Liputan6.com, Jakarta - Ijazah sarjana tak selalu menjadi tiket menuju pekerjaan yang diimpikan. Di tengah ketatnya persaingan pasar kerja, sebagian lulusan perguruan tinggi justru memilih bertahan di pekerjaan yang kerap dipandang sebelah mata. Salah satunya menjadi petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), yang dikenal sebagai Pasukan Oranye di Jakarta.
Fenomena ini turut disoroti Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Ia mengungkapkan, banyak sarjana yang mendaftar sebagai petugas PPSU meski persyaratan pendidikan untuk posisi tersebut telah diturunkan hingga tingkat sekolah dasar (SD).
Advertisement
“Bahkan untuk Pasukan Oranye sebagai contoh, yang dulu syaratnya SLTA, saya sengaja turunkan syaratnya tinggal SD. Yang daftar adalah hampir 30 persen sarjana,” kata Pramono di acara Jakarta Contributors Award 2026, Kamis, 15 Oktober 2026.
Menurut Pramono, kondisi tersebut mencerminkan sulitnya situasi ekonomi yang dihadapi masyarakat. Persaingan mencari pekerjaan semakin ketat di tengah tekanan ekonomi global yang turut memengaruhi peluang kerja.
Bagi Adnan, petugas PPSU yang telah sembilan tahun bekerja di lapangan, situasi itu bukan sekadar angka atau gambaran kondisi ekonomi. Ia mengalaminya secara langsung. Dengan latar belakang pendidikan sarjana, ia memilih bertahan di pekerjaan yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun daripada mengambil risiko menganggur di tengah ketidakpastian pasar kerja.
“Ya, kalau menurut saya buat sekarang ini ya, di masa sulit ini, worth it saja sih. Karena memang ya saya balik lagi kayak, susah nyari kerja, sekalinya dapat kerja belum tentu masuk, kalah sama ordal (orang dalam). Jadi ya, jalanin ya, bersyukur sih,” ungkapnya saat dihubungi Liputan6.com, dikutip Sabtu (17/10/2026).
Bagi Adnan, bertahan bukan berarti berhenti berharap mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Namun, ketika kesempatan kerja semakin sulit diperoleh, pekerjaan yang sudah dimiliki menjadi sesuatu yang patut disyukuri.
Fenomena sarjana yang bekerja sebagai petugas PPSU juga bukan hal baru di lingkungan tempatnya bekerja. Adnan menyebut, sejumlah rekannya memiliki latar belakang pendidikan diploma hingga sarjana, meski pekerjaan mereka tidak mensyaratkan pendidikan setinggi itu.
“Karena enggak cuma saya doang yang sarjana, enggak cuma saya doang. Ada teman saya yang D3, S1, yang sudah tua D3, terus ada yang seumuran saya juga S1. Ada sekitaran mungkin bisa lima lebih sih dari total 86 orang,” jelasnya.
Kepastian Penghasilan Jadi Pertimbangan
Ada sejumlah alasan yang membuat pekerjaan sebagai petugas PPSU tetap menarik bagi para pelamar, termasuk mereka yang telah mengenyam pendidikan tinggi. Menurut Adnan, besaran upah, lokasi kerja yang dekat dengan rumah, hingga peluang mengikuti seleksi pegawai pemerintah menjadi pertimbangan.
“Kalau kalau saya tanya-tanya ke (sarjana) yang daftar sih ya, karena UMP-nya lumayan, terus juga dekat dari rumah. Terus juga mungkin dia ada kesempatan buat ngelamar nanti P3K itu atau CPNS, jaraknya juga enggak jauh, bisa pulang kalau misalkan makan. Ya, pokoknya intinya dia tuh enggak gengsi untuk sekarang ini,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, pekerjaan mungkin berkaitan erat dengan prestise dan kesesuaian antara ijazah dengan profesi. Namun, dalam situasi ketika mendapatkan pekerjaan saja sudah menjadi tantangan, kepastian penghasilan dan sejumlah fasilitas kerja dapat menjadi pertimbangan yang lebih realistis.
Adnan sendiri mulai bekerja sebagai petugas PPSU saat berusia 19 tahun, setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK). Ia menjalani kuliah sambil bekerja hingga berhasil meraih gelar sarjana.
Meski telah menyelesaikan pendidikan tinggi, ia belum memilih meninggalkan pekerjaannya. Selain masa kerja yang sudah panjang, Adnan mempertimbangkan sejumlah hak yang diterimanya sebagai petugas PPSU, mulai dari cuti tahunan hingga tunjangan hari raya (THR) dan jaminan kesehatan.
“Ya, untuk ke depannya pengen sih lebih baik, mencari yang lebih baik pekerjaan, cuma ya, saya juga niat juga bertahan supaya apa? Supaya nantinya kalau misalkan ada info-info P3K lagi, saya bisa ngelamar atau CPNS. Apalagi saya juga sudah bekerja lama di sini. Kalau di tempat kayak swasta, belum tentu, Kak, dapat cuti 12 hari, terus dapat dapat THR 1 bulan gaji. Kalau di PPSU tuh dapat, 1 bulan gaji, terus dapat cuti 12 hari, BPJS juga,” kata dia.
Keinginannya untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik tetap ada. Namun, Adnan tak ingin gegabah meninggalkan pekerjaan yang memberinya penghasilan dan fasilitas yang selama ini bisa diandalkan. Ia juga masih menyimpan harapan untuk mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau calon pegawai negeri sipil (CPNS) jika kesempatan itu terbuka.
Bukan Sekadar Membersihkan Jalanan
Menjadi petugas PPSU tidak hanya berkutat pada urusan kebersihan. Di lapangan, pekerjaan mereka juga mencakup pemeliharaan taman, penebangan pohon, pekerjaan konstruksi sederhana, hingga pembuatan mural. Dalam kondisi darurat, mereka turut membantu penanganan bencana, seperti banjir dan kebakaran.
Adnan mengatakan, tugas rutin kebersihan berlangsung selama delapan jam. Namun, tanggung jawab mereka tidak selalu berhenti ketika jam kerja berakhir, terutama saat terjadi keadaan darurat yang membutuhkan penanganan segera.
“Kalau PPSU itu kerjanya dia 8 jam untuk yang kebersihan. Tapi kalau misalkan ada kayak misalkan bencana, banjir, kebakaran, itu tuh loyalitas. Meski hari libur kita tetap berangkat,” jelasnya.
Tuntutan pekerjaan itu membuat petugas PPSU perlu siap menghadapi beragam tugas di luar rutinitas harian. Adnan menggambarkan pekerjaan tersebut sebagai profesi yang menuntut kesiapan untuk mengerjakan berbagai hal sesuai kebutuhan di lapangan.
“Jadi itu kayak ibaratnya palugada saja. PPSU enggak cuma kebersihan saja, dia ada yang ngerawat taman, ada yang nebang pohon, ada yang kayak konstruksi, bikin bangunan, mural, sampai ngejagain wilayah kalau malam,” sambung Adnan.
Bagi Adnan, pengalaman bertahun-tahun bekerja sebagai petugas PPSU mengajarkannya bahwa pekerjaan tidak selalu bisa dinilai dari gelar pendidikan atau gengsi yang melekat pada suatu profesi. Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, ia menilai setiap orang perlu melihat peluang secara realistis, sembari tetap berusaha memperbaiki masa depan.
Menurutnya, ketika kesempatan kerja semakin terbatas, mempertahankan pekerjaan yang ada bukanlah sesuatu yang perlu dipandang rendah.