Liputan6.com, Jakarta - Harga emas sedikit menguat pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026 (Jumat pagi Jakarta). Kenaikan harga emas dunia terjadi setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan pada sesi sebelumnya, seiring investor menimbang ketidakpastian arah kebijakan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) di tengah kekhawatiran yang meningkat mengenai tingginya tingkat utang Amerika Serikat (AS).
Mengutip CNBC, Jumat (9/10/2026), harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.123,42 per ons pada pukul 14.41 EDT, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 5 Agustus pada Rabu pekan ini. Hal itu akibat tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Advertisement
Selain itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 0,4% menjadi US$ 4.157.
Nilai tukar dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun tetap berada di level tinggi untuk sesi kedua berturut-turut.
"Tingginya imbal hasil tampaknya mempertegas kekhawatiran yang meluas mengenai besarnya tingkat utang. Jika utang terus meningkat, maka emas sebagai antitesis terhadap mata uang fiat dan aset pemerintah kemungkinan besar akan lebih diminati," tutur commodity strategist WisdomTree, Nitesh Shah.
Notulen rapat menunjukkan, para pembuat kebijakan The Fed terpecah pendapatnya bulan lalu mengenai alasan kenaikan suku bunga.
Sementara "sebagian peserta" memandang kenaikan suku bunga diperlukan untuk meredam dampak lonjakan harga energi dan komoditas lainnya, kelompok yang lebih hawkish menganggapnya perlu untuk mengantisipasi munculnya inflasi yang didorong oleh permintaan.
"Notulen tersebut menegaskan fakta bahwa tidak ada jalur kebijakan yang sudah ditetapkan sebelumnya, dan hal ini membuat pasar (emas) menjadi sedikit lebih fluktuatif," Shah menambahkan.
Peluang Kenaikan Suku Bunga
Gubernur Federal Reserve AS, Christopher Waller, pada Kamis menyatakan, kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan besar diperlukan. Namun, ia menambahkan adanya "fleksibilitas" terkait laju kenaikan tersebut dan membuka peluang bagi jeda kenaikan suku bunga pada Oktober.
Para pelaku pasar melihat adanya peluang sebesar 17% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober, tetapi memperhitungkan probabilitas sebesar 81% untuk kenaikan pada Desember, menurut perangkat FedWatch dari CME.
Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding). Di ranah geopolitik, kapal tanker menghadapi risiko serangan dan intimidasi yang lebih tinggi saat berupaya meloloskan pengiriman penting melalui Selat Hormuz, setelah Iran mengeluarkan peringatan baru mereka akan memblokir rute-rute yang tidak mereka izinkan, menurut sejumlah sumber.