Anak Krakatau Erupsi 13 Kali Dalam 5 Jam, Waspada Bahaya Lontaran Batu Pijar

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, mengalami 13 kali erupsi dalam kurun waktu 5 jam.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 09 Oktober 2026, 22:24 WIB
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali erupsi. (Liputan6.com/ Dok. PVMBG)

Liputan6.com, Lampung - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, terus berlangsung hingga Jumat malam (9/10/2026). Sejak sore hingga pukul 21.20 WIB malam ini, gunung api tersebut tercatat mengalami 13 kali erupsi dengan jeda waktu yang relatif berdekatan.

Erupsi beruntun itu membuat aktivitas Anak Krakatau terus menjadi perhatian petugas pemantauan. Pada letusan terbaru pukul 21.20 WIB, aktivitas vulkanik terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 43 milimeter dan durasi 31 detik.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno mengimbau, masyarakat tetap waspada dan mematuhi rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan pemerintah.

"Ya gimana namanya alam, yang penting kita waspada, dan selalu menaati rekomendasi dari pemerintah," kata Suwarno, Jumat malam (9/10/2026).

Berdasarkan laporan pengamatan Gunung Anak Krakatau, erupsi pertama pada Jumat terjadi pukul 16.17 WIB, disusul letusan berikutnya pada pukul 16.30 WIB.

Pada erupsi pukul 16.17 WIB, kolom abu teramati mencapai sekitar 250 meter di atas puncak atau 407 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal, bergerak ke arah utara dan barat laut.

Aktivitas kembali meningkat pada malam hari. Erupsi tercatat terjadi pukul 18.28 WIB, 18.34 WIB, 18.35 WIB, 18.44 WIB, dan 18.45 WIB.

Rentetan letusan berlanjut pada pukul 19.07 WIB, 19.10 WIB, 19.57 WIB, 21.15 WIB, 21.17 WIB, hingga 21.20 WIB.

Salah satu aktivitas yang cukup menonjol terjadi pada pukul 21.17 WIB. Saat itu, erupsi terekam dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan durasi 89 detik.

Hanya berselang tiga menit, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Pada pukul 21.20 WIB, seismograf mencatat amplitudo maksimum 43 milimeter dengan durasi 31 detik.

Meski sejumlah letusan malam hari tidak teramati secara visual, aktivitas tersebut tetap terekam melalui peralatan pemantauan.

Frekuensi erupsi yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan peningkatan aktivitas vulkanik Anak Krakatau.

Menanggapi kondisi tersebut, Suwarno berharap rangkaian erupsi segera berakhir. Namun, dia menegaskan bahwa aktivitas alam tidak bisa diprediksi secara pasti hanya berdasarkan pola letusan yang terjadi.

"Yang diharapkan jangan besarnya, kalau bisa berhenti. Namun, itu alam, kita tidak bisa menebak," jelas Suwarno.

Menurut dia, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas di tengah aktivitas vulkanik yang masih berlangsung. Pemantauan menggunakan peralatan menjadi salah satu upaya untuk mengetahui perkembangan kondisi gunung api.

"Ya, cuma bisa berharap dan sebisa mungkin menyelamatkan masyarakat banyak, dengan melalui peralatan," katanya.

Meski Anak Krakatau mengalami erupsi berulang, frekuensi letusan tersebut tidak serta-merta memastikan akan terjadi erupsi yang lebih besar. Perkembangan aktivitas gunung api tetap harus mengacu pada hasil pengamatan dan evaluasi petugas berwenang.

Di tengah aktivitas vulkanik yang berlanjut, Suwarno mengingatkan masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki agar tidak mendekati kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Sesuai rekomendasi yang disampaikannya, masyarakat diminta menjauhi kawasan dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. Area tersebut berbahaya karena berpotensi terdampak lontaran material vulkanik.

"Risikonya jika mendekati radius yang sudah direkomendasikan Badan Geologi PVMBG, itu harus kita indahkan karena dikhawatirkan terkena lontaran batu pijar dan debu dari kawah aktif GAK," jelasnya.

Dia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kondisi aman hanya karena letusan tidak terlihat secara langsung. Aktivitas vulkanik tetap dapat terdeteksi melalui instrumen pemantauan meskipun kolom letusan tidak teramati secara visual.

Masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau terus mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi dan petugas pengamatan Gunung Anak Krakatau serta mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan selama aktivitas vulkanik berlangsung.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya