Liputan6.com, Jakarta - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) pada Kamis, 1 Oktober 2026 menjatuhkan sanksi terhadap sektor otomotif dan perkeretaapian Iran. Hal ini sebagai bagian dari upaya masa perang pemerintahan Trump untuk melumpuhkan Teheran dengan memutus jalur keuangan yang tersisa.
Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), beberapa perusahaan yang terkait dengan industri logam Iran, termasuk anak perusahaan di China milik perusahaan mesin Timur Tengah HEPCO juga ditetapkan masuk dalam daftar sanksi oleh Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri atau the Office of Foreign Assets Control (OFAC).
Advertisement
Dalam pernyataan terpisah, departemen itu mengumumkan sanksi tambahan terhadap A7 Network yang digambarkan sebagai jaringan perbankan bayangan yang memiliki hubungan dengan Rusia dan digunakan oleh rezim Iran untuk menghindari sanksi.
Tindakan ini merupakan langkah terbaru dari Operation Economic Outcast atau Operasi Pengucilan Ekonomi, sebuah upaya sanksi yang diperkuat yang disebut oleh Presiden Donald Trump dan Menteri Keuangan Scott Bessent sebagai D-Day Ekonomi bagi Iran saat pertama kali diumumkan pada akhir Agustus.
Belum dapat dipastikan seberapa besar dampak sanksi baru ini terhadap Iran. Negara tersebut telah bertahun-tahun menghadapi sanksi berat. Beberapa entitas yang terkait dengan jaringan A7 sebelumnya telah ditetapkan sebagai sasaran sanksi pada Agustus 2025.
"Kemampuan rezim Iran untuk mendanai mesin perangnya dan menebar teror di dunia telah sangat berkurang berkat Operation Economic Outcast," ujar Bessent dalam siaran pers Kamis pekan ini.
"Tindakan hari ini secara langsung menyasar pihak-pihak yang memfasilitasi Iran dan meletakkan dasar bagi Amerika Serikat serta mitra-mitra kami untuk menguras habis pendapatan rezim tersebut untuk selamanya," kata Bessent.
Departemen Keuangan menuding sektor otomotif Iran sangat terkait erat dengan Garda Revolusi negara itu dan berfungsi sebagai "sumber pendapatan yang sangat menguntungkan" bagi rezim tersebut, meskipun sektor ini terus mencatat kerugian tahunan lebih dari US$ 1 miliar atau Rp 17,89 triliun.
Sanksi terhadap Pemasok Asing
Selain menyasar dua perusahaan otomotif utama Iran, OFAC juga menjatuhkan sanksi terhadap pemasok asing yang terus mengekspor suku cadang otomotif ke Iran. Perusahaan-perusahaan tersebut meliputi Integrated Auto Parts LLC yang berbasis di UEA, Hessenberg Co. dan Tanex Global Trading Hong Kong Limited yang berbasis di Hong Kong, PT Golden Motorcycle International dari Indonesia, serta Troy Trading Arac Parcalari Sanayi Ve Ticaret Limited Sirketi yang berbasis di Turki.
Departemen Keuangan juga menetapkan sanksi terhadap beberapa perusahaan kereta api Iran, dengan tuduhan bahwa Teheran kini sangat bergantung pada sektor tersebut di tengah blokade angkatan laut AS yang sedang berlangsung di Teluk Oman.
Selain itu, departemen tersebut juga menetapkan sanksi terhadap dua perusahaan baja yang berbasis di China, yaitu Shanghai Ruimi Import and Export Trade Co., Ltd. dan M and R Steel Co., Ltd., di antara perusahaan lainnya.
Operation Economic Outcast telah memicu pertanyaan mengenai apakah AS akan memperluas jangkauan sanksinya hingga ke China, yang merupakan mitra dagang utama sekaligus pembeli minyak terbesar Iran.