Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengambil peran utama sebagai investor katalis untuk memacu investasi dan hilirisasi demi mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Langkah ini ditempuh guna mendukung visi pemerintah mengubah struktur ekonomi Indonesia dari berbasis komoditas (commodity-based) menjadi berbasis industri (industrial-based).
"Lalu apa orientasi dari pemerintah? Kita ingin mengubah basis ekonomi kita dari commodity-based menjadi industrial-based economy," ujar Chief Operating Officer (COO)Danantara sekaligus CEO Danantara Asset Management, Dony Oskaria, di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Advertisement
Dony menjelaskan bahwa pemerintah tengah merombak berbagai regulasi untuk mendorong percepatan industrialisasi. Danantara hadir sebagai pemicu masuknya arus investasi ke sektor-sektor manufaktur, salah satunya diwujudkan lewat alokasi dana berkapasitas besar di sektor hilirisasi.
"Tahun ini kita berinvestasi Rp 225 triliun dalam bentuk hilirisasi yang kita harapkan dapat membuka banyak lapangan pekerjaan baru," kata Dony.
Komitmen investasi ini diproyeksikan terus tumbuh guna memenuhi kebutuhan investasi nasional yang diperkirakan menembus Rp 1.200 triliun pada 2027 mendatang demi menopang target pertumbuhan ekonomi 6%.
Dorong Industri Padat Karya dan Pangkas BUMN
Selain memfokuskan dana pada hilirisasi, Danantara juga mendorong kebangkitan industri padat karya, seperti manufaktur tekstil. Strategi ini diambil untuk memperluas penyerapan tenaga kerja di sektor formal.
"Kita mendorong pertumbuhan industri tekstil kembali. Pemerintah akan merombak deregulasi untuk memicu percepatan industrialisasi kita," tutur Dony.
Upaya memberikan ruang bagi sektor swasta ini diimbangi dengan pembenahan besar-besaran di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dony mengungkapkan bahwa jumlah BUMN yang saat ini mencapai 1.074 perusahaan akan dipangkas secara signifikan hingga menyisakan sekitar 200 perusahaan saja.
Nantinya, BUMN yang tidak bergerak di lini bisnis inti (core business) akan dilikuidasi atau dialihkan pengelolaannya kepada swasta.
"Peran sektor swasta harus kita dorong semaksimal mungkin. Mustahil pertumbuhan ini hanya dijalankan oleh Danantara sendiri. Lebih dari 800 BUMN akan kita tutup dan sektor yang bukan core diserahkan ke swasta," tegas Dony.