Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Kamis 8 Oktober 2026. Mata uang Indonesia ini turun 28 poin atau 0,16% ke level 17.915 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di 17.866 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah kali ini terdorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik akibat ancaman serangan militer AS ke Iran.
Advertisement
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah DXY, yield UST dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik oleh ancaman serangan militer AS terhadap Iran," ucapnya dikutip Antara, Kamis (8/10/2026).
Mengutip laporan Sputnik, pemerintah AS dikabarkan telah meminta Departemen Perang menyusun berbagai skenario serangan ke Iran menjelang gelaran pemilu paruh waktu Kongres pada November mendatang.
Berdasarkan laporan The Atlantic yang mengutip dua pejabat pemerintahan, Komando Pusat AS (CENTCOM) memang sedang menggodok rencana tersebut, walau keputusan akhir terkait eksekusi serangan belum final. Hingga kini, pembahasan mengenai batasan serta sasaran dari potensi serangan masih terus bergulir.
Memanasnya tensi geopolitik ini ditengarai mencerminkan ambisi Presiden AS Donald Trump untuk menekan harga bensin sekaligus mengamankan capaian politik menjelang pemilu paruh waktu.
Faktor Pemicu dari Dalam Negeri
Tak cuma faktor global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri seiring rilis indeks kepercayaan konsumen periode September 2026 yang tampak melesu ketimbang bulan sebelumnya.
"Data yang menunjukkan penurunan pada indeks kepercayaan konsumen Indonesia dari 118,5 ke 118,1 ikut membebani rupiah," kata Lukman.
Sejalan dengan kondisi di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini turut meluncur turun ke level Rp17.890 per dolar AS dari posisi sebelumnya di 17.880 per dolar AS.