BBM Subsidi Diburu, Bahlil Buka Suara soal Stok dan Antrean SPBU

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM subsidi aman meski terjadi lonjakan permintaan akibat peralihan konsumen.

oleh Arief Rahman HakimDiterbitkan 05 Oktober 2026, 22:30 WIB
Antrean kendaraan warga mengisi BBM Pertalite di salah satu SPBU di kawasan Cinere, Depok. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengamini adanya peralihan pengguna BBM non-subsidi ke produk bersubsidi. Meski begitu, ia memastikan stok BBM tetap tersedia bagi masyarakat.

Ia menyadari adanya perpindahan pengguna di tengah penyesuaian harga BBM non-subsidi imbas fluktuasi minyak dunia. Sementara itu, harga BBM bersubsidi masih ditahan oleh pemerintah.

"Sekarang kan kita tahu bahwa terjadi shifting dari yang tidak memakai BBM subsidi, sekarang mereka memakai BBM subsidi, pasti kan ada peningkatan permintaan," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (5/10/2026).

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi ini mengamini adanya antrean di sejumlah SPBU di beberapa daerah. Hal itu disebabkan oleh peralihan pengguna BBM non-subsidi ke subsidi.

Bahlil memastikan stok BBM subsidi maupun non-subsidi tetap terpenuhi dan bisa dikirim tanpa kendala. "Ini kita lagi tata agar keterlambatan pengiriman tidak terjadi lagi," katanya.

Bahlil mengatakan fluktuasi harga minyak dunia turut dibahas bersama Presiden Prabowo Subianto. Pihaknya memastikan harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir tahun.

"Harga energi yang semakin hari fluktuatif sekali, dinamis, kemudian kepastian subsidi. Dan kita dapat pastikan bahwa subsidi sampai dengan akhir tahun, harga BBM tidak akan naik," jelas dia.

 

Alasan Harga BBM Subsidi Tak Naik

Sejumlah kendaraan mengantri di SPBU kawasan Kuningan, Jakarta. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, pemerintah mengambil langkah tegas untuk melindungi daya beli masyarakat menengah ke bawah dengan memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Kebijakan ini diambil sebagai perisai utama dalam mengendalikan laju inflasi nasional di tengah gejolak harga minyak dunia.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga energi ini.

"Yang paling utama dari pengendalian inflasi dari BBM ini adalah menjaga agar BBM subsidi, solar, dan bensin itu di harga tetap, tidak ada kenaikan," ujar Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, dipantau dari kanal resmi Kementerian Dalam Negeri, Senin (5/10/2026).

Ia menambahkan, keputusan menahan harga Pertalite dan Biosolar diprioritaskan karena dampaknya yang sangat vital bagi sektor-sektor produktif rakyat kecil. "Karena ini (BBM bersubsidi) adalah komponen terbesar yang juga dipakai oleh nelayan dan petani," kata Laode.

 

Arahan Presiden Prabowo Subianto

Petugas SPBU mengisi bahan bakar jenis pertalite kepada pengguna sepeda motor di Pamulang, Tangerang Seatan, Banten. (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Langkah ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menekankan bahwa pemerintah terus memantau dinamika harga minyak global, namun keselamatan ekonomi masyarakat tetap menjadi prioritas tertinggi di atas konsekuensi beban fiskal.

"Pemerintah memutuskan tetap menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak naik sebagai langkah melindungi daya beli masyarakat menengah ke bawah," tegas Bahlil.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjamin kepastian harga BBM subsidi di tengah memanasnya geopolitik dunia, mulai dari konflik di Selat Hormuz hingga perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.

Airlangga optimistis Indonesia mampu meredam guncangan eksternal tersebut dengan memanfaatkan daya tahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai bantalan ekonomi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya