Houthi Serang 2 Bandara, Harga Minyak Dunia Kembali Sentuh US$ 101

Harga minyak dunia merangkak naik imbas serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 07 Oktober 2026, 19:25 WIB
Kilang minyak. Harga minyak mentah acuan internasional jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember naik 0,44% menjadi US$ 101,02 per barel. (Foto: AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia merangkak naik pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Penguatan ini dipicu oleh serangan kelompok Houthi asal Yaman ke Arab Saudi, sehingga kembali menimbulkan kekhawatiran terkait kelancaran pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip CNBC, Rabu (7/10/2026), harga minyak mentah acuan internasional jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember naik 0,44% menjadi US$ 101,02 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak pengiriman November relatif stabil di posisi US$ 89,46 per barel.

"Harga minyak saat ini masih terjebak di antara pemulihan pasokan fisik dan risiko geopolitik yang terjadi terus-menerus," ungkap Chief Investment Officer Zaye Capital Markets, Naeem Aslam.

Meski demikian, pemulihan pasokan minyak melalui pipa East-West terus berjalan hingga mencapai 5,8 juta barel pada Selasa pagi, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman.

Namun, kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan susulan di Timur Tengah masih membayangi sentimen investor.

 

Serangan ke 2 Bandara

Anggota kelompok Houthi di Sanaa, Yaman, Kamis (10/9/2026). (Dok. AP Photo)

Otoritas penerbangan Arab Saudi melaporkan bahwa Bandara Jazan dan Najran menjadi sasaran serangan pada Selasa lalu.

Serangan tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik antara Houthi dan Arab Saudi, yang kian menambah ketidakpastian terhadap stabilitas pasokan minyak dari kawasan tersebut ke depannya.

Langkah Iran yang meningkatkan aksi penyerangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz turut memicu kekhawatiran para pelaku pasar (trader), lantaran berisiko menghambat pemulihan ekspor minyaknya.

"Kemampuan Houthi di Yaman yang masih sanggup menargetkan fasilitas minyak hingga ratusan kilometer dari perbatasan membuat risiko gangguan pasokan minyak mentah skala besar tetap tinggi," jelas Analis Pasar Senior di platform perdagangan XS.com, Samer Hasn.

Ia menambahkan, risiko ini berpotensi memburuk apabila kelompok Houthi merasa perlu meningkatkan tekanan politik maupun militer akibat kehilangan wilayah kekuasaan. Kondisi ini memaksa pasar untuk tetap waspada terhadap potensi eskalasi konflik lanjutan di kawasan Timur Tengah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya