Sempat Melonjak, Harga Emas Mendadak Anjlok Hari Ini

Sempat melonjak, harga emas mendadak anjlok tertekan penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 03 Oktober 2026, 07:42 WIB
Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas melemah pada Jumat, 2 Oktober 2026 (Sabtu pagi Jakarta), membalikkan kenaikan yang sempat terjadi sebelumnya. Penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) menekan aset tanpa imbal hasil ini, sehingga emas berada di jalur penurunan mingguan.

Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), harga emas di pasar spot turun 0,8% menjadi US$ 4.145,68 per ons. Sementara kontrak berjangka AS turun 0,7% menjadi US$ 4.173,50 per ons.

Meski dolar AS sempat turun tipis, mata uang ini masih berada di jalur penguatan mingguan. Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS tenor 10 dan 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2002 pada Kamis.

Emas sempat melonjak lebih dari 1% awal sesi setelah data menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja AS bulan September melambat melebihi perkiraan. Namun, harganya kemudian berbalik turun.

Laporan ketenagakerjaan dari Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat menunjukkan penggajian non-pertanian (non-farm payrolls) hanya bertambah 29.000 bulan lalu, setelah revisi ke bawah untuk angka Agustus sebesar 133.000. Padahal, para ekonom dalam survei Reuters memproyeksikan kenaikan 90.000, setelah sempat dilaporkan melonjak 162.000 pada Agustus.

"Para investor emas tampaknya belum ingin terburu-buru mengambil risiko, menyadari bahwa Bank Sentral AS (The Fed) masih cenderung mempertahankan sikap ketat (hawkish)," kata analis pasar utama di Bybit, Han Tan.

"Dalam beberapa bulan ke depan, arah pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada sejauh mana The Fed bersedia menoleransi potensi pelemahan pasar tenaga kerja, dengan fokus utama tetap pada upaya meredam inflasi AS."

Harga Emas Turun 20% Sejak Perang AS-Iran

Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Emas telah merosot lebih dari 20% sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari. Penurunan ini didorong oleh perkiraan bahwa inflasi akibat konflik tersebut dapat mempertahankan suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Data inflasi terbaru yang lebih rendah dari perkiraan, ditambah penolakan dari setidaknya dua pejabat tinggi The Fed terhadap kenaikan suku bunga pada Oktober, memperkuat keyakinan investor bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada akhir bulan ini.

Berdasarkan alat CME FedWatch, para pelaku pasar saat ini melihat peluang kenaikan suku bunga AS bulan ini hanya sekitar 22%, turun drastis dari sekitar 70% pada awal pekan.

"Prospek teknis pada grafik masih terlihat cukup buram, dan harga emas bisa merosot lebih dalam jika siklus kenaikan suku bunga kembali berlanjut," ujar analis di Marex, Edward Meir.

Di pasar logam lainnya, harga perak spot turun 1,1% menjadi US$ 60,17, platina merosot 1,9% menjadi US$ 1.692, dan paladium melemah 0,4% menjadi US$ 1.166,25. Ketiga logam mulia tersebut juga berpotensi mencatatkan kerugian mingguan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya