Liputan6.com, Jakarta - Pukul 15.53, saya tiba di reruntuhan St. Paul’s. Sore itu, lautan manusia bergerak naik-turun di tangga gereja. Wisatawan bergantian berfoto dan merekam video. Sementara live music mengalun dari kaki tangga.
Saya ikut menaiki tangga. Mengikuti arus pengunjung. Langkah membawa saya mendekati fasad batu yang sudah lama menjadi salah satu wajah paling dikenal dari Makau.
Advertisement
Dari bawah, fasad St. Paul’s terlihat seperti pintu masuk menuju gereja besar. Ukiran batu mewarnai permukaannya hingga ke bagian atas. Namun, untuk memahami apa yang tersisa, saya harus melewati fasad itu.
Di baliknya, tidak ada ruang gereja utuh. Tidak ada pula atap yang menaungi. Yang terbentang justru langit terbuka dan sisa-sisa struktur.
Gereja ini dikenal sebagai Gereja Mater Dei atau Gereja Bunda Allah. Pembangunannya dimulai pada 1602 oleh para misionaris Jesuit di Makau. Gereja selesai dibangun pada 1603, tetapi fasad batu yang kini menjadi ciri utamanya dikerjakan bertahap dan baru rampung sekitar 1637 hingga 1640.
Di sebelahnya berdiri St. Paul’s College, pusat pendidikan Jesuit yang menjadi bagian dari kompleks keagamaan tersebut. Pada masa itu, Makau merupakan salah satu pangkalan penting bagi kegiatan Jesuit di Asia.
Para misionaris menggunakan kota ini sebagai tempat persinggahan dan pusat pendidikan sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah lain, termasuk Tiongkok dan Jepang.
Karena itu, gereja dan kolese St. Paul’s bukan hanya bangunan untuk beribadah. Kompleks ini juga terhubung dengan jaringan pendidikan, misi, dan pertukaran pengetahuan yang melintasi kawasan.
St. Paul’s dihiasi relief dan figur dengan perpaduan unsur Eropa dan Asia. Perpaduan itu membuat fasadnya terasa berbeda dari gereja yang hanya membawa satu pengaruh arsitektur.
Jejak Tangan Perajin Lokal di St. Paul’s
Sejumlah catatan sejarah menyebut St. Paul’s dirancang Carlo Spinola, imam Jesuit asal Italia. Pembangunan kompleks ini berada di bawah arahan Jesuit, tetapi pengerjaannya melibatkan keterampilan para seniman dan perajin lokal.
Tradisi sejarah Makau menyebut adanya keterlibatan umat Kristen Jepang yang mengungsi ke Makau setelah menghadapi tekanan di Jepang. Catatan lain juga menyebut seniman dan perajin Tiongkok.
Kisah tentang para pekerja itu terasa semakin dekat saat saya memperhatikan ukiran di dinding. Reliefnya bukan hanya hiasan yang ditempelkan pada bangunan. Di sana tampak jejak dari pertemuan berbagai tradisi, gagasan keagamaan yang dibawa para Jesuit, keterampilan para perajin, dan ragam bentuk yang tumbuh di Asia.
Dalam catatan Macao Memory, bangunan gereja dan kompleksnya terbakar pada 1595. Gereja kemudian dibangun kembali, karena Makau tetap menjadi tempat penting bagi kegiatan misi dan pendidikan Jesuit.
Api pertama itu merusak koleksi dan buku-buku. Meski begitu, para Jesuit kembali membangun gereja dan tempat tinggal di kawasan yang sama.
Belum lama digunakan kembali, kompleks gereja terbakar lagi pada 1601. Api menjalar dengan cepat dan membuat gereja lama hampir seluruhnya musnah. Sebagian bangunan kolese juga rusak.
Warga Makau berusaha membantu memadamkan api, tetapi yang berhasil diselamatkan hanya sedikit. Sebuah ruang kuliah yang tersisa kemudian dipakai sementara sebagai tempat ibadah.
Kebakaran kedua ini menjadi awal dari pembangunan gereja yang lebih megah. Menurut Macao Memory, warga dan para pedagang ikut mengumpulkan dana untuk membangunnya kembali.
Lebih dari dua abad kemudian, api kembali melalap kompleks ini. Kebakaran pertama kali terjadi di area dapur kompleks, lalu merambat dengan cepat ke bangunan gereja.
Dalam waktu singkat, sebagian besar struktur hangus. Hanya fasad granit di bagian depanlah yang tersisa. Api ketiga inilah yang membentuk pemandangan yang dikenal pengunjung hari ini. Kini, St. Paul’s menjadi landmark Makau.
Pada 1990-an, pemerintah Makau melakukan pekerjaan arkeologi dan konservasi di kawasan ini. Penggalian mengungkap sisa-sisa struktur dan benda yang berkaitan dengan gereja.
Kawasan reruntuhan St. Paul’s kemudian menjadi bagian dari Pusat Sejarah Makau yang tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2005.
Dikunjungi 20 Ribu Orang Setiap Hari
Sekitar 20.000 orang mengunjungi reruntuhan St. Paul’s setiap hari. Mereka datang dari berbagai negara di belahan dunia. Termasuk Indonesia.
Ria (34), salah satu wisatawan asal Indonesia. Dia datang ke Makau untuk berlibur. Sebelum berangkat, dia mencari tahu tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Reruntuhan Gereja St. Paul’s pun masuk dalam daftar perjalanannya.
Saat melihat bangunan itu secara langsung, Ria terpikat pada fasadnya yang penuh ukiran. Perpaduan gaya Eropa dan Asia membuat gereja tersebut terasa berbeda dari bangunan lain yang dia temui selama berlibur.
“Bentuk bangunannya keren banget, penuh seni. Ukirannya banyak, dan ada perpaduan Eropa dan Asia,” kata Ria.
Dia juga sempat mengunjungi ruang bawah tanah gereja. Di sana, dia melihat sejumlah orang yang berdoa. Suasananya terasa lebih tenang dibandingkan area di luar yang ramai oleh pengunjung.
“Di belakang fasad juga saya lihat catatan sejarah perjalanan gereja ini. Saya pulang ke Indonesia bukan cuma membawa cerita liburan nanti, tetapi juga sejarah pembangunan gereja ini,” ujarnya.
Terbang Bersama AirAsia dan MGTO
Perjalanan wisata jurnalis Liputan6.com Supriatin ke Macao didukung AirAsia dan Macao Government Tourism Office (MGTO).
Perjalanan saya dimulai dari Indonesia dengan penerbangan AirAsia menuju Kuala Lumpur. Setelah transit, saya kembali melanjutkan penerbangan menuju Macao.
Indonesia AirAsia membuka penerbangan perdana langsung Jakarta–Makau pada 7 Agustus 2017. Saat itu, rute tersebut dilayani tiga kali seminggu menggunakan Airbus A320-200 berkapasitas 180 kursi.
AirAsia juga menawarkan opsi Fly-Thru, yang memungkinkan penumpang dari sejumlah destinasi di Asia Tenggara melanjutkan perjalanan ke Makau melalui Kuala Lumpur.
Di Makau, wisatawan bisa menikmati atraksi kelas dunia. Kota ini juga menyimpan jejak sejarah dan kekayaan budaya, serta menawarkan pilihan kuliner ramah Muslim.