Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengingatkan sebagai investor juga harus mengetahui dua sisi investasi dari manfaat dan risikonya. Dengan demikian dapat menjadi investor yang berkualitas di tengah lonjakan jumlah investor.
Hal itu disampaikan Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum BEI Umi Kulsum dalam acara Ring the Bell for Financial Literacy 2026 sebagai rangakaian dari World Investor Week, kampanye global tahunan International Organization of Securities Commissions (IOSCO) untuk edukasi dan pelindungan investor pada Rabu, (14/10/2026).
Advertisement
Mengusung tema 'Stay Smart, Stay Alert, Stay Resilient', acara menyoroti tiga isu: ketahanan investor, penipuan, dan investasi ilegal yang kian canggih lewat teknologi.
"Investor yang cerdas tidak hanya mengetahui cara membeli produk investasi, tapi juga memahami manfaat serta risikonya," ujar Umi dalam sambutannya.
Sementara itu, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Edi Broto Suwarno yang turut hadir, menyinggung lonjakan investor. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Agustus 2026 mencatat 31,13 juta investor, naik dari sekitar 20,34 juta pada akhir 2025.
Namun, pemahaman belum sejalan dengan akses. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat inklusi keuangan 93,61%, sedangkan literasi keuangan 69,57%.
"Kemudahan membuka rekening investasi dan melakukan transaksi melalui aplikasi belum tentu diikuti dengan kemampuan memahami risiko," ujar Edi.
"Semakin banyak informasi investasi di media sosial tidak selalu berarti masyarakat memperoleh informasi yang lebih berkualitas," ia menambahkan.
Edi mengingatkan ancaman deepfake yang dapat meniru tokoh publik untuk menawarkan investasi palsu. “Teknologi yang terlihat canggih tidak selalu menjamin bahwa informasi yang disampaikan itu benar,” katanya.
Waspada Deepfake dan Penipuan Digital
Edi juga menyebut ada pihak yang memakai identitas lembaga keuangan resmi untuk menjanjikan untung tinggi tanpa risiko. Karena itu, masyarakat diminta semakin kritis terhadap informasi di media sosial dan aplikasi percakapan.
"Sebelum berinvestasi, pastikan legalitas dari pihak yang menawarkan, kemudian pahami produk dan risikonya, serta jangan mudah tergiur oleh janji keuntungan yang tidak masuk akal,” ujar Edi.
Ia meminta masyarakat tidak menyerahkan data pribadi dan kode OTP kepada pihak lain. Edi lalu mengajak memegang tiga langkah.
"Sebelum percaya, periksa. Sebelum berinvestasi, pahami. Dan sebelum mentransfer uang, pastikan," kata dia.
Sementara, pertumbuhan investor terjadi ketika pasar tertekan, sehingga Edi mengingatkan investor agar tidak 'latah'.
"Jangan mengambil keputusan hanya karena suatu saham sedang ramai dibicarakan di media sosial," kata dia.
Rekomendasi orang lain atau fear of missing out (FOMO) bukan dasar investasi yang tepat.
“Menjadi investor cerdas tidak berarti harus menjadi ahli keuangan, namun setiap investor perlu memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk mengambil keputusan secara mandiri,” ujarnya.
Soal ketahanan, Edi menyebut kerugian bukan akhir segalanya. “Investor yang tangguh bukanlah investor yang tidak pernah mengalami kerugian, melainkan investor yang mampu memahami risiko, menjaga disiplin, dan mengambil keputusan secara rasional,” tutur dia..
Ia menegaskan investasi bukan ajang cepat kaya. “Investasi ini bukan perlombaan untuk cepat kaya, melainkan proses membangun secara terencana,” ujar dia.