Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, produk baja asal Indonesia dikenakan pajak bea masuk tinggi ke Eropa hingga Amerika Serikat (AS). Tarif bea masuk produk baja Indonesia ke Barat mencapai 50%.
Dia menjelaskan, AS memandang baja sebagai produk strategis untuk kebutuhan sipil, militer, hingga ruang angkasa. Untuk itu, AS dan Eropa sama-sama mempertahankan industri baja berkembang di kawasan tersebut.
Advertisement
"Mereka sangat concern terhadap keberadaan steel mill ataupun industri steel supaya tetap ada di negara masing-masing apakah itu di Eropa, apakah itu di Amerika," ucap Airlangga di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Menurut dia, hal tersebut secara tidak langsung bisa jadi peluang bagi produk baja asal Indonesia. Hanya saja, AS, Inggris, hingga Eropa menetapkan tarif bea masuk 50% untuk produk Indonesia.
"Bagi Indonesia sendiri sebetulnya sangat straight forward, di mana mereka dalam tanda petik tidak bisa bersaing dengan Indonesia. Mereka mengenakan biaya masuk untuk steel 50% di Amerika, Eropa juga enggak mau kalah steel dari Indonesia juga 50%, Inggris juga enggak mau kalah steel dari Indonesia 50%," tutur dia.
"Jadi inilah langkah-langkah yang dilakukan negara lain termasuk negara yang katanya negara maju dan juga mendukung multilateral trade dan juga mereka menjadi bagian daripada yang meminta seluruh negara bergabung dalam WTO," ia menambahkan.
Jaga Produk Indonesia
Airlangga mengatakan, langkah untuk menjaga produk asal Indonesia bisa tetap kompetitif. Termasuk diserap oleh pasar di Tanah Air.
"Ini yang harus kita perhatikan dan Indonesia juga perlu untuk mengambil langkah-langkah sejenis untuk menjaga agar industri kita tetap kompetitif," ujar dia.
"Dan pasar di dalam negeri juga bisa dinikmati oleh produsen-produsen yang ada di dalam negeri yang dibutuhkan bagi kita untuk penciptaan lapangan kerja dan untuk pertumbuhan ekonomi," ia menambahkan.
Panel Surya Indonesia Kena Tarif 104%
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan panel surya yang dibuat Indonesia dikenakan tarif tinggi hingga 104% ke Amerika Serikat (AS). Imbasnya, ekspor panel surya RI ke AS berpotensi semakin sempit.
Airlangga mengatakan saat ini panel surya yang diproduksi di Tanah Air mencapai 11 gigawatt (GW). Tingginya kapasitas produksi ini turut mendorong jumlah panel surya yang diekspor ke AS.
"Ekspor Indonesia naik ke Amerika dalam satu tahun lebih dari 100% tetapi dampaknya juga langsung Indonesia dikenakan biaya masuk untuk solar panel 104% jadi dengan demikian dipastikan kita tidak bisa lagi ekspor solar panel ke Amerika," ungkap Airlangga di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Pasar Dalam Negeri
Pemerintah tak kehabisan ide. Airlangga berharap pada permintaan yang bisa dihasilkan dari pasar domestik. Salah satunya dari megaproyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan total 100 GW.
"Bapak Presiden mendorong bahwa ini untuk meningkatkan domestic demand dengan agenda untuk mendorong 100 gigawatt peak daripada solar panel," ucap dia.
Proyek tersebut akan dijalankan dengan memanfaatkan hasil hilirisasi nikel dalam battery energy storage system (BESS). Diketahui Indonesia tengah mengebut hilirisasi nikel menjadi baterai.
"Nah ini diperkirakan dari renewable energy, solar panel, beserta batery storage system yang sangat mendukung ekosistem baterai yang sudah disiapkan oleh Indonesia yang berbasis kepada nikel. Kita tidak bisa hanya membiarkan basis daripada baterai ini kepada pasar karena persaingan kita juga tidak hanya baterai berbasis nikel tetapi baterai berbasis litium," bebernya.