Liputan6.com, Jakarta - Analis JPMorgan menilai, sekitar US$ 50 miliar atau Rp 895,90 triliun(asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di 17.920) telah mengalir ke aset digital sepanjang 2026. Arus masuk ETF lebih kuat dan posisi kontrak berjangka atau futures menciptakan momentum positif menjelang kuartal keempat.
Mengutip the block, ditulis Sabtu (10/10/2026), tim analis JPMorgan yang dipimpin oleh Nikolaos Panigirtzoglou dalam laporan Rabu pekan ini menyebutkan arus masuk saat ini setara dengan laju tahunan US$ 66 miliar atau Rp 11.182 triliun.
Advertisement
Angka ini lebih tinggi dibandingkan laju tahunan US$ 52 miliar atau Rp 931,73 triliun yang tercatat pada Mei. Akan tetapi masih sekitar separuh dari laju tahun lalu.
Para analis biasanya memperkirakan arus dana dengan menggabungkan aliran dana kripto, impuls arus yang tersirat dari kontrak berjangka CME, penggalangan dana modal ventura (venture capital) kripto, serta pembelian aset digital oleh perusahaan penambangan publik dan kas perusahaan (corporate treasury).
Kini, mereka menyatakan telah memperluas cakupan estimasi tersebut dengan memasukkan pembelian oleh kas perusahaan swasta, perusahaan penambang swasta, dan entitas terkait pemerintah.
Kenaikan Arus ETF dan Kontrak Berjangka
Selama paruh pertama tahun ini, analis mencatat arus masuk aset digital terutama berasal dari pembelian bitcoin oleh ETF berbasis strategi (strategy-based ETF) dan pendanaan modal ventura kripto.
Arus ETF kripto sempat menjadi hambatan selama periode tersebut, dengan adanya arus keluar (outflow) besar-besaran pada Mei dan Juni. Namun, arus ETF telah membaik sejak Agustus dan kini mencatatkan angka positif untuk tahun berjalan.
“Kendati demikian, akumulasi arus ETF masih negatif jika diukur sejak penurunan pasar kripto yang dimulai pada 10 Oktober 2025,” ujar para analis.
Posisi institusional dalam kontrak berjangka bitcoin dan ether di CME juga meningkat selama dua bulan terakhir setelah sempat lambat pada awal tahun. Posisi bitcoin telah melampaui puncaknya yang terdahulu, sementara posisi ether mendekati level tertinggi Oktober 2025.
Pelaku Pasar Ikuti Tren
Para analis juga meninjau kontrak berjangka abadi (perpetual futures) di bursa luar negeri dengan membandingkan open interest (jumlah kontrak terbuka) terhadap nilai pasar bitcoin dan ether. Analis menuturkan, indikator leverage tersebut telah turun dari puncaknya sejak koreksi pasar pada 10 Oktober, tetapi masih berada di atas rata-rata historisnya.
Sinyal momentum dari para analis juga menunjukkan pelaku pasar pengikut tren (trend-following traders), termasuk penasihat perdagangan komoditas (commodity trading advisors, telah mulai membangun kembali posisi long (posisi beli) pada bitcoin dan ether.
Terkait pendanaan modal ventura kripto, analis mencatat kondisinya telah membaik sejak 2024, tapi sebagian besar modal kini mengalir ke putaran pendanaan yang lebih sedikit jumlahnya namun bernilai lebih besar, yang dipimpin oleh perusahaan-perusahaan mapan.
Para analis juga mencatat adanya pergeseran dari pendanaan ekuitas menuju pembiayaan utang bagi bisnis infrastruktur yang memiliki arus kas lebih jelas. Menurut mereka, tokenisasi juga semakin mendapat perhatian dalam pendanaan ventura, terutama untuk penggunaan dalam lingkup bisnis-ke-bisnis (B2B).
Penambang Tetap Menjadi Penjual Bersih
Para penambang Bitcoin tercatat sebagai penjual bersih tahun ini, namun total penjualan bersih tersebut masih tergolong moderat, yakni sekitar US$ 1,8 miliar atau Rp 32,25 triliun. Sebagian besar aktivitas penjualan ini berasal dari perusahaan penambangan yang terdaftar di bursa saham publik.
Mereka beralih dari strategi mengakumulasi Bitcoin menjadi menjual koin yang baru ditambang, dan dalam beberapa kasus, mengurangi kepemilikan aset yang ada guna mendanai belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Pembelian aset oleh kas perusahaan (corporate treasury) terutama dilakukan oleh perusahaan publik. Para analis mencatat perusahaan-perusahaan tersebut membeli Bitcoin dalam jumlah besar dengan laju cepat pada awal tahun, serta menyumbang porsi signifikan terhadap total arus masuk aset digital.
Perusahaan swasta melakukan pembelian dalam jumlah yang lebih kecil, kemungkinan karena mereka memiliki opsi pendanaan yang kurang fleksibel serta toleransi yang lebih rendah terhadap fluktuasi harga Bitcoin.
Perusahaan publik mendanai pembelian aset mereka melalui penjualan saham biasa, penerbitan utang, dan saham preferen. Para analis menyebutkan bahwa komposisi pendanaan ini secara bertahap bergeser dari utang menuju saham preferen, sehingga meningkatkan kebutuhan untuk pembayaran bunga dan dividen.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.