Liputan6.com, Jakarta - Tingginya penggunaan uang tunai dalam rantai distribusi barang konsumsi berputar cepat (Fast-Moving Consumer Goods/FMCG) masih menjadi tantangan tersendiri bagi industri perbankan dalam memacu digitalisasi pembayaran.
Head of Transaction Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk, Joni Hermanto, menilai ketergantungan pada uang fisik sejatinya membebani efisiensi operasional perusahaan. Pasalnya, proses pengumpulan, penghitungan, hingga penyetoran uang tunai (cash collection) membutuhkan sumber daya manusia dan ongkos operasional yang cukup besar.
Advertisement
"Sektor FMCG rantai pasoknya biasanya menyasar retailer hingga warung-warung kecil yang mayoritas pembayarannya masih menggunakan uang tunai. Sekarang kami berupaya mengedukasi mereka untuk mengonversi transaksi tunai tersebut ke digital, karena ongkos untuk cash collection itu sangat mahal," ujar Joni dalam acara CIMB Niaga Business Summit 2026: Vision Made Possible di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Menjawab tantangan tersebut, perbankan dituntut menyediakan sistem yang adaptif. Berbeda dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang umumnya hanya memerlukan fitur transfer sederhana, korporasi skala besar membutuhkan platform transaksi yang jauh lebih kompleks, mulai dari pembayaran gaji massal (payroll) hingga transaksi mata uang asing (forex).
Guna mengakomodasi kebutuhan tersebut, CIMB Niaga menghadirkan platform perbankan digital korporasi bernama OCTOBIZ yang saat ini telah digunakan oleh lebih dari 32.000 nasabah bisnis.
Joni menegaskan bahwa efisiensi tahapan transaksi merupakan kunci utama dalam mendorong korporasi bertransisi ke sistem digital.
"Bayangkan jika satu perusahaan besar memproses 1.000 transaksi sehari. Jika untuk satu transaksi terdapat selisih 7 kali klik saja, itu setara dengan 7.000 kali klik tambahan dalam operasional harian. Karena itu, kami terus berupaya mempermudah langkah transaksi bagi nasabah," jelasnya.
Perkuat Porsi Dana Murah (CASA)
Pengalihan seluruh transaksi pembayaran korporasi ke sistem digital terbukti memberi imbal hasil positif bagi perbankan. Perputaran uang yang mengendap lebih lama di dalam rekening turut menopang rasio dana murah (Current Account Savings Account/CASA) bank.
Joni mengungkapkan, perputaran dana dari nasabah korporasi yang tertampung di platform digital membantu menjaga rasio CASA CIMB Niaga di level yang solid.
"Nasabah yang melakukan collection di tempat kami cenderung lebih loyal (sticky). Saldo simpanan pengguna OCTOBIZ terpantau lebih tinggi karena perputaran uangnya tetap berada di ekosistem kami. Tahun ini rasio CASA kami tumbuh cukup signifikan, berada di kisaran 70 persen," sambungnya.
Memudahkan Analisis Kredit dan Bunga Kompetitif
Selain memangkas biaya operasional, rekam jejak transaksi digital yang transparan memberikan keuntungan ganda bagi bank maupun nasabah.
Dari sisi perbankan, riwayat transaksi yang rapi memudahkan proses evaluasi kelayakan kredit saat nasabah membutuhkan tambahan modal kerja. Bank dapat menguraikan arus kas masuk dan keluar secara presisi untuk mengukur kebutuhan pembiayaan nasabah.
Di sisi lain, melimpahnya himpunan dana murah dari perputaran transaksi tersebut berdampak positif bagi nasabah, yakni berupa penawaran suku bunga pinjaman yang lebih kompetitif.
"Melimpahnya dana murah ini membantu kami memberikan fasilitas kredit kepada nasabah dengan tingkat suku bunga yang jauh lebih bersaing," tutup Joni.