Liputan6.com, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji pola baru pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan. Konsep tersebut diterapkan dengan melibatkan siswa secara langsung saat mengambil makanan sesuai kebutuhan mereka.
Salah satu lokasi yang dipercaya menjalankan uji coba tersebut berada di SDN 5 Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pelaksanaan di sekolah ini menjadi bagian dari pilot project yang dikembangkan BGN setelah melakukan studi sistem makan sekolah di Jepang.
Advertisement
Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Blora, Artika Diannita, mengatakan penerapan MBG prasmanan di SDN 5 Ngawen berdasarkan nota dinas BGN.
“Hari ini kita melakukan piloting project MBG prasmanan itu sesuai dengan nota dinas dari Deputi Sistem Tata dan Kelola, berdasarkan nota dinas Nomor 43 per tanggal 30 September 2026,” kata Artika, Senin (5/10/2026).
Menurut Artika, terdapat 42 SPPG di seluruh Indonesia yang dipilih untuk menjalankan pilot project MBG dengan konsep prasmanan. SPPG Ngawen 1 menjadi salah satu dapur yang dipercaya menguji sistem tersebut di lingkungan sekolah.
Perubahan paling terlihat terdapat pada mekanisme pengambilan makanan. Jika sebelumnya makanan dibagikan dengan porsi tertentu, dalam sistem prasmanan siswa dapat mengambil sendiri makanan yang tersedia sesuai kebutuhan.
Artika menyebut respons siswa terhadap pola tersebut cukup positif. “Kalau kita lihat anak-anak lebih antusias, lebih senang ketika mereka dapat mengambil makanannya sendiri karena bisa disesuaikan sama keinginan. Jadi ngambilnya sesuai, enggak dibuang-buang atau mubazir,” ujarnya.
Uji coba MBG prasmanan di SDN 5 Ngawen akan berlangsung selama dua minggu. Pelaksanaan tersebut akan dipantau dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas sistem sebelum hasilnya disampaikan kepada BGN.
“Untuk uji coba ini dilaksanakan dua minggu. Jadi setelahnya kita akan evaluasi juga, kita laporkan hasil dari lapangan. Untuk selanjutnya kita dari BGN yang langsung untuk melanjutkan atau gimana,” kata Artika.
Selain memberi keleluasaan kepada siswa dalam mengambil makanan, sistem prasmanan juga dirancang untuk mendukung proses penyajian yang lebih terkontrol. Makanan dapat langsung diambil dan dikonsumsi siswa dalam kondisi hangat.
“Maka ketika di sistem prasmanan itu proses pendistribusiannya masih dalam kondisi hangat. Jadi ketika disajikan dan dinikmati oleh siswa-siswa itu masih kondisinya hangat,” ujar Artika.
Mitra SPPG Ngawen 1, Febrian Candra, mengatakan penerapan sistem tersebut merupakan bagian dari pengembangan konsep MBG yang terinspirasi dari sistem makan sekolah Jepang.
Menurutnya, Kyushoku tidak hanya menempatkan makan sebagai pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga bagian dari pembentukan kebiasaan siswa.
“Ini hasil studi tiru dari MBG Jepang, Kyushoku. BGN kemudian mengembangkan pilot project MBG dengan sistem prasmanan,” kata Febrian.
Febrian menjelaskan terdapat 42 dapur yang dipilih untuk menjalankan pilot project tersebut. SPPG Ngawen 1 menjadi salah satu lokasi yang mendapat kepercayaan untuk menguji penerapan sistem MBG prasmanan.
“Pilot project dijalankan selama dua minggu untuk dipantau dan dievaluasi pelaksanaannya,” ujarnya.
Menurut Febrian, konsep prasmanan juga diharapkan dapat menjadi salah satu upaya mengantisipasi persoalan dalam pelaksanaan program MBG. Proses penyajian makanan yang lebih terkontrol menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam sistem tersebut.
Di sisi lain, konsep ini juga membawa misi pendidikan bagi siswa. Mereka dibiasakan mengambil makanan sesuai kebutuhan, menjaga kebersihan, bertanggung jawab terhadap makanan yang diambil, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Yang dipilih dari sistem prasmanan ini antara lain integrasi edukasi gizi dan karakter, keterlibatan aktif peserta didik, pengendalian sisa makanan atau zero food waste, pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat, serta pembentukan budaya makan positif,” jelas Febrian.
Konsep zero food waste menjadi salah satu perhatian dalam penerapan MBG prasmanan. Siswa diharapkan tidak mengambil makanan secara berlebihan sehingga jumlah makanan yang tersisa dapat ditekan.
Sementara itu, siswa kelas 5 SDN 5 Ngawen, Remo Bimo Giwantoro, mengaku senang dengan pola MBG tersebut.
“Iya senang bisa ambil sendiri, bisa ambil banyak,” kata Remo.
Hasil uji coba selama dua pekan nantinya menjadi bahan evaluasi BGN. Dari evaluasi tersebut akan dilihat apakah sistem MBG prasmanan dapat dikembangkan lebih luas sebagai salah satu model pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di sekolah.