ISF 2026 Hasilkan Kemitraan hingga Inisiatif Genjot Pertumbuhan Berkelanjutan

Salah satu kerja sama yang diteken dalam ISF 2026 yakni MoU antara The Climate Group dan PLN.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 15 Oktober 2026, 19:40 WIB
Penyelenggaraan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 menghadirkan sejumlah kemitraan dan inisiatif baru (Foto: Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 menghasilkan sejumlah kemitraan dan inisiatif baru yang mendorong agenda pertumbuhan berkelanjutan. Selain itu, dalam ISF memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan dalam penyelenggaraan forum itu sendiri.

Sepanjang dua hari penyelenggaraan ISF pada 6-7 Oktober 2026 baik pemerintah, dunia usaha, investor, lembaga keuangan, dan mitra internasional menghadirkan berbagai perkembangan di bidang energi bersih, industri, ekonomi sirkular, kehutanan, kelautan, hingga pembiayaan. Demikian mengutip keterangan resmi, Kamis, (15/10/2026).

Mengusung tema “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World,” ISF 2026 menempatkan keberlanjutan dalam konteks yang lebih luas yaitu bagaimana agenda tersebut dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi, penguatan daya saing, penciptaan nilai, dan ketahanan jangka panjang.

Mempertemukan Kebutuhan Energi Bersih Global dengan Potensi Indonesia

Salah satu kerja sama yang ditandatangani pada ISF 2026 adalah Memorandum of Understanding (MoU) antara The Climate Group dan PT PLN (Persero), mengenai RE100 Corporate Green Power Demand Research and Analysis.

MoU tersebut ditandatangani oleh Helen Clarkson, CEO The Climate Group, dan M. Fahrur Rozy, Direktur Retail dan Commerce PT PLN (Persero), serta disaksikan oleh Darmawan Prasodjo, Direktur Utama PT PLN (Persero), dan Edo Mahendra, Executive Chairperson Indonesia Energy Transition Implementation Joint Office.

Inisiatif ini diumumkan dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) di Jakarta, sejalan dengan upaya Indonesia mengembangkan 100 GW kapasitas energi surya baru pada 2030.

Kerja sama ini diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan global terhadap energi terbarukan dengan pengembangan produk dan solusi energi hijau di Indonesia. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu menarik investasi hijau, memperluas akses perusahaan terhadap energi terbarukan, dan mendukung pertumbuhan industri yang lebih berkelanjutan.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas akses dunia usaha terhadap listrik terbarukan yang andal dan terjangkau, meningkatkan daya saing industri, serta mendukung percepatan transisi energi dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

 

Perusahaan Indonesia Pertama Bergabung dalam RE100

Penyelenggaraan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 menghadirkan sejumlah kemitraan dan inisiatif baru (Foto: Istimewa)

Momentum ISF 2026 juga ditandai dengan bergabungnya Asia Pulp & Paper (APP) Group ke dalam RE100, menjadikannya perusahaan Indonesia pertama yang menjadi anggota inisiatif global tersebut.

Penandatanganan dilakukan oleh CEO The Climate Group Helen Clarkson OBE, dan Chief Sustainability Officer APP Group, Elim Sritaba. Keanggotaan tersebut memberikan APP akses terhadap jaringan global RE100 untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan perkembangan terkait transisi menuju energi terbarukan.

Langkah ini juga memperkuat keterhubungan perusahaan Indonesia dengan jaringan korporasi global yang mendorong peningkatan penggunaan energi terbarukan.

Mendorong Sirkularitas di Rantai Nilai Tekstil

Dari sektor industri, Rantai Tekstil Lestari (RTL) dan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) menandatangani MoU untuk membangun strategic alliance dalam mendorong keberlanjutan dan sirkularitas di sepanjang rantai nilai tekstil dan garmen Indonesia. MoU ditandatangani oleh Indah Budiani, Direktur Eksekutif IBCSD, dan Basrie Kamba, Ketua Umum RTL.

Kolaborasi mencakup advokasi kebijakan, penguatan kemitraan industri, keterlibatan publik, pengukuran kemajuan, pengembangan kapasitas, serta pertukaran pengetahuan. Kemitraan ini diharapkan dapat mempercepat penerapan praktik bisnis berkelanjutan dan ekonomi sirkular di industri tekstil, sekaligus membuka ruang bagi pemanfaatan keahlian industri, teknologi, dan investasi untuk mendukung penguatan industri hijau.

Membuka Model Baru Pengelolaan Hutan

Penyelenggaraan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 menghadirkan sejumlah kemitraan dan inisiatif baru (Foto: Istimewa)

Agenda keberlanjutan di ISF 2026 juga bergerak ke sektor kehutanan melalui inisiatif, “From Forests to Future: Scaling Sustainable and Regenerative Multi-Business Forestry in Indonesia”.

Inisiatif tersebut mendorong pengembangan multiusaha kehutanan yang lebih berkelanjutan dan regeneratif dengan mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan pasar.

Upaya ini juga bertujuan untuk mengembangkan lanskap percontohan, memperkuat akses pasar dan model bisnis, serta mendukung kebijakan yang memungkinkan pengembangan program dalam skala lebih luas.

Kolaborasi ini melibatkan Kementerian Kehutanan, APHI, KKI Warsi, KEM, Titian Lestari Foundation, PBPH yang berpartisipasi, masyarakat lokal dan masyarakat adat, serta pembeli komoditas berbasis hutan.

Sejumlah perkembangan yang diumumkan mencakup lima lanskap percontohan, 21 PBPH yang telah diidentifikasi untuk pengembangan lebih lanjut, serta pipeline sekitar 128.000 hektare. Program tersebut juga mencatat peluang investasi hingga Rp 13 triliun dalam lima tahun, sekaligus upaya memperkuat akses pasar bagi komoditas berbasis hutan.

Membangun Pipeline Investasi Rumput Laut

Di sektor kelautan, ISF 2026 menjadi momentum peluncuran Indonesia Seaweed Inc Country Platform, sebuah inisiatif UNRCO-APINDO yang diarahkan untuk memperkuat ekosistem investasi rumput laut Indonesia.

Platform ini dirancang untuk menerjemahkan Business Sector Communiqué dari Financing for Development menjadi pipeline proyek yang layak investasi, termasuk melalui pengembangan proyek rumput laut yang layak memperoleh pembiayaan (bankable), memobilisasi pembiayaan campuran (blended finance), menghubungkan kegiatan budidaya di sektor hulu dengan pengolahan dan pasar di sektor hilir, serta mengoordinasikan para pemangku kepentingan dari sektor publik dan swasta.

UN, APINDO, dan Bappenas menjadi pemain utama dalam platform ini, dengan dukungan antara lain dari OJK, Standard Chartered, Conservation International, Konservasi Indonesia, dan YKAN.

Peluncuran tersebut juga menjadi titik awal bagi sejumlah kemitraan dan uji coba di bidang budidaya rumput laut dan biostimulant, dengan tujuan membangun pipeline proyek yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Menempatkan Keberlanjutan dalam Penyelenggaraan Forum

Ketua Umum APINDO, Shinta Kamdani saat menjadi pembicara dalam Indonesia Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Komitmen terhadap keberlanjutan juga diterapkan pada penyelenggaraan ISF 2026 sendiri. Dalam rangkaian acara, Bank Mandiri menyerahkan sertifikat kredit karbon untuk mendukung offset emisi penyelenggaraan ISF 2026.

Sertifikat tersebut diserahkan oleh Henry Panjaitan, Vice President Director Bank Mandiri Indonesia, kepada Rachmat Kaimuddin, Managing Director of Development Investment, Danantara Development Management Fund.

Kredit karbon tersebut berasal dari Proyek Lahendong Unit 5 dan Unit 6 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, dengan total 209 ton CO₂e yang di-offset untuk penyelenggaraan ISF 2026.

Dari Percakapan ke Langkah Berikutnya

Rangkaian outcomes tersebut memperlihatkan semakin luasnya ruang kolaborasi yang dibangun melalui ISF 2026. Energi, industri, kehutanan, kelautan, pembiayaan, hingga penyelenggaraan forum menjadi bagian dari agenda yang sama: bagaimana keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi peluang investasi, penguatan daya saing, dan langkah yang dapat dijalankan.

Ketua Panitia ISF 2026, Rachmat Kaimuddin menekankan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mendorong agenda keberlanjutan, didukung oleh meningkatnya minat, pendanaan, dan energi kolaborasi dari berbagai pihak. Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan upaya konkret untuk menghasilkan proyek yang siap didanai dan memperkuat kapasitas sumber daya manusia.

"Ada banyak pendanaan, minat, dan energi untuk mendorong keberlanjutan di Indonesia dan dunia. Ada banyak harapan, tetapi kita perlu memastikan bahwa kita mampu menciptakan proyek-proyek yang layak didanai (bankable) dan memiliki talenta-talenta hebat,” ujar Rachmat.

 

 

 

 

Pentingnya Kesinambungan ISF

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin, Shinta W. Kamdani menyoroti pentingnya menjaga kesinambungan ISF melalui penguatan pengetahuan, jejaring, serta kemitraan dan kolaborasi.

Dia menuturkan, keberhasilan forum tidak hanya diukur dari pengumuman atau kesepakatan yang dihasilkan, tetapi juga dari tindak lanjut dan kemajuan nyata yang dapat dibangun setelah forum berakhir.

"Ada tiga hal penting dari ISF, pengetahuan yang kita peroleh melalui berbagi praktik terbaik, koneksi yang membuka ruang untuk memahami perkembangan di balik berbagai kesepakatan, serta kemitraan dan kolaborasi. Inilah kunci bagaimana kita dapat melibatkan lebih banyak mitra dari Indonesia maupun dunia untuk mendorong kemajuan keberlanjutan,” ujar Shinta.

Bagi ISF, berbagai perkembangan tersebut menjadi bagian dari evolusi forum sebagai platform yang mempertemukan gagasan dengan kepentingan, kapasitas, dan peluang yang nyata.

Selain terletak, pada percakapan yang berlangsung selama penyelenggaraan, nilai sebuah forum pada akhirnya apa yang dapat dibawa keluar dari ruang tersebut. ISF 2026 menjadi ruang untuk memulai sejumlah percakapan. Berbagai outcome yang lahir di dalamnya menjadi langkah berikutnya untuk membawa percakapan tersebut lebih jauh.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya