Liputan6.com, Jakarta - Bank of Japan (BOJ) atau Bank Sentral Jepang memperingatkan tekanan inflasi di Jepang mulai meluas. Kenaikan biaya bahan baku kini semakin banyak diteruskan perusahaan ke harga barang konsumsi, bahkan sejumlah perusahaan menaikkan harga lebih sering.
Dalam laporan setelah pertemuan triwulanan dengan para kepala cabang regional pada Kamis, BOJ menyebut banyak perusahaan di berbagai wilayah mulai meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen.
Advertisement
"Di banyak wilayah, perusahaan meneruskan berbagai kenaikan biaya," tulis BOJ dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (8/10/2026).
Kenaikan tersebut mencakup biaya bahan baku akibat konflik di Timur Tengah, pelemahan yen, serta meningkatnya biaya tenaga kerja.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang akan dipertimbangkan BOJ dalam pertemuan kebijakan moneter bulan ini. Kondisi itu sekaligus memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral Jepang akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini.
BOJ menaikkan penilaian ekonomi untuk dua dari sembilan wilayah di Jepang. Sementara itu, pandangan terhadap tujuh wilayah lainnya dipertahankan. Secara keseluruhan, BOJ menilai perekonomian di seluruh wilayah masih dalam tahap pemulihan moderat.
Permintaan AI Topang Ekonomi Jepang
Di tengah meningkatnya tekanan harga, BOJ memberikan pandangan positif terhadap prospek ekonomi Jepang. Permintaan yang kuat terkait teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) disebut mendorong produksi domestik di sejumlah sektor.
Permintaan tersebut terlihat pada industri barang elektronik dan mesin hingga pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
Minat investasi perusahaan juga masih kuat, terutama untuk pembangunan pusat data dan investasi digitalisasi. BOJ juga menilai dampak konflik di Timur Tengah terhadap dunia usaha mulai mereda.
"Karena permintaan AI yang kuat, beberapa perusahaan mempertimbangkan untuk meningkatkan investasi, dan tren ini semakin meluas," kata Kenji Fujita, Kepala Cabang BOJ Osaka yang mengawasi wilayah Kinki di Jepang bagian barat.
Wilayah Kinki merupakan salah satu pusat industri elektronik Jepang.
Namun, para kepala cabang BOJ juga menyoroti tekanan harga yang semakin meluas. Perubahan biaya input yang cukup bergejolak membuat sejumlah perusahaan menaikkan harga lebih sering dibandingkan sebelumnya.
"Upaya untuk meneruskan kenaikan biaya telah menyebar ke perusahaan yang lebih dekat dengan konsumen," kata para kepala cabang BOJ.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan kenaikan harga tidak lagi hanya terjadi di tingkat produsen, tetapi mulai terasa secara langsung oleh konsumen.
BOJ Waspadai Inflasi Berlanjut
Kenaikan inflasi di tingkat grosir menjadi salah satu indikator yang digunakan BOJ untuk melihat meningkatnya tekanan harga. Perkembangan tersebut turut menjadi pertimbangan bank sentral ketika menaikkan suku bunga sebanyak dua kali tahun ini.
Kini, perhatian BOJ tertuju pada seberapa besar kenaikan harga di tingkat produsen diteruskan menjadi inflasi konsumen dan bagaimana dampaknya terhadap konsumsi rumah tangga.
Para kepala cabang BOJ mengatakan konsumsi sejauh ini masih cukup kuat karena kenaikan upah mampu mengimbangi dampak meningkatnya biaya hidup. Namun, sebagian perusahaan memilih tidak menaikkan harga atau memberikan diskon untuk menarik konsumen yang masih berhati-hati dalam berbelanja.
"Tekanan inflasi akan terus berlanjut akibat konflik di Timur Tengah, kenaikan harga chip karena ledakan AI global, dan pelemahan yen," kata Hiroshi Kamiguchi, Kepala Cabang BOJ Nagoya.
"Penyaluran kenaikan biaya kepada konsumen akan semakin intensif mulai sekarang, sehingga kita perlu mencermati dampaknya terhadap konsumsi," lanjutnya.
BOJ menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 31 tahun pada bulan lalu. Pada pertemuan 29-30 Oktober, BOJ akan merilis proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang akan menjadi perhatian pasar untuk melihat waktu kenaikan suku bunga berikutnya.