Putin Janji Guyur Pasokan, Harga Solar Tetap Sulit Turun

Rusia akan segera memasok 300.000 ton metrik diesel ke pasar global.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 14 Oktober 2026, 17:05 WIB
Ekspresi Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu di KTT G20, di Hamburg, Jerman (7/7). Pertemuan kedua pemimpin negara adidaya ini menjadi sorotan dunia. (AFP Photo/Soul Loeb)

Liputan6.com, Jakarta - Kesepakatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait pasokan solar diperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan harga bahan bakar tersebut. Total pasokan yang dijanjikan mencapai 35,76 juta barel, setara dengan sekitar 10 hari kebutuhan solar domestik AS.

Mantan Kepala Divisi Industri dan Pasar Minyak Badan Energi Internasional (IEA), Neil Atkinson, menilai volume pasokan awal dari Rusia masih terlalu kecil dibandingkan dengan kebutuhan pasar.

"Jumlahnya bahkan tidak menyentuh permukaan, sangat, sangat kecil," ujar Atkinson, dikutip dari CNBC, Rabu (14/10/2026).

Trump menyatakan, Rusia akan segera memasok 300.000 ton metrik diesel ke pasar global. Berdasarkan perhitungan S&P Global Platts, jumlah itu setara sekitar 2,24 juta barel atau sekitar 74.500 barel per hari jika dibagi rata selama satu bulan.

Volume awal tersebut hanya sekitar 2% dari permintaan diesel AS yang mencapai 3,65 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 2 Oktober.

Sementara itu, konsumsi diesel dunia melampaui 28 juta barel per hari, sehingga pasokan awal Rusia mewakili kurang dari 1 persen kebutuhan global.

Trump juga menyebut Rusia akan mengirim tambahan 500.000 ton diesel pada November, disusul satu juta ton dan tiga juta ton pada waktu berikutnya, bergantung pada kondisi kilang minyak Rusia. Jika seluruh kesepakatan terlaksana, total pasokan mencapai 4,8 juta ton metrik atau 35,76 juta barel.

Goldman Sachs memperkirakan pasokan solar Rusia yang dijadwalkan pada Oktober dan November hanya akan menurunkan harga grosir sebesar US$ 1–2 atau Rp 17.885-35.770 (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.890) per barel di Pantai Teluk AS dan Eropa.

 

Harga Solar AS Masih Tinggi

Kenaikan harga minyak dunia dipicu beberapa faktor utama, terutama situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

AS sendiri merupakan eksportir bersih diesel sehingga tidak bergantung pada pasokan Rusia untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.

Menurut analis Kpler, tambahan pasokan Rusia justru bisa mengurangi persaingan bagi produk diesel AS di pasar negara lain, termasuk Brasil dan Turki.

Harga solar berjangka tidak banyak berubah setelah kesepakatan diumumkan. Menurut data AAA, harga solar rata-rata di AS mencapai US$ 6,28 atau Rp 112.318 per galon pada Selasa, naik 72% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan harga ini terjadi di tengah terjadinya serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta gangguan ekspor energi melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut memperketat pasokan bahan bakar di pasar global.

Trump sempat mempertimbangkan larangan ekspor diesel AS untuk menekan harga domestik, tetapi kemudian membatalkan gagasan itu karena berpotensi menaikkan harga bensin.

Pemerintah juga mengizinkan pengemudi truk menggunakan diesel merah bebas pajak yang biasanya diperuntukkan bagi penggunaan di luar jalan raya. Namun, kewajiban pajaknya hanya ditunda, bukan dihapus.

Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan gangguan operasi kilang Rusia mencapai tiga juta barel per hari lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini membatasi peluang peningkatan produksi diesel untuk menambah pasokan pasar.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya