Perempuan di Balik Aksi Greenpeace di Bundaran HI, Ketika Suara tentang Lingkungan dan Hak Publik Disuarakan dari Ketinggian

Menilik suara perempuan di balik aksi nyata Greenpeace suarakan lingkungan dan hak publik

oleh Vinsensia DianawantiDiterbitkan 20 Oktober 2026, 19:00 WIB
Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI, Soroti Krisis Iklim

Liputan6.com, Jakarta - Pemandangan tak biasa terlihat di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). Enam orang aktivis Greenpeace Indonesia menaiki Monumen Selamat Datang dan membentangkan spanduk berukuran besar sebagai bentuk penyampaian aspirasi terkait persoalan lingkungan dan isu publik yang tengah menjadi perhatian masyarakat. Aksi tersebut menjadi sorotan karena dua aktivis perempuan memilih tetap bergantung di struktur patung selama berjam-jam agar pesan yang dibawa Greenpeace dapat terus terlihat oleh masyarakat yang melintas.

Berada di ketinggian dengan tali pengaman, para perempuan tersebut harus bertahan menghadapi panas matahari sekaligus kondisi udara Jakarta yang penuh polusi. Aktivis yang berada di atas patung kemudian dievakuasi menggunakan tali rescue setelah beberapa di antaranya terlihat lemas. Salah satu aktivis perempuan disebut mulai turun sekitar pukul 10.30 WIB dan kemudian dibawa ke ambulans untuk mendapatkan penanganan.

Aksi tersebut pun memunculkan beragam respons di media sosial. Di tengah perdebatan mengenai isu yang disuarakan, keberanian para aktivis perempuan yang bertahan di atas patung menjadi salah satu aspek yang mendapatkan perhatian dan apresiasi dari warganet.

 

Ketika Perempuan Mengambil Ruang dalam Perjuangan Lingkungan

Aktivis Greenpeace Indonesia bergelantungan di Patung Selamat Datang sambil membentangkan poster berisi pesan protes di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Aksi tersebut digelar bertepatan dengan dua tahun pelantikan Presiden Prabowo Subianto. Para aktivis mendesak pemerintah mengambil langkah untuk mengatasi krisis iklim yang kian memburuk dan kenaikan biaya hidup. (BAY ISMOYO/AFP)

Apa yang dilakukan para aktivis Greenpeace tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan terhadap isu lingkungan dan sosial tidak hanya berlangsung melalui ruang-ruang formal. Jalanan, ruang publik, hingga media sosial dapat menjadi arena bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.

Keterlibatan perempuan dalam gerakan lingkungan sendiri bukan fenomena baru. Kajian mengenai politik lingkungan dan aktivisme perempuan menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran dalam berbagai bentuk partisipasi publik, mulai dari keterlibatan dalam organisasi lingkungan hingga gerakan sosial yang memperjuangkan keadilan lingkungan. Literatur tentang gender and environmental politics bahkan melihat keterlibatan perempuan di ruang publik sebagai salah satu bagian penting dalam memahami bagaimana isu lingkungan diperjuangkan.

Dalam konteks perubahan iklim, Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mencatat adanya hubungan antara kepemimpinan perempuan dan tindakan terhadap perubahan iklim. Perempuan tidak hanya menjadi kelompok yang terdampak oleh krisis iklim, tetapi juga berperan sebagai penggerak aksi dan solusi di berbagai tingkatan.

Hal tersebut terasa relevan ketika isu lingkungan bersinggungan dengan persoalan sosial dan politik. Kebakaran hutan, kerusakan ekosistem, pengelolaan sumber daya alam, hingga kebijakan pembangunan pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat.

 

Kekuatan Perempuan dalam Gerakan Sosial

Menilik suara perempuan di balik aksi nyata Greenpeace suarakan lingkungan dan hak publik (@greenpeaceid)

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi besar dalam membangun gerakan yang berangkat dari komunitas. Penelitian mengenai gerakan perempuan dan aktivisme lingkungan di India, misalnya, melihat bagaimana perempuan menggunakan pengalaman sehari-hari serta pengetahuan ekologis untuk memperjuangkan isu ketimpangan iklim, hak atas lahan, dan tata kelola lingkungan.

Kekuatan tersebut juga dapat muncul melalui kemampuan membangun jaringan dan kolaborasi. Laporan UNDP mengenai kepemimpinan perempuan dalam konteks perubahan sosial menemukan bahwa organisasi yang dipimpin perempuan berperan dalam memperkuat partisipasi, membangun koalisi, mendorong akuntabilitas institusi, serta melakukan advokasi berbasis bukti.

Dalam isu lingkungan, peran tersebut semakin penting karena dampak perubahan iklim kerap bersinggungan dengan persoalan ketidaksetaraan. UN Women menyoroti bahwa perempuan berada di garis depan dalam menghadapi sekaligus merespons dampak perubahan iklim, meski kontribusi tersebut masih sering kurang terlihat. 

Reuters Events juga secara konsisten menyoroti perempuan yang berada di garis depan aksi iklim, mulai dari aktivis, ilmuwan, pembuat kebijakan hingga pemimpin bisnis. Dalam laporan Trailblazing Women in Climate, sejumlah pemimpin perempuan menekankan pentingnya kolaborasi lintas komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk menghasilkan perubahan yang lebih nyata. 

Bahkan, penelitian mengenai kepemimpinan politik perempuan menemukan indikasi bahwa kehadiran perempuan dalam posisi pengambilan keputusan dapat berkaitan dengan hasil kebijakan lingkungan yang lebih baik. Studi terhadap pemilihan kepala daerah di Brasil, misalnya, menemukan bahwa daerah yang dipimpin perempuan mengalami penurunan emisi gas rumah kaca dibandingkan daerah dengan pemimpin laki-laki dalam desain penelitian tersebut.

 

Dari Aksi di Jalan hingga Perubahan Kebijakan

Seorang personel militer Indonesia memanjat Patung Selamat Datang untuk menurunkan aktivis Greenpeace Indonesia yang melakukan aksi protes di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Aksi tersebut digelar bertepatan dengan dua tahun pelantikan Presiden Prabowo Subianto. Para aktivis mendesak pemerintah mengambil langkah nyata untuk mengatasi krisis iklim yang kian memburuk serta kenaikan biaya hidup. (BAY ISMOYO/AFP)

Apa yang terjadi di Bundaran HI pada akhirnya menjadi pengingat bahwa suara masyarakat dapat mengambil banyak bentuk. Ada yang menyuarakan aspirasi melalui riset, petisi, diskusi publik, media sosial, maupun keterlibatan langsung dalam aksi. Para aktivis perempuan yang bergantung di Monumen Selamat Datang memilih bentuk aksi yang secara visual sulit untuk diabaikan.

Namun, kekuatan sebuah gerakan tidak berhenti pada seberapa mencolok aksi tersebut terlihat. Penelitian tentang gerakan sosial menunjukkan bahwa aksi publik dapat membangun perhatian, memperluas partisipasi, dan mendorong perubahan sosial dalam jangka panjang. Efektivitasnya juga sangat bergantung pada kemampuan gerakan membangun dukungan serta menerjemahkan perhatian publik menjadi tekanan dan perubahan yang lebih konkret.

Di era ketika isu lingkungan semakin sulit dipisahkan dari persoalan ekonomi, kesehatan, hak masyarakat, dan kebijakan publik, keterlibatan perempuan menjadi semakin penting. Mereka bukan sekadar peserta dalam gerakan sosial, tetapi juga dapat menjadi penggerak, pengorganisasi, komunikator, hingga pengambil keputusan.

Dari ketinggian Monumen Selamat Datang, para perempuan Greenpeace hari itu membawa satu pesan yang sederhana namun kuat: ketika ruang untuk bersuara tersedia, perempuan memiliki kekuatan untuk mengisinya—dan membuat isu yang mereka perjuangkan terlihat, terdengar, serta diperbincangkan lebih luas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya