.
Ketidakpuasan terhadap pemerintah federal di Ottawa telah lama mengakar di Alberta. Namun, sentimen tersebut selama ini tidak berkembang menjadi dukungan luas terhadap kemerdekaan.
Meski usulan pemisahan ditolak mayoritas pemilih, para pemimpin gerakan separatis bertekad untuk terus memperjuangkan kemerdekaan Alberta.
Mantan Kepala Pemerintahan Alberta Jason Kenney mengatakan partai-partai separatis sebelumnya hanya memperoleh sekitar satu hingga dua persen suara dalam pemilu.
Menurut Kenney, kemarahan terhadap pembatasan selama pandemi COVID-19 telah mendorong sejumlah aktivis bergerak dan menggalang dukungan. Para aktivis tersebut kemudian bergabung dengan gerakan separatis.
Di sisi lain, perang dagang Trump dan ancamannya untuk menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS turut membantu Carney menggalang dukungan di Alberta, wilayah yang secara historis kurang mendukung perdana menteri dari Partai Liberal.
Ketika hasil penghitungan suara mulai diumumkan, suasana pertemuan kelompok separatis di sebuah restoran di Edmonton mendadak hening. Para pendukung gerakan tersebut berkumpul untuk menyaksikan hasil referendum.
"Kami tidak akan pergi ke mana-mana," kata Jeff Rath dari kelompok Alberta Prosperity Project.
"Selama setahun terakhir, kami telah mendominasi perbincangan. Kami telah memberikan pemahaman kepada warga Alberta mengenai manfaat kemerdekaan, dan kami akan terus melanjutkan perjuangan ini."
Sebelum pemungutan suara, Rath mengatakan dirinya akan sangat senang jika dukungan terhadap pemisahan mencapai 30 persen.
Ia juga menginginkan Smith dicopot dari jabatan pemimpin Partai Konservatif Bersatu (UCP). Rath meyakini partai tersebut berpotensi terpecah, yang kemudian dapat membuka jalan bagi pembentukan partai baru pendukung kemerdekaan.
Namun, Ian Brodie, ilmuwan politik dari University of Calgary sekaligus mantan kepala staf Perdana Menteri Kanada dari Partai Konservatif Stephen Harper, meremehkan pengaruh Rath dan tokoh separatis lainnya, Mitch Sylvestre.
Brodie menyebut keduanya sebagai orang-orang yang tidak memiliki pengaruh berarti. Menurutnya, mereka bahkan gagal memperoleh dukungan kuat di sebuah daerah pemilihan yang pernah mengantarkan seorang tokoh separatis menjadi anggota parlemen Provinsi Alberta pada 1982.
"Bahkan untuk pertanyaan yang sangat ringan, yakni apakah perlu menggelar referendum tentang pemisahan, mereka tetap tidak mampu memperoleh dukungan yang berarti," kata Brodie.
Beda Pendapat soal Referendum
Seorang pemilih di Edmonton, Shawn Campbell, mengaku mendukung dimulainya proses pemisahan meskipun sebenarnya tidak ingin Alberta meninggalkan Kanada.
"Ini mengirimkan pesan kepada Ottawa bahwa warga Alberta tidak senang," tegasnya.
Sementara itu, Dave Malka (59), warga Edmonton, mengkritik penggunaan anggaran untuk menggelar referendum yang hanya menentukan apakah proses menuju pemungutan suara tentang pemisahan Alberta perlu dimulai. Menurutnya, dana tersebut lebih baik digunakan untuk layanan kesehatan.
Di tengah ancaman Trump terhadap Kanada, Malka menilai referendum tersebut berlangsung pada waktu yang sangat tidak tepat.
"Ini tampaknya terjadi pada saat yang paling buruk, ketika kita seharusnya bersatu. Sebaliknya, kita justru saling bertikai," ujarnya.
Warga Edmonton lainnya, Ali Khowaja, yang berimigrasi ke Kanada enam tahun lalu, menyambut baik hasil referendum tersebut. Ia mengaku lega karena Alberta memilih tetap bersatu dengan Kanada, alih-alih mengalami perpecahan seperti Brexit, yakni keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
"Selama bertahun-tahun, kita telah melihat konsekuensi dan dampak dari peristiwa itu," katanya.
"Saya sempat khawatir, terutama sebagai seseorang yang berimigrasi ke Kanada."