Prancis Dilanda Kerusuhan Hebat, Presiden Macron Murka

Presiden Emmanuel Macron mengecam keras kerusuhan hebat yang melanda Prancis, menyebutnya tidak dapat dibenarkan.

oleh Septian DenyDiterbitkan 19 Oktober 2026, 08:00 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron (AP/Phillipe Wojazer)

Liputan6.com, Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Minggu mengecam aksi kekerasan yang terjadi dalam demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di berbagai wilayah negara itu sepanjang akhir pekan. Ia menyebut kekerasan tersebut tidak dapat dibenarkan, sementara polisi kembali bentrok dengan para demonstran dan penjarah di Paris.

Dikutip dari Euronews, Senin (19/10/2026), hampir 2.400 orang ditangkap pada Sabtu menyusul kerusuhan yang menjadi salah satu aksi kekerasan perkotaan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan hampir 1.000 polisi dan anggota gendarmerie terluka, dengan tujuh di antaranya mengalami luka serius.

Dalam pidato yang disampaikan kepada seluruh rakyat Prancis, Macron mengatakan pemerintah daerah dapat melarang sejumlah aksi unjuk rasa dalam beberapa hari mendatang jika diperlukan. Namun, ia tidak mengumumkan langkah-langkah drastis, seperti pemberlakuan keadaan darurat atau jam malam.

"Malam ini, kita semua merasakan kemarahan dan rasa malu," kata Macron, merujuk pada kerusakan akibat demonstrasi, termasuk gedung balai kota yang terbakar serta ratusan tempat usaha yang dijarah atau dirusak.

"Melihat gambar-gambar ini, kita semua bertanya pada diri sendiri: apa yang ada dalam pikiran mereka? Bagaimana mungkin orang Prancis melakukan hal ini terhadap Prancis?" ujar Macron.

Ia menegaskan, pemerintah harus membedakan para demonstran yang menyampaikan "tuntutan yang sah" dengan mereka yang "menghancurkan, merusak, dan menjarah".

Macron berjanji aparat akan bertindak tanpa kompromi terhadap para penghasut dari kelompok sayap kiri ekstrem yang bergabung dengan sejumlah pelaku kriminal dan "melepaskan kekerasan yang tak terkendali di kota-kota kita".

Bentrokan dan Penjarahan Berlanjut

Jurnalis AFP melaporkan, polisi pada Minggu menembakkan gas air mata dan granat kejut ke arah ratusan orang yang berkumpul di sebuah alun-alun di Paris. Aksi itu terjadi setelah seruan berkumpul beredar di media sosial, meskipun pihak berwenang menyatakan pertemuan tersebut tidak mendapat izin.

Para demonstran melemparkan botol dan batu ke arah polisi. Menurut pihak berwenang, polisi menangkap 42 orang dalam bentrokan tersebut.

Sedikitnya lima toko dijarah di sekitar Alun-Alun Republique. Sejumlah toko lain di pusat Paris juga mengalami kerusakan pada jendela, sementara pemerintah kota meminta banyak toko tutup.

Di Lyon, kota di tenggara Prancis, polisi bentrok dengan sekelompok pemuda yang berusaha menjarah sebuah toko pakaian mewah.

Kritikus Serang MacronKerusuhan terjadi hanya beberapa bulan sebelum pemilihan presiden. Macron, yang berasal dari kubu tengah, tidak dapat kembali mencalonkan diri, sementara kandidat presiden dari kelompok sayap kanan, Marine Le Pen, yang memimpin partai National Rally, memperoleh dukungan tinggi dalam jajak pendapat.

Le Pen mengatakan kerusuhan tersebut menunjukkan pemerintahan Macron sudah "kehabisan tenaga, kelelahan, dan kehilangan arah".

Jean-Luc Mélenchon, pemimpin partai sayap kiri ekstrem France Unbowed yang juga mencalonkan diri sebagai presiden, memperingatkan bahwa Prancis berpotensi menghadapi "peristiwa yang pada akhirnya akan menjadi tidak terkendali".

Menanggapi situasi tersebut, Macron mengatakan Prancis layak menggelar pemilihan presiden yang baik, dengan perdebatan bersama partai-partai politik, bukan melalui kekerasan di jalanan.

Demonstrasi pada Sabtu mempertemukan berbagai kelompok, mulai dari serikat pekerja, gerakan rompi kuning yang mengguncang tahun-tahun awal kepresidenan Macron, hingga para pelajar yang telah berunjuk rasa selama beberapa pekan terakhir.

Mereka bersatu menyuarakan kemarahan atas tingginya biaya hidup dan terbatasnya prospek bagi kaum muda.

Gambar-gambar balai kota yang terbakar dan toko-toko yang dijarah di Prancis menjadi sorotan media internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menanggapi kerusuhan tersebut dengan menyalahkan imigrasi.

"Prancis sedang terbakar! Imigrasi orang-orang dari dunia yang sama sekali berbeda, orang-orang yang menyimpan kebencian di hati mereka, telah menghancurkan negara yang dahulu hebat itu," tulis Trump dalam unggahan di media sosial.

 

Macron Minta Evaluasi Penanganan Kerusuhan

Macron berjanji para pejabat tinggi akan mengambil keputusan bersama para wali kota untuk melindungi kota, gedung publik, dan tempat usaha.

Ia mengatakan pemerintah akan memberikan dukungan kepada pelaku usaha yang terdampak serta menjanjikan transparansi penuh mengenai penanganan aparat keamanan selama demonstrasi.

Sejumlah politikus oposisi telah menyerukan pemecatan Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez.

Macron mengatakan dirinya telah meminta Nuñez untuk "mengambil semua pelajaran yang diperlukan", terutama terkait pengumpulan informasi intelijen dan kemampuan mengantisipasi situasi. Ia menambahkan bahwa dirinya mengharapkan jawaban yang jelas.

"Rasanya seperti kita sedang mengalami perang," kata seorang warga Paris berusia 78 tahun, Mehmet Ozeden, kepada AFP. Ia berbicara di tengah barikade jalan yang hangus terbakar akibat demonstrasi pada Sabtu.

Di kota Limoges, gedung balai kota abad ke-19 hangus dilalap api. Pejabat prefektur setempat, Maurice Barate, mengatakan kepada saluran berita LCI bahwa kebakaran tersebut sengaja dilakukan oleh "gerombolan liar".

Sementara itu, di Lyon, sebuah kantor pariwisata di pusat kota dibakar selama demonstrasi yang diwarnai sejumlah bentrokan dan penjarahan.

Kerusuhan juga mengakibatkan sejumlah orang mengalami luka serius. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa di kota Saint-Étienne, Prancis selatan.

Di Mulhouse, seorang remaja perempuan berusia 17 tahun kehilangan satu matanya, menurut keterangan jaksa penuntut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya