Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah warga gereja asal Sumatera Utara yang berada di perantauan mulai membangun wadah bersama untuk memperkuat kontribusi sosial bagi daerah asal.
Gagasan itu mengemuka dalam Rapat Kerja (Raker) I Persaudaraan Warga Gereja Sumatera Utara (PWGSU) di Villa Macarena, Puncak, Bogor, 4-6 September 2026.
Advertisement
Mengusung tema “Bersatu dalam Kasih, Berkarya bagi Sumatera Utara dan Diasporanya di Mana Pun Berada”, pertemuan tersebut menjadi ruang bagi warga gereja lintas denominasi untuk menyatukan visi sekaligus menyusun fondasi organisasi.
Raker dipimpin Majelis Pimpinan Sidang yang terdiri atas St. Kapler Marpaung, St. Darwin Simorangkir, Beesokhi Ndruru, Pdt. Jan Kris Sinaga dari GKPS, dan Pitua Simanjuntak. Sejumlah pimpinan gereja, tokoh masyarakat, tim pra-formatur, serta panitia pelaksana turut hadir.
Raker ini juga terlaksana sebagai hasil kerja dari formatur yang terdiri atas perwakilan 9 pemuda denominasi gereja di PWGSU, dengan dipimpin Ruben Hutabarat dan Abraham Pardede
Dalam pertemuan tersebut, peserta menyusun sejumlah perangkat awal organisasi yang rencananya akan disahkan pada Raker II. Di antaranya usulan nama resmi organisasi, rancangan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), struktur organisasi, hingga pembagian wilayah kerja.
Forum juga menampung sejumlah nama yang diusulkan sebagai calon Ketua Umum dan Ketua Dewan Pengawas untuk periode pertama.
Pimpinan Sidang PWGSU, St. Kapler Marpaung, mengatakan gagasan membentuk wadah tersebut telah muncul sejak awal 2025 melalui diskusi informal sejumlah tokoh. Salah satu penggagasnya adalah Dumoly F. Pardede.
Menurut Kapler, proses yang berlangsung lebih dari setahun itu kini mulai mengerucut pada pembentukan organisasi dengan fondasi yang lebih jelas.
Kerinduan untuk menyatukan potensi warga gereja asal Sumatera Utara menjadi salah satu alasan pembentukan PWGSU. Tokoh warga gereja Nias, Beesokhi Ndruru, dan perwakilan warga gereja Simalungun, Dr. Salomo R. Damanik, menyebut organisasi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bersama untuk memperluas kontribusi sosial.
Sementara itu, Junita Sari Ujung yang mewakili unsur warga gereja Pakpak menekankan pentingnya persatuan sebagai pijakan dalam menjalankan kegiatan organisasi.
Siapkan Program Sosial dan Tenaga Kerja
PWGSU tidak hanya menyiapkan struktur organisasi. Sejumlah program juga mulai dirancang, termasuk program yang menyasar persoalan sosial dan peluang kerja bagi generasi muda.
Ketua Pembentukan PWGSU, Dumoly F. Pardede, menyebut salah satu program yang disiapkan adalah pembentukan Bala Bantuan Sosial, Kemanusiaan, dan Moral.
Program tersebut dirancang sebagai jaringan relawan yang dapat dikerahkan untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan sosial maupun bencana.
Program lainnya berkaitan dengan penyaluran dan penempatan tenaga kerja profesional ke luar negeri. PWGSU ingin memberikan pembekalan sekaligus membuka akses karier global bagi generasi muda yang memiliki keterampilan.
Selain program, organisasi juga mulai menyusun peta perluasan wilayah. Pada tahap awal, penguatan basis akan dilakukan di Sumatera Utara, Jabodetabek, dan Jawa Barat.
Selanjutnya, PWGSU menargetkan perluasan ke sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Riau, Sumatera Selatan, dan Lampung. Jika program penempatan tenaga kerja profesional di luar negeri berkembang, perwakilan PWGSU juga direncanakan hadir di sejumlah negara seperti Jepang, Australia, dan negara-negara Eropa.
Diingatkan Tak Putus dengan Kampung Halaman
Anggota DPD RI asal Sumatera Utara, Badikenita Putri Sitepu, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengingatkan PWGSU agar mengambil peran dalam persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia menyoroti sejumlah isu seperti bencana alam, ancaman narkoba, serta pentingnya menjaga hubungan generasi muda perantauan dengan kampung halaman atau Bonapasogit.
Dukungan terhadap pembentukan wadah tersebut juga datang dari sejumlah pimpinan gereja yang hadir dalam Raker I.
Di antaranya Praeses Distrik VII GKPS Pdt. Jan Kris H. Sinaga, S.Th., Kepala Diakonia HKBP Distrik VIII Pdt. Operancis Simanungkalit, S.Th., Pdt. Anggiat Hutabarat, S.Th., M.M. dari HKBP, Praeses HKI Daerah VII Jawa-Bali Pdt. Saidon Ambarita, S.Th., Pendeta Resort GKPPD Jakarta Pdt. Psalmen Padang, M.Th., serta Praeses GKPA Distrik IV Jawa-Sumbagsel Pdt. Darwin Butarbutar, M.Th.
Pembentukan PWGSU melibatkan sejumlah unsur gereja, antara lain HKBP, GKPA, GKPPD, BNKP, HKI, GKPS, GBKP, GKI, dan Katolik.
Tim pra-formatur bertugas menyusun landasan awal organisasi, sedangkan kepanitiaan Raker I dipimpin Irwan Siregar dari GKPPD sebagai ketua dan Matthew Simorangkir dari HKBP sebagai sekretaris.
Setelah Raker I, PWGSU masih memiliki sejumlah pekerjaan untuk menuntaskan pembentukan organisasi. Hasil rumusan yang telah disusun akan dibawa ke Raker II untuk mendapatkan pengesahan.
Organisasi tersebut juga menyatakan akan membuka ruang kolaborasi dengan pimpinan gereja, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat dalam menjalankan program yang berkaitan dengan Sumatera Utara dan warga perantauan.