Rupiah 18.000 dan IHSG Anjlok, Airlangga Akhirnya Buka Suara

Rupiah sentuh 18.000 dan perdagangan saham berhenti sementara, Menko Airlangga soroti pengumuman MSCI.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 16 Oktober 2026, 13:24 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. (Foto: Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, angkat bicara mengenai gejolak di pasar keuangan domestik pada Jumat (16/10/2026). Ia menyoroti pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebagai salah satu biang kerok yang menekan nilai tukar rupiah hingga menembus 18.000 per dolar AS, sekaligus memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Airlangga menjelaskan bahwa pengumuman MSCI tersebut rilis lebih cepat dari perkiraan awal, yakni pada Oktober dari yang semula dijadwalkan November. Selain itu, MSCI menetapkan target lanjutan pada April dan Juni 2027 yang menuntut komitmen nyata atas reformasi pasar modal Indonesia.

"Reform itu harus dijalankan dan progresnya itu harus kelihatan, terutama progresnya harus kelihatan bagi para investor, dalam negeri maupun luar negeri,” tegas Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Menurutnya, sebagian besar investor mengeluhkan lambatnya proses implementasi regulasi di pasar modal yang dinilai memakan waktu terlalu lama. Guna meredam kekhawatiran tersebut, pemerintah berjanji akan mempercepat proses reformasi agar kemajuannya bisa dipantau langsung oleh investor domestik maupun asing.

"Kita berharap bahwa langkahnya konkret beserta timeline-nya," tambah Airlangga.

Merespons guncangan pasar ini, pemerintah bergerak cepat dengan menjadwalkan pertemuan darurat bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI) pada Jumat sore untuk merumuskan langkah penanganan bersama.

Bos BEI Terkejut Setelah MSCI Berpotensi Ubah Status Pasar Saham Indonesia

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Iding Pardi angkat suara terkait pembukaan proposal Morgan Stanley Capital International (MSCI) tentang perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia, yang awalnya emerging market menjadi standalone market.

"Kami dari Bursa Efek Indonesia tentu menanggapi ini dengan sangat serius, dan kami akan segera meminta waktu kepada MSCI untuk mengklarifikasi concern mereka, yang masih ada seperti apa,” ungkap Iding, Jumat (16/10/2026).

Wacana ini menimbulkan keterkejutan dari pihak BEI, ditambah pengumuman yang dilakukan jauh lebih awal dari biasanya.

"Kami juga terus terang surprised, pelaku pasar juga surprised, kok bisa jauh lebih awal, biasanya seminggu atau dua minggu dengan final announcement. Ini lebih awal hampir sebulan sebelumnya, itu terus terang di luar perkiraan kami,” ungkapnya.

Sebelumnya, dalam pertemuan roundtable di Bangkok, 13 Oktober 2026 di sela-sela rangkaian IMF Annual Meeting bersama OJK, KSEI, MSCI, dan Danantara, tak ada sinyal bahwa akan ada kemungkinan perubahan status ini.

“MSCI sewaktu itu mempertanyakan mengenai yang tadi saya sampaikan efektivitas dan enforcement. Jadi tidak ada sinyal bahwa ada kemungkinan standalone market,” ungkapnya, sembari menambahkan, diskusi BEI dengan MSCI dan investor global sejauh ini berjalan dengan baik terhadap hal yang sudah dilakukan.

Terkait status standalone market, Iding meluruskan klasifikasi tersebut bukanlah kelompok terendah dari MSCI.

"Itu adalah klasifikasi khusus kalau memang market itu perlu mendapatkan perhatian khusus. Jadi bukan berarti terendah, standalone itu klasifikasi terpisah, biasanya digunakan untuk market yang baru yang memang memerlukan pengawasan," jelas Iding.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya