Dukung E20, Agrinas Palma dan IPB University Kembangkan Bioetanol 5 Juta Kiloliter

Agrinas Palma dan IPB Kembangkan Bioetanol Multifeedstock untuk Dukung E20

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 04 Oktober 2026, 20:10 WIB
FGD produksi, pengolahan, dan kelayakan ekonomi industri bioetanol di Bogor, Sabtu (3/10/2026).

Liputan6.com, Jakarta - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menggandeng IPB University untuk mengembangkan industri bioetanol berbasis multifeedstock guna mendukung pemenuhan kebutuhan BBN E20.

PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama IPB University mengembangkan industri bioetanol berbasis singkong, sorgum, dan jagung. Langkah ini dilakukan untuk mendukung kebutuhan implementasi E20 nasional yang diproyeksikan mencapai sekitar 7 juta kiloliter (kl).

Agrinas Palma menargetkan pengembangan hingga 1 juta hektare lahan pada 2029. Dari luas tersebut, kapasitas produksi bioetanol ditargetkan mencapai sedikitnya 5 juta kiloliter per tahun melalui pendekatan multifeedstock dan integrasi rantai pasok dari hulu hingga hilir.

“Target tersebut harus dibangun dari kepastian bahan baku, kesesuaian lahan, produktivitas, teknologi, hingga keekonomian dan partisipasi masyarakat. Karena itu, pendekatan multifeedstock dan integrasi hulu-hilir menjadi penting,” ujar Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, dalam FGD Produksi, Pengolahan, dan Kelayakan Ekonomi Industri Bioetanol di Bogor, Sabtu (3/10/2026).

 

Kepastian Bahan Baku

FGD produksi, pengolahan, dan kelayakan ekonomi industri bioetanol di Bogor, Sabtu (3/10/2026).

Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Dr. Ir. Suryo Wiyono, menambahkan bahwa keberhasilan industri bioetanol membutuhkan penguasaan aspek budidaya (on-farm) dan pengolahan (off-farm) secara terintegrasi.

“Pengembangan bioetanol membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu. Keberhasilannya terletak pada detail. Karena itu, aspek on-farm maupun pengolahan perlu dipetakan, dikuasai, dan dikelola dengan baik,” kata Suryo.

Dalam FGD tersebut, keberlanjutan pasokan ditetapkan sebagai salah satu faktor kunci. Industri membutuhkan kepastian bahan baku dari segi jumlah, kualitas, varietas, hingga kepastian waktu panen.

Guna mencegah persaingan harga dengan kebutuhan pangan, pengembangan bahan baku bioetanol diarahkan menggunakan lokus atau kawasan yang terpisah dari lahan pangan utama. Selain itu, kedua pihak mendorong validasi kesesuaian komoditas dan lokasi melalui uji lapangan serta integrasi rantai nilai.

Pengembangan industri ini juga diarahkan untuk membangun kemandirian teknologi pendukung, termasuk penyediaan enzim mandiri agar tidak bergantung pada pasokan luar kawasan.

 

Susun Studi Kelayakan

Sebagai langkah konkrit, IPB University menyatakan kesiapannya menyusun Studi Kelayakan (Feasibility Study/FS) terintegrasi yang mencakup aspek teknis, ekonomi, hingga pendampingan lapangan.

Proyek ini turut melibatkan kemitraan masyarakat dengan porsi sekitar 10–20 persen dari total produksi, yang nantinya diintegrasikan dengan sektor peternakan melalui penyediaan hijauan pakan.

Melalui skema terintegrasi ini, industri bioetanol diharapkan dapat berjalan secara kompetitif dan mandiri tanpa bergantung pada subsidi pemerintah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya