Liputan6.com, Abu Dhabi - Kopilot yang dituduh menyerang kapten pesawat FlyDubai tujuan Israel sebelum akhirnya dilumpuhkan oleh penumpang dan sejumlah orang lainnya merupakan warga negara Oman bernama Hamam al-Hammami. Hal itu disampaikan tiga orang yang mengetahui situasi tersebut, termasuk seorang diplomat dari negara Teluk dan seorang diplomat Barat, pada Sabtu (3/10/2026).
UEA, yang memimpin penyelidikan, mengatakan kopilot itu menyerang menggunakan kapak darurat di kokpit dan berusaha mengambil alih kendali pesawat dalam sebuah "serangan teroris".
Advertisement
Ketiga sumber yang mengidentifikasi kopilot tersebut seperti dilaporkan Associated Press berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media. Diplomat negara Teluk mengatakan penyelidikan sedang dilakukan untuk memastikan apakah ia bertindak sebagai pelaku tunggal atau memiliki hubungan dengan kelompok ekstremis tertentu.
Kopilot tersebut, yang menurut para pejabat nyaris menyebabkan pesawat yang membawa 182 orang itu jatuh ketika mengalami penurunan tajam, sebelumnya dilarang terbang oleh Oman karena kekhawatiran bahwa ia telah menganut pandangan ekstremis. Demikian menurut seorang sumber lain yang mengetahui persoalan tersebut.
Setelah itu, kopilot tersebut direkrut oleh maskapai yang berbasis di UEA, FlyDubai, kata sumber tersebut. Ia berbicara dengan syarat anonim karena membahas penyelidikan yang masih berlangsung.
Belum diketahui sejauh mana proses pemeriksaan latar belakang dilakukan terhadap kopilot itu ketika ia direkrut. Larangan terbang yang sebelumnya dijatuhkan Oman pertama kali dilaporkan The Wall Street Journal.
"Kopilot Lahir di UEA"
Bagaimana kopilot tersebut bisa bertugas di kokpit pada Rabu (30/9/2026) pagi menjadi salah satu pertanyaan utama bagi para penyelidik. Israel mengatakan memiliki kesepakatan dengan maskapai asing untuk mencegah pilot menerbangkan pesawat ke negara itu jika mereka merupakan warga negara dari negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Israel dan Oman tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.
Seorang juru bicara FlyDubai melalui email mengatakan maskapai tidak dapat memberikan komentar di luar pernyataan resmi yang telah dikeluarkan dan mengakui bahwa masih ada banyak pertanyaan pada tahap ini. Oman Air belum memberikan komentar, sementara pemerintah Oman juga belum menyampaikan pernyataan secara terbuka meski berulang kali dimintai tanggapan sejak insiden tersebut.
Kopilot itu lahir di UEA dan ibunya merupakan warga Suriah, menurut pejabat regional lain yang mengetahui penyelidikan. Belum jelas bagaimana ia memperoleh kewarganegaraan Oman.
Pejabat tersebut membenarkan bahwa kopilot pernah bekerja di maskapai nasional Oman, tetapi kemudian tidak lagi diizinkan terbang karena kekhawatiran bahwa ia menunjukkan tanda-tanda memiliki pandangan ekstremis. Menurut pejabat itu, kopilot tersebut kemudian dipindahkan ke pekerjaan administratif di Oman Air.
Badan keamanan dari empat negara di kawasan sedang berupaya mengungkap motif kopilot tersebut dengan bantuan Amerika Serikat dan sejumlah pemerintah Barat lainnya, kata pejabat itu.
Ia berbicara dengan syarat anonim karena membahas rincian penyelidikan.
Insiden ini menjadi ujian bagi pemerintah UEA, yang selama ini dikenal memiliki langkah-langkah efektif dalam menangani aktivitas ekstremis, tetapi pada masa lalu juga menunjukkan keberatan terhadap kritik mengenai kelemahan keamanan.
Akun Media Sosial Dihapus pada Hari Penerbangan
Belum banyak informasi lain yang diketahui mengenai latar belakang kopilot tersebut. Akun Instagram miliknya masih aktif hingga hari penerbangan, lalu dihapus.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat mengatakan kopilot tersebut telah mengalami “radikalisasi Islamis”, tetapi tidak memberikan bukti. Pemerintah Israel belum memberikan komentar lebih lanjut hingga Sabtu.
Kapten pesawat, yang mengalami luka parah, mengatakan ia menggunakan sisa tenaganya saat diserang untuk membuka kunci pintu kokpit. Hal itu memungkinkan orang-orang yang menyadari adanya suara tidak biasa dan mengkhawatirkan untuk masuk, melumpuhkan kopilot tersebut, dan menstabilkan pesawat.
Pesawat kemudian melakukan pendaratan darurat di Arab Saudi.
Kapten dan kopilot selanjutnya dibawa ke UEA, yang memimpin penyelidikan atas insiden tersebut.