Laporan Liputan6.com dari Makau: Menyusuri Satu-satunya Masjid di Kota Kasino

Di dalam masjid, udara terasa sejuk. Lantainya yang dingin membuat saya betah berlama-lama.

oleh SupriatinDiterbitkan 20 Oktober 2026, 09:11 WIB
Masjid di Makau (Supriatin/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Bus yang saya tumpangi berhenti di sisi kiri jalan pada 14 Oktober 2026, pukul 11.00. Tak sampai semenit berjalan kaki, saya tiba di sebuah kompleks masjid.

Di bagian atas kiri gerbang tertulis Macau Mosque and Cemetery. Di sisi kanannya, nama yang sama terpampang dalam bahasa Portugis. Mesquita e Cemitério de Macau.

Begitu melangkah masuk, suasana terasa teduh. Pepohonan tumbuh di berbagai sudut kompleks. Daun-daunnya bergoyang diterpa angin siang. Udara sejuk menyambut saya dari balik gerbang.

Tak jauh dari sana, seorang petugas duduk di pos jaga. Dia mengingatkan pengunjung agar mematuhi aturan selama berada di kompleks masjid. Dua petugas lain berjaga di dekat bangunan masjid. Handy talky terselip di saku kiri mereka.

Saya berbincang dengan salah satu petugas, Dip. Berasal dari Pakistan, dia cukup fasih berbahasa Melayu karena pernah bekerja di Malaysia.

Lebih dari setahun bertugas di kompleks itu, Dip melihat masjid bukan hanya menjadi tempat ibadah dan berkumpul warga muslim di Makau. Wisatawan dari berbagai negara juga datang berkunjung.

“Kalau wisatawan asing, lebih banyak asal Indonesia yang datang ke masjid ini,” katanya.

Saya kemudian bergeser ke sisi kiri kompleks. Di sana terbentang pemakaman Muslim. Sejumlah makam tampak telah berusia sangat tua. Bahkan disebut ada yang sudah ratusan tahun.

Saya lalu berjalan ke bagian belakang masjid. Tempat wudu perempuan berada di sana. Sementara tempat wudu laki-laki terletak di sisi kanan bangunan.

Di dalam masjid, udara terasa sejuk. Lantainya yang dingin membuat saya betah berlama-lama. Dua rak buku berdiri di sisi kiri dan kanan mimbar khotbah. Lampu dan kipas angin menggantung di plafon.

Bangunan itu didominasi warna putih. Pintu dan jendelanya berwarna hijau. Ukurannya tak besar. Sekitar 6,5 × 12 meter atau kurang lebih 78 meter persegi. Jika dibandingkan dengan masjid-masjid di Indonesia, ukurannya mungkin lebih menyerupai musala.

Kunjungan ini merupakan bagian dari perjalanan saya ke Makau bersama AirAsia dan Macao Government Tourism Office (MGTO). Saya berangkat dari Indonesia pada 11 Oktober dan sempat transit di Kuala Lumpur, Malaysia, sebelum melanjutkan penerbangan ke Makau.

Ruang Singgah Muslim di Tengah Gemerlap Makau

Masjid di Makau (Supriatin/Liputan6.com)

Murni, warga Indonesia yang telah 26 tahun menetap di Makau, mengatakan masjid itu kerap dikunjungi warga setempat maupun wisatawan. Terutama pada siang hari saat Zuhur.

Di tengah gemerlap kasino yang menjadi salah satu wajah kota, bangunan ini menjadi satu-satunya masjid di Makau.

“Satu-satunya masjid di sini ya ini,” ujar Murni.

Wisatawan Indonesia, Annisa, sempat singgah dan salat di Masjid Makau. Selama berada di kota itu, dia biasanya salat Zuhur dan Asar di dalam bus, lalu salat Magrib dan Isya di hotel.

Karena itu, dia merasa berbeda saat menemukan masjid dan bisa beribadah di dalamnya.

“Nemu masjid dan akhirnya salat di sana itu different feeling. Jadi lebih meresapi, lebih intimate, dan lebih bersyukur,” kata Annisa.

Sejarah Masjid Makau

Masjid di Makau (Supriatin/Liputan6.com)

Catatan Macau Memory menyebut pemakaman Islam sebagai salah satu pemakaman tertua di Makau. Pemakaman itu diperkirakan berasal dari abad ke-18.

Catatan yang sama juga menyebut lahan untuk pemakaman umum Muslim dan masjid kecil dibeli pada 1854. Pembelinya adalah Jeraz Manjee dari Cojak Muslims & Co. Namun, sejarawan Luís Cunha mencatat masjid dan pemakaman itu dibangun pada 1851.

Sumber lain menyebut kompleks masjid dan pemakaman Muslim Makau telah ada sekitar 1774. Catatan itu berasal dari King Faisal Center for Research and Islamic Studies. Kompleks tersebut dikenal sebagai Moluo yuan, atau “Taman Moor”.

Kantor Pariwisata Pemerintah Makau mengaitkan pendirian masjid dengan Muslim yang bertugas dalam tentara Portugis. Mereka direkrut dari wilayah seperti Goa dan Mumbai. Bangunan masjid yang berdiri sekarang disebut dibangun pada awal 1980-an.

Kajian King Faisal Center menyebut saat ini ada sekitar 10.000 Muslim di Makau. Termasuk pekerja migran dari Asia Tenggara dan komunitas yang telah menetap lintas generasi.

Bagi wisatawan Muslim, masjid ini menjadi tempat untuk singgah dan menunaikan salat di tengah perjalanan. Di kota yang dikenal dengan gemerlap kasinonya, ruang kecil itu punya arti besar bagi mereka yang datang mencarinya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya