Rupiah Menguat ke 17.871 per Dolar AS, Cadangan Devisa Jadi Penopang

Rupiah menguat ke 17.871 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Cadangan devisa menjadi salah satu penopang.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 08 Oktober 2026, 11:30 WIB
Teller menukarkan mata uang dolar ke rupiah di Jakarta. Rupiah diperkirakan berada di kisaran 17.850 per dolar AS hingga 17.950 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Kamis. Penguatan rupiah ditopang ketahanan cadangan devisa (cadev) Indonesia yang masih berada pada level tinggi meski terjadi arus keluar bersih di pasar portofolio.

Mengutip data perdagangan, rupiah menguat 16 poin atau 0,09 persen menjadi 17.871 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 17.887 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan ketahanan rupiah turut didukung posisi cadangan devisa Indonesia pada September 2026 yang hanya mengalami penurunan tipis.

“Ketahanan rupiah juga didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang hanya turun tipis sebesar US$ 0,2 miliar menjadi US$ 146,3 miliar pada September 2026, meskipun terjadi net outflow di pasar portofolio,” ucapnya dikutip dari Antara, Kamis (8/10/2026).

Josua menjelaskan, posisi cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.

Di sisi lain, terdapat pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo. Bank Indonesia juga melakukan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah untuk merespons tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

 

Rupiah Masih Dibayangi Sikap The Fed

Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta. Rupiah diperkirakan berada di kisaran 17.850 per dolar AS hingga 17.950 per dolar AS. (Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Josua menuturkan, pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu cenderung sideways. Meski demikian, kinerja rupiah tercatat lebih baik dibandingkan mayoritas mata uang Asia.

“Rupiah bergerak sideways dan mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan mayoritas mata uang Asia. Sebagian besar mata uang regional melemah seiring meningkatnya tensi di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak,” kata Josua.

Selain perkembangan geopolitik dan harga minyak, pasar juga mencermati arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

The Fed telah merilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026. Dalam notulen tersebut, seluruh 19 anggota voting disebut mendukung kenaikan suku bunga acuan.

“Mayoritas anggota juga mendukung kenaikan suku bunga kembali sebelum akhir tahun, terutama karena tekanan inflasi yang persisten dan masih sticky,” ujar dia.

Prospek kenaikan suku bunga The Fed dapat menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Josua memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam rentang terbatas dalam perdagangan mendatang.

Rupiah diperkirakan berada di kisaran 17.850 per dolar AS hingga 17.950 per dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya