Arthur Hayes Ramal Ledakan AI Berujung Crash, Kripto Bisa Kecipratan Untung

Mantan CEO BitMex, Arthur Hayes menuturkan, pembangunan pusat data secara masif akan membuat daya komputasi sangat murah.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 07 Oktober 2026, 15:29 WIB
Ilustrasi kripto. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Mantan CEO BitMEX, Arthur Hayes, bertaruh lonjakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada akhirnya akan menghasilkan skenario yang familier. Hal itu antara lain investasi berlebihan, kejatuhan pasar (crash), dan pada akhirnya, dana talangan (bailout) yang mendorong harga kripto naik lebih tinggi.

Mengutip CNBC, Rabu, (7/10/2026), Hayes, salah satu pendiri dan kepala investasi di perusahaan investasi kripto Maelstrom menuturkan, umat manusia sedang "membuang dana bernilai triliunan dolar AS" untuk membangun pusat data AI.

"Pembangunan pusat data secara masif ini pada akhirnya akan membuat daya komputasi menjadi "sangat murah dan sangat melimpah," ujar Hayes.

Pandangan ini bertolak belakang dengan arus investasi besar-besaran yang masuk ke infrastruktur AI, di mana perusahaan-perusahaan teknologi berlomba-lomba mengamankan daya komputasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan menjalankan model AI yang semakin canggih. Hayes melihat pembangunan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan kelebihan kapasitas, yang memicu penurunan pasar yang ia yakini pada akhirnya akan menguntungkan kripto.

"Jika Anda mempelajari sejarah keuangan dan setiap peluncuran teknologi besar, selalu terjadi pembangunan yang berlebihan. Selalu ada kejatuhan pasar, dan selalu ada dana talangan," kata Hayes, mengutip CNBC, Rabu pekan ini.

Hayes menuturkan, investor yang memosisikan diri untuk mengantisipasi dana talangan tersebut berpotensi meraih keuntungan. Ia merujuk pada dampak krisis keuangan 2008 dan peristiwa-peristiwa lain dalam dua dekade terakhir.

"Untungnya, kita memiliki bitcoin dan kripto lainnya untuk menyerap kelebihan likuiditas tersebut, sehingga kita tahu aset mana yang akan berkinerja terbaik saat dana talangan itu datang," kata Hayes.

Ia menambahkan, Anda hanya perlu bersabar.

 

 

Pengguna Akhir Data

Ilustrasi kripto (Foto: Unsplash/Andre Francois M.)

Hayes menuturkan, SpaceX, OpenAI, dan Anthropic termasuk di antara pengguna akhir yang mendorong permintaan akan daya komputasi, dan tak satu pun dari mereka menghasilkan keuntungan.

“Begitu pusat data yang saat ini dibangun rampung, penyedia infrastruktur akan menagih pembayaran atas daya komputasi yang telah disepakati oleh perusahaan-perusahaan tersebut, ujar dia.

Menurut Hayes, hal itu bisa terjadi pada akhir 2027 atau 2028, saat sebagian besar kapasitas pusat data baru mulai beroperasi.

Hayes menuturkan, skenario positifnya adalah AI menjadi "sangat bermanfaat" dalam 12 bulan ke depan sehingga permintaan tumbuh cukup besar bagi perusahaan AI untuk menjadi menguntungkan.

Hayes mengatakan, beberapa perusahaan yang mendukung lonjakan AI ini sudah menghasilkan keuntungan. Ia seraya menunjuk pada produsen cip memori dan Nvidia.

“Pertanyaan bagi para investor adalah apakah mereka membayar kelipatan harga yang tepat untuk estimasi laba masa depan perusahaan-perusahaan tersebut,” ia menambahkan.

 

Tidak Tertarik Short Selling Perusahaan AI

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Hayes juga mengatakan tidak tertarik bertaruh pada penurunan harga atau melakukan short selling terhadap perusahaan AI menyebutnya sebagai langkah yang bukan peluang investasi yang sangat bagus. Akan tetapi, ia menambahkan, secara historis, peluncuran teknologi besar sering kali mengalami pembangunan kapasitas yang berlebihan.

Melimpahnya daya komputasi yang tercipta akibat pengembangan infrastruktur AI juga menjadi latar belakang usaha kripto terbaru Hayes, yaitu Flop; sebuah proyek pembayaran untuk agen AI yang dijadwalkan meluncur pada kuartal pertama 2027.

“Daya komputasi yang lebih murah dan melimpah akan memungkinkan agen AI untuk berkembang pesat, ujar Hayes.

Proyek barunya, Flop, bertujuan menciptakan pasar spot untuk daya komputasi, di mana para partisipan mendapatkan imbalan berupa token Flop karena telah menyediakan GPU dan menjalankan proses inferensi AI.

Hayes menuturkan, saat ini belum ada jaringan pembayaran khusus untuk agen AI. Flop hadir untuk menciptakan pasar spot bagi kebutuhan komputasi tersebut.

"Jika agen AI dapat mengubah mata uang secara langsung menjadi daya komputasi, yang merupakan 'makanan' atau sumber daya yang mereka konsumsi, maka mereka akan menggunakan mata uang ini," ujar Hayes.

"Itulah taruhan kami,” ia menambahkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya