Sekolah Anak Pesisir di NTB Padukan Edukasi Lingkungan dan Ekonomi Lokal

Melalui pembelajaran berbasis alam, anak-anak di Desa Cendi Manik belajar merawat mangrove, memahami lingkungan, dan mengenal potensi ekonomi lokal.

oleh Pebrianto Eko WicaksonoDiterbitkan 11 Oktober 2026, 19:22 WIB
Rehabilitasi Mangrove.

Liputan6.com, Jakarta - Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat menjadi wadah bagi anak-anak untuk pemberdayaan yang mengintegrasikan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat.

Program yang menjangkau 135 penerima manfaat ini menjadikan alam sebagai ruang belajar bagi anak-anak pesisir. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga belajar mengenal ekosistem mangrove, menjaga lingkungan, mengembangkan kreativitas, serta memahami potensi ekonomi di wilayah tempat mereka tumbuh.

Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat digagas PT Pertamina Patra Niaga untuk mendorong pemberdayaan masyarakat pesisiryang berjalan sejak 2024.

VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menghadirkan manfaat berkelanjutan melalui pengembangan potensi masyarakat dan peningkatan akses pendidikan.

“Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, dan kemandirian anak-anak. Kami percaya bahwa pemberdayaan yang mengintegrasikan pendidikan, ekologi, dan ekonomi dapat menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat pesisir,” ujar Dian, Minggu (11/10/2026).

Dari aspek lingkungan, program ini telah mendukung penanaman 4.500 bibit mangrove untuk rehabilitasi pesisir, dengan potensi penyimpanan karbon sebesar 80,763 ton CO₂ per hektare. Pada aspek pendidikan, sebanyak 1.772 peserta telah terlibat dalam 11 kegiatan pembelajaran pesisir, dengan 860 kunjungan per tahun ke destinasi edukasi mangrove dan pesisir.

Sementara itu, dari aspek ekonomi, program menghasilkan tambahan pendapatan kelompok berbasis potensi lokal sebesar Rp 24 juta per tahun dan efisiensi biaya energi sebesar Rp 6,6 juta per tahun melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Program ini juga memperkuat kolaborasi dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan pesisir.

 

 

 

Keunikan Sekolah Alam

Keunikan Sekolah Alam Anak Pesisir terletak pada pendekatan pembelajaran 3E, yaitu Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi. Kawasan mangrove, pesisir, serta ruang terbuka dimanfaatkan sebagai media belajar langsung melalui kegiatan menanam dan merawat mangrove, mengenal ekosistem pesisir, memainkan permainan tradisional, hingga memahami potensi ekonomi lokal.

Pengembangan program dilakukan secara bertahap. Pada 2024, kegiatan difokuskan pada pembentukan kelompok, pembangunan Rumah Literasi sebagai ruang pembelajaran, serta peningkatan kapasitas melalui benchmarking ke Anak Alam Learning House di Sumbawa, NTB. Pada 2025, program mengembangkan Kurikulum 3E sebagai acuan pembelajaran. Selanjutnya, pada 2026, pengembangan Pertakid dilakukan sebagai media pembelajaran bagi peserta didik Sekolah Alam Anak Pesisir.

Pendiri Komunitas Sanggar Belajar Jalan Pulang Zahit Idris telah merintis gerakan pendidikan bagi anak-anak di Desa Cendi Manik sejak 2022. Berangkat dari persoalan anak putus sekolah, kegiatan belajar tersebut awalnya hanya diikuti delapan anak dan berlangsung di musala karena belum tersedia ruang kelas permanen maupun kurikulum pembelajaran.

“Sanggar Belajar Jalan Pulang hadir untuk dapat menjadi ruang belajar dan tempat pulang bagi anak-anak pesisir di Cendi Manik yang kurang memiliki akses pendidikan. Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, anak-anak dapat belajar menjaga lingkungan, mengembangkan kreativitas dan diri, serta memperluas wawasan tentang alam,” ujar Zahit.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya