Penyandang Disabilitas Bandung Dorong Trotoar yang Aman untuk Semua

Dalam audit di sekitar Lapangan Gasibu, trotoar di sana cenderung curam dan tidak aman untuk penyandang disabilitas.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 05 Oktober 2026, 15:20 WIB
Penyandang disabilitas di Bandung meminta pemerintah setempat melibatkan mereka saat ada renovasi fasilitas publik. Termasuk saat renovasi trotoar. (Dok Bandung Independent Living Center (BILiC))

Liputan6.com, Jakarta - Penyandang disabilitas di Bandung, Jawa Barat mendorong penyediaan trotoar yang aman dan dapat digunakan oleh semua orang. Hal itu disampaikan setelah melakukan audit lingkungan di kawasan trotoar Lapangan Gasibu, Bandung, bersama sejumlah penyandang disabilitas dari berbagai ragam.

Sekretaris organisasi Bandung Independent Living Center (BILiC), Taufik Hidayatullah, mengatakan audit tersebut melibatkan penyandang disabilitas.

Dalam proses pengecekan trotoar di sekitar Lapangan Gasibu pada 24 September 2026 mereka menemukan sejumlah kondisi yang dinilai menyulitkan penyandang disabilitas untuk menggunakan fasilitas trotoar secara aman.

Trotoar di sekitar Lapangan Gasibu cenderung curam dan tidak ada handling atau pegangan.

"Dalam audit di lingkungan trotoar Gasibu, banyak rintangan yang memang harus  dilalui. Jangankan untuk pengguna kursi roda sendiri, yang dibantu oleh pendamping pun sangat berbahaya. Terutama bidang miringnya sangat curam," kata Taufik. 

Selain kemiringan jalur, Taufik juga menyoroti belum tersedianya pegangan atau handrail di sejumlah bagian yang dapat membantu pengguna ketika melewati jalur tersebut.

Menurut Taufik, kondisi ini perlu menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat, terlebih kawasan Gasibu berada di area pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Ia berharap Jawa Barat dapat menjadi provinsi yang inklusif dengan fasilitas publik yang dapat digunakan secara aman dan nyaman oleh berbagai ragam disabilitas.

"Yang bisa dipergunakan oleh semua ragam disabilitas, baik itu kenyamanannya, keamanannya, bisa digunakan oleh teman-teman dari ragam disabilitas," ujarnya lewat pesan suara kepada Disabilitas Liputan6.com.

Tak hanya penyandang disabilitas, fasilitas yang aksesibel juga dinilai akan memudahkan kelompok lain, seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil.

Penyandang Disabilitas Dilibatkan Saat Renovasi Fasilitas Publik

Penyandang disabilitas di Bandung meminta pemerintah setempat melibatkan mereka saat ada renovasi fasilitas publik. Termasuk saat renovasi trotoar. (Dok Bandung Independent Living Center (BILiC))

Taufik menilai pelibatan penyandang disabilitas menjadi bagian penting dalam pembangunan maupun renovasi fasilitas publik.

Menurutnya, penyandang disabilitas seharusnya dilibatkan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi. Dengan begitu, fasilitas yang dibangun tidak hanya memenuhi kebutuhan secara administratif, tetapi benar-benar dapat digunakan oleh masyarakat dengan beragam kebutuhan.

"Ketika melibatkan dari mulai perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi harusnya dilibatkan teman-teman disabilitas, dari ragam disabilitas," tuturnya.

Ia menilai pelibatan tersebut juga dapat mencegah anggaran pembangunan atau renovasi fasilitas publik menjadi sia-sia karena hasil akhirnya tidak dapat digunakan secara optimal oleh kelompok yang membutuhkan aksesibilitas.

"Agar ketika lingkungan tersebut tercipta, hasilnya benar-benar bisa dipergunakan dan aksesibel untuk ragam disabilitas dan juga untuk lansia, anak-anak, ibu-ibu," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya