Liputan6.com, Jakarta - Sineas Hanung Bramantyo kembali garap film drama bertajuk Beautiful Pain yang siap beranjak ke layar lebar pekan depan. Film pertama milik sutradara Dmaz Brodjonegoro ini dibintangi oleh Raihaanun dan Baim Wong.
Dalam konferensi pers film Beautiful Pain yang dihelat di Epicentrum XXI, Jakarta pada Kamis (15/10/2026), Hanung mengungkapkan keinginannya untuk menghadirkan konflik cerita dengan karakter yang tidak sekadar digambarkan sebagai sosok baik atau jahat. Menurutnya, setiap karakter memiliki motif dan alasan tersendiri di balik tindakan yang mereka lakukan.
Advertisement
“Saya tidak mau menampilkan film ini menjadi hitam putih. Artinya, saya sebagai produser juga harus melihat pasar, melihat perkembangan selera penonton seperti apa empat tahun yang lalu. Kalau yang jahat, jahat. Kalau yang baik, ya baik aja. Tapi tengah-tengah itu enggak pernah disentuh sama sekali,” ujar Hanung.
Ia juga mengatakan bahwa dirinya tidak ingin menghadirkan karakter dengan sisi abu-abu, namun memiliki motivasi kuat dalam mempertahankan sesuatu yang dianggap penting baginya.
“Saya enggak mau. Saya mau ada semacam dia ada motif. Dia punya motif. Setidaknya di tengah, dia punya power yang cukup besar. Dia itu sebetulnya cuma ingin rumah tangga ini tetap menyatu,” katanya.
Alasan Dapur Film Garap Beautiful Pain
Produser berusia 51 tahun tersebut juga menyebutkan bahwa salah satu alasan ia menggarap film ini adalah karena memiliki seorang sutradara muda yang ia ingin berikan wadah untuk terus berkembang.
“Pertama karena ada Dmaz di sini. Karena kita punya responsibility untuk melahirkan sebuah generasi baru. Dan saya di sini ini impian saya sebetulnya menjadi tempat untuk menjadi mediator buat generasi-generasi muda untuk merealisasikan impiannya.”
Selain itu, Hanung juga mengatakan bahwa spirit baru dari Nikita Mirzani selaku Executive Producer yang membuatnya semakin yakin untuk menggarapnya.
“Niki membawa spirit baru tentang bukan tentang dirinya sendiri. Dia dari awal sudah bicara ke saya. ‘Saya tidak mau membuat film tentang diri saya. Tapi saya pengen bicara tentang perempuan yang mungkin nasibnya seperti saya',” tambahnya.
Cerita Perjalanan 4 Tahun Pengembangan Beautiful Pain
Sementara itu, Hanung Bramantyo selaku produser Dapur Film juga mengungkapkan bahwa awalnya tema yang diangkat dalam film ini merupakan suatu yang dianggap tidak laku, namun atas keyakinan Nikita, Hanung berani membawakannya.
“Empat tahun yang lalu mungkin tema seperti ini dianggap tema yang sangat eksklusif, cult, dianggap enggak komersial. Tapi pada saat itu kemudian Niki yakin, ‘Saya yakin ada orang yang akan menonton film ini, yaitu para perempuan yang ingin menjadi dirinya sendiri.’,” ujar Hanung.
Harapan untuk Para Perempuan
Ia pun mengatakan bahwa ia berharap para perempuan di luar sana bisa memilih untuk menjadi sehat secara fisik maupun mental, menjaga mental anak-anaknya, serta jauh dari hubungan yang toksik.
“Saya ingin ada orang, para perempuan yang memilih menjadi sehat, menjaga kewarasan bagi anak-anaknya, dan lepas dari sebuah hubungan yang toksik,” tuturnya.