AS Minta Rusia Lebih Transparan soal Kematian Pekerja Laboratorium Pes di Siberia

Berbagai spekulasi berkembang seputar isu ini menyusul kengerian Black Death.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 07 Oktober 2026, 08:44 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Reykjavik - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mendesak Rusia membuka lebih banyak informasi mengenai kematian seorang pekerja laboratorium di pusat penelitian penyakit pes di Siberia.

Kematian perempuan berusia 28 tahun itu memicu berbagai spekulasi mengenai penyebabnya.

Pejabat Rusia mengatakan penyebab kematian masih diselidiki. Semua orang yang diketahui sempat melakukan kontak dengan korban telah menjalani pemeriksaan dan dinyatakan negatif pes paru (pneumonic plague).

"Saya kira Rusia berkewajiban memberikan lebih banyak informasi kepada dunia," kata Rubio kepada wartawan seperti dilaporkan BBC. "Kami terus memantaunya dengan sangat ketat, dari jam ke jam."

Laporan mengenai kasus tersebut pertama kali muncul pada Jumat (2/10/2026). Hampir 200 orang dilaporkan berada dalam pemantauan di wilayah Irkutsk, Siberia, menyusul kematian perempuan tersebut.

Pekerja laboratorium itu, yang disebut media Rusia bernama Darya Shipilova, dilaporkan mulai jatuh sakit beberapa hari sebelumnya.

Sejumlah laporan yang belum terkonfirmasi menyebut Shipilova jatuh sakit setelah memecahkan tabung reaksi berisi patogen. Laporan lain menyebut penyakitnya muncul setelah ia mengikuti kegiatan lapangan di wilayah tempat bakteri penyebab pes secara alami ditemukan pada hewan pengerat liar.

Sementara itu, Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, mengatakan perempuan itu meninggal akibat "pneumonia yang penyebabnya belum diketahui".

Dalam pernyataan Rusia yang dibacakan juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Christian Lindmeier pada Selasa (6/10) disebutkan, "Tidak ada kasus penyakit berbahaya yang tercatat di Kota Irkutsk."

Berdasarkan aturan kesehatan internasional, Rusia berkewajiban melaporkan setiap wabah kepada WHO.

Pernyataan itu juga menyebut seluruh orang yang melakukan kontak dengan pasien telah diidentifikasi dan kini dipantau untuk melihat kemungkinan munculnya gejala.

"Sejauh ini, tidak ada satu pun yang menunjukkan gejala penyakit," demikian isi pernyataan tersebut.

Pada Selasa, spekulasi yang terus berkembang mengenai kasus itu memicu saling tanggapan antara Rusia dan AS. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kemungkinan penyakit tersebut menyebar ke luar Rusia.

Saat berkunjung ke Islandia, Rubio mengatakan AS memiliki sejumlah "langkah" yang dapat digunakan untuk membantu Rusia apabila situasinya ternyata lebih serius daripada yang selama ini disampaikan.

Rospotrebnadzor kemudian membalas dengan menawarkan bantuan kepada AS.

"Federasi Rusia siap membantu AS dalam menangani wabah penyakit menular," kata lembaga tersebut.

Presiden Donald Trump telah menyampaikan perhatian serupa. Trump mengatakan pemerintahannya tengah mencermati kasus tersebut dengan sangat serius.

Menurut Washington Post, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Kementerian Luar Negeri AS, serta Badan Kesiapsiagaan dan Respons Strategis AS (ASPR) tengah menyiapkan respons AS terhadap kasus tersebut.

 

Penyakit Tidak Terdeteksi

Ketika ditanya mengenai kematian perempuan tersebut setelah pernyataan Rubio, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov merujuk pada hasil pemeriksaan Rospotrebnadzor.

Saat ditanya mengenai tawaran bantuan dari AS, Peskov mengatakan, "Hal yang baik ketika ada tawaran untuk saling membantu."

Pada Selasa, Rospotrebnadzor juga mengeluarkan pernyataan untuk membantah informasi dalam sebuah dokumen yang beredar di internet mengenai dugaan penerapan langkah khusus untuk menangani wabah pes.

"Kami ingin menegaskan bahwa dokumen dan informasi tersebut tidak berasal dari sumber resmi dan tidak benar," kata Rospotrebnadzor melalui Telegram.

Bakteri penyebab pes, Yersinia pestis, ditemukan pada hewan pengerat seperti marmot di wilayah tersebut.

Bakteri ini menyebabkan wabah yang menewaskan hingga separuh populasi Eropa pada Abad ke-14, yang dikenal sebagai Black Death atau Maut Hitam.

Anti-Plague Institute of Siberia and the Far East didirikan lebih dari 100 tahun lalu sebagai respons terhadap wabah yang terjadi pada dekade 1920-an.

Dr Simon Clarke, profesor madya bidang mikrobiologi seluler di University of Reading, mengatakan kepada program PM di BBC Radio 4 bahwa pes paru yang disebabkan bakteri Yersinia pestis hampir selalu berakibat fatal jika tidak diobati. Namun, penyakit tersebut dapat ditangani dengan antibiotik.

"Pes paru dapat menular dari manusia ke manusia. Karena itulah muncul kekhawatiran terkait kasus ini," katanya.

Namun, Clarke mengatakan situasi tersebut tidak akan berkembang seperti pandemi COVID-19.

"Setiap kali muncul wabah penyakit menular, orang tentu langsung teringat lockdown dan COVID. Namun, hal seperti itu tidak akan terjadi dalam kasus ini," tuturnya.

"Orang mungkin berpikir, 'Oh, wabah pes sudah tidak ada. Itu kan terjadi ratusan tahun lalu.' Padahal, penyakit itu belum hilang. Penyakit ini masih menjadi ancaman bagi kesehatan manusia. Karena itulah penyakit tersebut perlu terus diteliti."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya