Suahasil Ungkap Defisit APBN Tembus Rp 319 Triliun per September 2026

Menkeu Suahasil Nazara menuturkan, belanja negara akan dipercepat pada November dan Desember 2026.

oleh Arief Rahman HakimDiterbitkan 08 Oktober 2026, 20:32 WIB
Menteri Keuangan Suahasil Nazara (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mengungkapkan angka defisit APBN mencapai Rp 319 triliun hingga akhir September 2026. Menurut dia, angka ini masih masuk dalam perhitungan negara.

Dia mengungkapkan angka terbaru APBN hingga September 2026. Defisit Rp 319 triliun itu setara dengan 1,24% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Defisit APBN di angka Rp 319,0 triliun, dan defisit 1,24% PDB, dan memang APBN kita dari sejak awal didesain untuk defisit. Artinya kita desain supaya belanja negara bisa lebih tinggi dari apa yang kita kumpulkan dari masyarakat, pendapatan negara," ungkap Suahasil di Hotel Raffles, Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Dia mengungkapkan pemerintah sudah mengantongi pendapatan senilai Rp 2.341,5 triliun atau 74,5% dari target APBN 2026. Angka tersebut dinilai masih sesuai dengan rencana.

"Belanja negara sudah dibelanjakan Rp 2.660,5 triliun, ini adalah 69%, relatively on track, tentu nanti akan ada percepatan belanja, terutama di bulan November dan di bulan Desember. Tetapi 3 per 4 tahun belanja hampir 70%, ini artinya juga oke, on track," jelas dia.

Suahasil menegaskan, kinerja APBN tetap dijaga untuk berperan mendorong pertumbuhan ekonomi dan tetap kredibel. Dia menjelaskan, adanya defisit APBN diperlukan untuk memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

"Angka-angkanya kita jaga sehingga dapat dipercaya bahwa APBN ini adalah APBN yang mengumpulkan uang dari rakyat, namun juga belanjanya ada kembali lagi kepada masyarakat Indonesia. Menuju tahun depan, kita melihat bahwa kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," beber dia.

Fiskal dan Danantara Saudara Kembar

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan kas negara melalui APBN dan BUMN dalam kelolaan Dananatara layaknya saudara kembar. Keduanya disebut memiliki peran yang saling melengkapi untuk mencapai visi Presiden Prabowo Subianto.

Suahasil tak menyiratkan pemisahan yang lebar antara fiskal dan Danantara. Koordinasi lintas lembaga berjalan terus menerus dan bekerja beriringan.

"Fiskal sama Danantara itu, saudara kembar, kerjanya bareng, sinerginya harus terjadi, komunikasinya harus lancar," kata Suahasil di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.

 

Langkah Penting

Menkeu Suahasil Nazara (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Dia menjelaskan, pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada 2025 lalu merupakan satu tonggak penting. Aset BUMN sebagai kekayaan negara yang dipisahkan menjadi motor penggerak dan berperan menopang ekonomi nasional.

"Membentuk Danantara, tingkatkan kapasitas investasi, gabungkan seluruh kekayaan negara yang dipisahkan, gabungkan, sinergikan, buat supaya lebih efisien, sehingga saya yakin nanti Pak Dony (Dony Oskaria COO Danantara) akan menguraikan ruang-ruang efisiensi yang membuat Danantara bisa bekerja lebih keras, lebih kuat, bersama APBN," jelas dia.

Kejar Visi Presiden

Sebagai bagian yang tak jauh dari anggaran negara, Suahasil memandang kedekatan BUMN dan fiskal atau APBN ini cukup erat. Keduanya sama-sama bekerja untuk mencapai visi-misi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

"Makanya tadi saya buka dengan APBN dan Danantara itu, mau dibilang anak kembar boleh, mau dibilang saudara dekat boleh, mau dibilang teman bekerja sejalan boleh. Untuk apa? Untuk mewujudkan visi-visi besar Presiden, untuk mewujudkan visi-visi besar Republik Indonesia," bebernya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya