Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq mengakui modifikasi cuaca tidak selalu berhasil menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Solusi lainnya berupa penguatan lanskap jadi hal utama.
Hanif mengatakan, modifikasi cuaca dengan membuat hujan buatan disebut tak berhasil menangani karhutla di beberapa daerah pada 2026. Cara tersebut sering jadi solusi ketika karhutla beberapa tahun lalu.
Advertisement
"Jangan lagi sudah kita sia-siakan lagi kesempatan yang sudah dikalibrasi oleh alam bahwa operasi modifikasi cuaca yang selama ini kita jadikan alat permanen penanganan karhutla ternyata tidak mampu menangani karhutla kita di tahun 2026," ungkap Hanif di Hotel Santika, Slipi, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Untuk itu, dia meracik lagi solusi lain yang bisa dilakukan. Sebagai jangka panjang, penataan lanskap dan ketahanan hutan gambut akan diperkuat.
"Maka kemudian kita wajib kembali ke landscape. Landscape yang kita bikin setahan-tahannya, dengan kekuatan dan potensi keunggulan kompetitif yang kita miliki sangat banyak loh, kita saja yang kurang ini," tutur dia.
"Jadi pasca ini kita harus memperbaiki landscape kita, itu menjadi keniscayaan," tegas Hanif.
Penanganan Karhutla Tetap Jalan
Sebelumnya,Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tetap berjalan. Meskipun ada penindakan sejumlah pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Adapun, KPK menjaring sejumlah nama dalam operasi tangkap tangan (OTT). Nama-nama yang dijaring KPK disangkakan melalukan korupsi dana siap pakai BNPB. Hanif mengatakan, pelaksanaan pemadaman karhutlab terus berjalan.
"Saya pikir ini kan sistem ya, kita tidak terpengaruh pada personal, tidak terpengaruh pada oknum. Saya kira gitu ya. Jadi saya kira semuanya sudah berjalan di lapangan dengan baik," kata Hanif ditemui di Hotel Santika, Slipi, Jakarta, Kamis pekan ini.
Dipantau Prabowo
Dia menjelaskan, pelaksanaan penanganan dilakukan terus menerus sambil dipantau serius Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, upaya kali ini mengharuskan keterlibatan semua pihak.
"Bapak Presiden lakukan kontrol itu hampir tiap minggu sepertinya. Jadi semua kita dimintai tanggung jawab tuh sampai dimana. Jadi saya pikir tidak hanya BNPB, kemampuan BNPB yang bergerak. Tapi ini sudah bicara unsur semesta, semua unit sudah bergerak," ucap dia.
"Jadi semua yang rasa kurang di lapangan juga kita lakukan tambal sulam dengan semua energi yang ada di pemerintahan provinsi, pemerintahan pusat, maupun di dunia unit pusat. Saya pikir kita tetap jalan terus, ini enggak boleh berhenti," beber dia.