IMF Prediksi Ekonomi Global Tumbuh 3,1%, Biaya Energi Jadi Tantangan

IMF naikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,1% berkat ledakan investasi AI, meski memperingatkan risiko koreksi tajam.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 13 Oktober 2026, 14:20 WIB
Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Liputan6.com, Jakarta - International Monetary Fund (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Ledakan investasi berbasis kecerdasan buatan (AI) dinilai membantu mengimbangi sebagian dampak lonjakan biaya energi akibat perang di Timur Tengah.

IMF memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,1% pada 2026, naik dari proyeksi 3% pada Juli lalu. Meski begitu, angka ini lebih lambat dibanding laju pertumbuhan 3,5% tahun sebelumnya.

"Ekonomi global tidak sekadar melambat atau berakselerasi; melainkan, pertumbuhan tengah dialokasikan ulang di antara negara-negara sesuai dengan eksposur mereka terhadap guncangan pasokan akibat perang dan kekuatan permintaan terkait AI,” tulis IMF dalam laporannya, dikutip dari CNBC, Selasa (13/10/2026).

Untuk proyeksi 2027, IMF mempertahankan angka pertumbuhan di 3,4%. Lembaga ini juga memperkirakan inflasi mencapai 4,1% pada 2027, di atas proyeksi 3,9% yang disampaikan pada Juli.

IMF kini memprediksi Selat Hormuz dibuka kembali pada Maret 2027 dan diperkirakan kembali normal seperti sebelum perang, seiring ekspor minyak mentah Teluk rata-rata sudah mencapai 88% dari level sebelum konflik pada September.

Laporan ini dirilis pada pertemuan tahunan IMF dan World Bank di Bangkok pekan ini yang dihadiri menteri keuangan dan gubernur bank sentral 191 negara anggota. Pembahasannya mencakup ketegangan geopolitik, pembengkakan utang publik, hingga AI.

Sementara, investasi terkait AI mendorong permintaan global yang membantu aktivitas ekonomi paruh pertama tahun ini bertahan lebih baik dari ekspektasi, meski terjadi perang di Timur Tengah dan ketegangan dagang.

Pasar finansial juga relatif tenang, yang menurut IMF sebagian-nya mencerminkan euforia terkait AI. Lembaga itu menyebut penggunaan penyangga ekonomi dan kemampuan beradaptasi telah membantu berbagai negara bertahan dari guncangan negatif.

Namun, IMF memperingatkan penyangga tersebut menyempit dalam jangka pendek. Cadangan minyak global terkuras sekitar 2,7 juta barel per hari, mendekati level yang bisa memicu pergerakan harga tajam.

Pertumbuhan Ekonomi Dunia Kian Timpang

(Foto: aim.org)

Pertumbuhan ekonomi global kini makin tidak merata. 32 ekonomi kini menyumbang 95% pertumbuhan global, turun drastis dari 54 ekonomi pada April lalu.

Taiwan diperkirakan tumbuh 10,7% tahun ini, sementara Korea Selatan diproyeksikan tumbuh 3,3% berkat permintaan semikonduktor. Amerika Serikat (AS) diproyeksikan tumbuh 2,3% pada 2026 dan 2027, didukung konsumsi swasta dan investasi teknologi.

Di sisi lain, negara pengimpor energi menghadapi tagihan impor lebih tinggi dan ruang fiskal lebih sempit. Zona euro diperkirakan hanya mencatat pertumbuhan 1,1% tahun ini, sementara Timur Tengah dan Asia Tengah diproyeksikan mengalami kontraksi 0,3%.

China diperkirakan tumbuh 4,5% tahun ini dan 4,0% pada 2027. Harga minyak yang lebih tinggi dan hambatan struktural dinilai masih membebani aktivitas ekonomi negara tersebut.

 

IMF Ingatkan Risiko Investasi Berlebihan di Sektor AI

Meski AI menopang ketahanan ekonomi global, IMF menyebut ledakan investasi ini juga akan semakin menambah tekanan inflasi dan kerapuhan finansial. Investasi masif mengalir ke sektor semikonduktor, pusat data, dan pembangkit listrik sebelum keuntungan produktivitas yang luas benar-benar terwujud.

IMF memperingatkan, jika keuntungan produktivitas AI gagal terwujud, saham AS berpotensi turun 20%. Pertumbuhan global pun bisa berakhir 1,1% di bawah estimasi dasar pada 2028, dengan kawasan Asia tertekan lebih dalam hingga 1,7%.

Dari segi fiskal, utang publik di ekonomi maju diproyeksikan mencapai 115% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2031, naik dari 108% pada 2025. IMF mendesak pemerintah di berbagai negara agar dukungan bagi rumah tangga yang menghadapi kenaikan biaya energi dan pangan tetap bersifat sementara dan tersasar.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya