5 Instalasi Unik di Art Jakarta 2026 yang Menautkan Seni Dengan Kopi, Parfum, Buku, dan Investasi

Art Jakarta 2026 di JIExpo, 2–4 Oktober, menampilkan 75 galeri dan lima instalasi imersif: kopi Darbotz, Women’s Library, ALCHEMIST, Lost at Sea, dan Treasury.

oleh Vinsensia DianawantiDiterbitkan 05 Oktober 2026, 15:00 WIB
Art Jakarta 2026 di JIExpo, 2–4 Oktober, menampilkan 75 galeri dan lima instalasi imersif: kopi Darbotz, Women’s Library, ALCHEMIST, Lost at Sea, dan Treasury. (dok. Art Jakarta)

Liputan6.com, Jakarta - Art Jakarta 2026 kembali hadir di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 2–4 Oktober 2026 dengan deretan koleksi seni yang mencuri perhatian. Edisi tahun ini bukan hanya menampilkan karya galeri, tetapi juga merangkai pengalaman interaktif yang memadukan seni dengan keseharian. Membuat Art Jakarta 2026 semakin dekat dengan masyarakat luas, tak terkhususkan hanya untuk pecinta seni.

Sebanyak 75 galeri berpartisipasi, termasuk 33 galeri internasional serta 19 galeri yang tampil perdana. Selain presentasi karya, kolaborasi khusus dari berbagai brand dan seniman dihadirkan untuk memperluas cara pengunjung berinteraksi dengan seni.

Dari kopi yang dielaborasi bersama seni jalanan, perpustakaan mini yang merayakan suara perempuan, kolaborasi parfum dengan seniman Jepang, hingga instalasi yang menafsir perjalanan finansial serta eksplorasi soal emas, berikut pengalaman yang mencuri perhatian.

DJOURNAL x Darbotz: Kopi dan Seni Jalanan Dalam Pengalaman 360 Derajat

Intip instalasi seni apa saja yang mencuri perhatian di Art Jakarta 2026 (dok. Djournal)

Kolaborasi DJOURNAL dan Darbotz menghadirkan platform pertemuan budaya kopi modern dengan karakter seni jalanan Indonesia dalam format pengalaman 360 derajat. Perpaduan ini mengajak pencinta kopi dan seni menikmati keduanya dalam satu ruang yang saling menguatkan.

Bukan sebatas visual, rangkaian programnya mencakup kreasi kopi khusus, wearable art, hingga aktivitas interaktif. Sosok "Monster of Excitement" menjadi benang merah yang mengundang pengunjung melihat ritual minum kopi dari sudut yang lebih playful.

Di sini, kopi tidak berhenti sebagai minuman. Ia menjadi bagian dari pengalaman artistik yang menyentuh visual, gaya, dan interaksi, sehingga seni hadir untuk dirasakan melalui kebiasaan sehari-hari.

Aesop Women’s Library: Ruang Hening untuk Membaca di Tengah Hiruk-Pikuk

Intip instalasi seni apa saja yang mencuri perhatian di Art Jakarta 2026 (dok. Djournal)

Di tengah dinamika art fair, Aesop membuka Aesop Women’s Library yang menawarkan suasana lebih tenang. Untuk pertama kalinya hadir di Jakarta, instalasi ini mengajak pengunjung menikmati pilihan buku karya penulis perempuan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Terdapat tujuh judul yang dikurasi untuk merayakan suara, pengalaman, dan perspektif perempuan. Pengunjung juga dapat memilih satu buku secara cuma-cuma sebagai bentuk apresiasi dari Aesop.

Kehadiran Women’s Library memberi jeda: pengunjung dapat duduk, membaca, lalu membangun koneksi dengan gagasan yang ditawarkan. Seni tampil bukan sekadar objek, melainkan medium untuk berjumpa dengan cerita dan pemikiran perempuan.

ALCHEMIST dan Mai Yokoyama: Menemukan "The Sphinx" di Antara Aroma dan Imajinasi

Intip instalasi seni apa saja yang mencuri perhatian di Art Jakarta 2026 (dok. Alchemist)

Pengalaman multisensori hadir lewat kolaborasi ALCHEMIST dengan seniman Jepang, Mai Yokoyama. Figur "the Sphinx" dihadirkan sebagai representasi intelektualitas manusia sekaligus kekuatan imajinasi.

Kolaborasi ini tidak berhenti pada satu karya. Gagasan sang seniman diterjemahkan ke keseluruhan booth hingga kemasan produk ALCHEMIST, sehingga pengalaman menikmati parfum diperluas melalui elemen visual yang memantik dialog antara aroma, imajinasi, dan seni.

Perpaduan tersebut menunjukkan bagaimana dunia fragrance bersinggungan erat dengan seni: indra penciuman mendapat lapisan pengalaman tambahan lewat konsep artistik dan presentasi visual.

Lost at Sea oleh Bibit–Stockbit: Menyusuri Ketidakpastian Finansial Lewat Rakit

Gambaran perjalanan finansial lewat karya seni di Art Jakarta 2026 (dok. Bibit)

Kolaborasi Bibit dan Stockbit dengan seniman Endry Pragusta menghadirkan instalasi bertajuk Lost at Sea. Karya ini terinspirasi dari The Raft of the Medusa karya Théodore Géricault dan menerjemahkan perjalanan menghadapi ketidakpastian ke dalam wujud rakit.

Struktur menyerupai perahu rakit ditata dengan kursi-kursi putih yang tidak beraturan, layar yang bergerak, serta tata suara ombak dan burung. Unsur-unsur tersebut menciptakan atmosfer seolah pengunjung sedang menempuh pelayaran di laut terbuka.

Di balik bentuknya yang imersif, Lost at Sea mengajukan gagasan tentang cara menyikapi perubahan. Bibit dan Stockbit mengaitkannya dengan perjalanan finansial: investasi bukan perkara menebak setiap gerak pasar, melainkan membaca situasi, menentukan arah, dan tetap tenang saat kondisi bergeser.

Dengan cara itu, edukasi finansial hadir bukan lewat angka dan grafik, melainkan melalui pengalaman visual yang langsung dapat dirasakan pengunjung.

Treasury: "Gravity of the Unheld" dan Tafsir Baru atas Emas

Intip instalasi seni apa saja yang mencuri perhatian di Art Jakarta 2026 (dok. Treasury)

Dari ranah kolaborasi brand dan seni, Treasury menampilkan karya pemenang Treasury Art Prize tahun ini, Etza Meisyara, bertajuk Gravity of the Unheld.

Karya tersebut mengeksplorasi transformasi emas: dari sekadar material bernilai menuju gagasan tentang "nobility" atau nilai luhur. Pengalaman instalasi dirancang melampaui penglihatan, melibatkan elemen aroma dan suara untuk membangun suasana.

Karya ini tidak mengarahkan pada satu tafsir. Pengunjung diajak membawa pengalaman dan perspektif masing-masing saat berhadapan dengan instalasi, membuka kemungkinan pembacaan yang beragam.

Art Jakarta 2026: Cara Baru Menyentuh Seni Lewat Kehidupan Sehari-Hari

Rangkaian kolaborasi menunjukkan bagaimana Art Jakarta 2026 bergerak melampaui format melihat lukisan atau patung semata. Seni hadir melalui secangkir kopi, buku yang dibaca dalam keheningan, aroma parfum, perjalanan finansial, hingga pengalaman multisensori yang menggabungkan suara dan ruang.

Di satu sisi, ajang ini tetap menjadi titik temu galeri, seniman, kolektor, dan pencinta seni. Di sisi lain, kolaborasi lintas industri membuat pengalaman berkunjung ke art fair terasa lebih dekat dengan kebiasaan harian.

Kopi, buku, aroma parfum, perjalanan finansial, serta elemen suara dan ruang menjadi pintu masuk pengalaman yang lebih personal bagi pengunjung.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya