Redam Harga BBM, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan Solar

Redam lonjakan harga BBM, negara-negara G7 sepakat lepas 100 juta barel cadangan solar.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 03 Oktober 2026, 13:45 WIB
Pompa-pompa yang tidak digunakan untuk berbagai jenis bahan bakar terlihat di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di jalan A3, sebelah utara Guildford di Inggris. (JUSTIN TALLIS/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Negara-negara anggota Group of Seven (G7) sepakat menggelontorkan 100 juta barel cadangan solar (diesel) demi meredam lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM). Pelepasan cadangan darurat ini bakal dimulai dalam waktu dekat dan berlangsung selama empat bulan.

Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), pasokan skala besar akan dilepas pada 20 hari pertama melalui koordinasi Badan Energi Internasional (IEA).

Langkah ini diambil setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mendesak negara-negara Eropa memanfaatkan cadangan solar mereka. Keputusan ini sekaligus menjadi jalan keluar alternatif dari rencana AS yang sempat ingin melarang ekspor solar demi menekan harga di dalam negeri.

Selain membuka keran cadangan solar, para pemimpin G7 juga berjanji tak akan membatasi ekspor energi antarnegara anggota. Mereka mengimbau seluruh produsen energi global agar tidak memberlakukan larangan ekspor yang bisa memperkeruh krisis pasar.

Kelompok G7 sendiri beranggotakan AS, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang. Saat ini Prancis memegang presidensi G7, dengan Uni Eropa yang turut hadir dalam jajaran pertemuan.

Hingga Jumat (2/10/2026), harga solar di AS masih bertengger di level tinggi, yakni rata-rata US$ 6,37 (sekitar Rp 93.000 dengan kurs Rp 17.890) per galon.

Pemicu Lonjakan Harga

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Lonjakan harga ini dipicu oleh gangguan pasokan buntut serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia, serta memanasnya konflik di Timur Tengah akibat perang dengan Iran.

Sebelumnya, wacana AS melarang ekspor solar sempat membunyikan alarm bahaya di Eropa. Data IEA mencatat, AS menyumbang sekitar separuh dari total impor solar Uni Eropa pada Agustus lalu.

Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maroos Sefcovic, menegaskan pentingnya kolaborasi dengan AS untuk menurunkan harga solar serta produk migas lainnya. Menurutnya, pembatasan ekspor oleh AS justru bisa memukul balik perekonomian Eropa.

Pada Maret lalu, negara-negara anggota IEA sebenarnya telah sepakat menyalurkan 400 juta barel minyak mentah dan produk olahannya untuk menutupi kelangkaan pasokan akibat perang dengan Iran.

Dari komitmen tersebut, Eropa menyumbang sekitar 107 juta barel (68% di antaranya berupa BBM), sementara kawasan Asia dan Oseania menyuplai 108 juta barel (40% BBM dan 60% minyak mentah). AS menjadi penyumbang terbesar dengan komitmen 172 juta barel yang seluruhnya berbentuk minyak mentah.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya