Kepala Lapas di AS Mundur Usai Gagal Eksekusi Mati Narapidana

Kepala Lapas Tennessee, Frank Strada, mengundurkan diri setelah kegagalan eksekusi mati Christa Pike.

oleh Septian DenyDiterbitkan 04 Oktober 2026, 21:00 WIB
Ilustrasi penjara (AFP)

Liputan6.com, Washington, DC - Kepala Departemen Pemasyarakatan Tennessee, Amerika Serikat, Frank Strada mengundurkan diri setelah memimpin pelaksanaan eksekusi terpidana mati Christa Pike yang gagal.

Dikutip dari The New York Time, Minggu (4/10/2026), Gubernur Tennessee Bill Lee mengumumkan pengunduran diri Strada pada Sabtu. Strada menyampaikan pengunduran dirinya kepada Lee pada 3 Oktober, tiga hari setelah Pike tetap hidup usai dua dosis suntikan mematikan diberikan kepadanya.

Strada akan meninggalkan jabatannya pada bulan ini.

Pada Rabu malam, Lee memerintahkan peninjauan penuh dan independen terhadap kemungkinan kesalahan dalam pelaksanaan eksekusi tersebut. Ia juga menghentikan pelaksanaan eksekusi lainnya yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung di Tennessee tahun ini.

Strada mengatakan menjabat sebagai komisaris merupakan "kehormatan besar". Namun, ia tetap meyakini Departemen Pemasyarakatan telah menjalankan tanggung jawabnya sesuai dengan protokol yang ditetapkan, menurut pernyataan yang diperoleh The Tennessean.

"Meski demikian, mengundurkan diri merupakan langkah yang terbaik bagi warga Tennessee saat peninjauan independen berlangsung," kata Strada.

"Saya yakin peninjauan ini sepenuhnya tepat dan diperlukan, dan saya berharap dapat melakukan segala yang saya bisa untuk membantu menentukan apa yang sebenarnya terjadi," lanjutnya.

Pengacara Pike mengatakan kepada The Post pada Sabtu bahwa pengunduran diri Strada "dapat dibenarkan, tetapi tidak membantu Christa sekarang".

"Apa yang terjadi padanya pada Rabu mencerminkan kegagalan sistemik yang jauh melampaui satu orang," kata mereka.

Pike, 50 tahun, tetap hidup setelah dua dosis pentobarbital diberikan dalam eksekusi pada Rabu malam. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang menyelamatkan nyawanya.

Menurut pengacaranya, Pike masih hidup, tetapi dalam kondisi tidak sadar, diintubasi, dan bernapas menggunakan ventilator.

Pike sebelumnya dijadwalkan menjadi perempuan pertama yang dieksekusi di Tennessee dalam lebih dari 200 tahun. Ia dijatuhi hukuman mati karena membunuh teman sekelasnya, Colleen Slemmer, dalam aksi yang dilatarbelakangi kecemburuan ketika Pike berusia 18 tahun.

Strada ditunjuk Lee sebagai komisaris pada 2023. Sebelumnya, ia menjabat sebagai wakil direktur Departemen Pemasyarakatan Arizona dan memiliki pengalaman 37 tahun dalam manajemen pemasyarakatan serta penegakan hukum.

Pengalaman tersebut mencakup hampir 30 tahun bekerja di Federal Bureau of Prisons, menurut profil daringnya.

Pada 2024, Strada mengumumkan bahwa Tennessee mengubah protokol eksekusi dengan mengganti metode suntikan mematikan tiga obat menjadi protokol yang menggunakan satu obat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya