Rupiah Menguat ke 17.866, Investor Menanti Risalah Pertemuan FOMC

Sejumlah sentimen akan membayangi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), salah satunya risalah FOMC. Berikut prediksi rupiah.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 07 Oktober 2026, 11:33 WIB
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) naik pada pembukaan perdagangan Rabu, (7/10/2026). Analis menilai, kenaikan rupiah terhadap dolar AS ini di tengah investor menantikan rilis data cadangan devisa (cadev) dan risalah pertemuan atau minutes Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu malam.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan menguat 33 poin atau 0,18% menjadi 17.866 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.899 per dolar AS.

"Rupiah diperkirakan dibuka datar terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas. Investor cenderung wait and see menantikan data cadev Indonesia siang ini dan risalah pertemuan (minutes) FOMC malam ini,” ujar dia.

Mengutip Anadolu, para investor yang tengah menantikan risalah rapat Federal Reserve bulan September dilakukan untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut mengenai keputusan para pembuat kebijakan untuk menaikkan suku bunga serta penilaian mereka terhadap risiko inflasi.

Menurut data CME FedWatch, sebagaimana laporan Xinhua, para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 24 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed Oktober, turun dari 71 persen seminggu yang lalu.

Adapun data cadev Indonesia, diperkirakan akan menurun dari US$ 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026 ke US$ 144 miliar.

"Indeks dolar AS sendiri terpantau terkoreksi oleh rebound pada Euro,” ujar Lukman.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan di 17.850-17.950 per dolar AS.

Rupiah Menguat ke 17.899 per Dolar AS, Terdongkrak Sinyal The Fed

Petugas menata mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 0,22 persen atau 34 poin ke Rp15.616,5 per dolar AS. Hal tersebut terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS 0,16 persen ke 104,41. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Rupiah naik 18 poin atau 0,10% ke level 17.899 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di level 17.917 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, mengungkapkan bahwa performa positif mata uang Garuda didorong oleh makin minimnya peluang Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga acuan.

"Data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang," kata Ibrahim dikutip Antara, Selasa (6/10/2026).

Melandainya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS dipicu oleh serangkaian data ekonomi lokal yang berada di bawah estimasi pasar:

Inflasi PCE: Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index berada di level 3,4% secara tahunan (year on year/yoy) pada Agustus 2026, lebih rendah dari konsensus sebesar 3,7% yoy.

Nonfarm Payrolls (NFP): Penambahan lapangan kerja sektor non-pertanian pada September 2026 tercatat hanya 29 ribu, anjlok drastis dibanding Agustus yang mencapai 133 ribu. Angka ini jauh di bawah proyeksi para ekonom yang memperkirakan kenaikan 84 ribu hingga 90 ribu.

Revisi Lapangan Kerja: Data NFP dua bulan sebelumnya direvisi turun hingga 60 ribu pekerjaan. Penambahan Juli direvisi dari plus 21 ribu menjadi minus 10 ribu, sementara Agustus direvisi dari 162 ribu menjadi 133 ribu.

Pengangguran: Tingkat pengangguran AS merangkak naik menjadi 4,2% pada September 2026 dari bulan sebelumnya sebesar 4,1%.

 

Kilas Domestik

Bank Indonesia (BI) juga menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah ini sejalan dengan pergerakan mata uang Asia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kondisi tersebut membuat pasar memperkirakan probabilitas The Fed menahan suku bunga mencapai lebih dari 80% bulan ini, serta peluang kenaikan 25 basis poin pada Desember menyentuh 95%.

"Saat ini, pasar menantikan rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September pada Rabu, 7 Oktober 2026 serta data klaim awal tunjangan pengangguran pada Kamis (8/10)," tambah Ibrahim.

Dari dalam negeri, rupiah mendapat angin segar setelah Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 sebesar 0,5 poin persentase menjadi 5,2%.

"Lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momen Ramadhan dan Idul Fitri yang datang lebih awal, pencairan THR (Tunjangan Hari Raya) dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal," jelas Ibrahim.

Meski demikian, pasar tetap mencerminkan kehati-hatian atas beberapa indikator domestik:

  • Manufaktur & Konsumen: Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Agustus melandai ke level 49,3, sedangkan Indeks Kepercayaan Konsumen Juli turun ke 116,8.
  • Defisit & Inflasi: Defisit transaksi berjalan 2026 diperkirakan melebar ke 1,5% dari PDB. Sementara inflasi diproyeksikan berada di sekitar batas atas target Bank Indonesia dan pemerintah (2,5±1%).

Penguatan mata uang lokal juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang ditutup menguat ke level 17.910 per dolar AS, dari posisi sebelumnya 17.917 per dolar AS.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya