Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto melantik Syahganda Nainggolan menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Jumat (2/10/2026). Syahganda dilantik menggantikan posisi Qodari yang baru menjabat pimpinan Bakom selama 5 bulan.
Dalam prosesi pelantikan, Prabowo memimpin pengucapan sumpah jabatan para anggota Wantimpres dan Bakom. Mereka menyatakan kesetiaan kepada UUD 1945 dan berkomitmen menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Advertisement
"Bahwa saya akan setia kepada UUD 1945, serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan, dengan selurus-lurusnya, demi darma bakti saya, kepada bangsa dan negara," kata Prabowo diikuti para anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
"Bahwa saya dalam menjalankan tugas jabatan akan menjunjung tinggi etika jabatan, bekerja dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tangung jawab," sambung mereka bersamaan.
Syahganda Nainggolan merupakan pendiri sekaligus Anggota Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) sebelum menjabat Kepala Bakom.
Siapakah sebenarnya Syahganda Nainggolan? Berikut profilnya:
Sebelum bergabung bersama KAMI, pria kelahiran Medan, 27 November 1965 itu tercatat pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1984-1989.
Tetapi, Syahganda Nainggolan didropout karena aktivitas politiknya menentang pemerintahan Orde Baru.
Dia akhirnya menyelasikan jenjang S1-nya di Universitas swasta. Kemudian kembali mengambil pendidikan S2 Progam Studi Pembangunan di ITB dan selesai pada 2005.
Dia meraih gelar doktor bidang perburuhan pada 2015 dari FISIP Universitas Indonesia (UI dengan desertasi berjudul "Analisa Pengaruh Jaminan Upah Layak, Jaminan Sosial, dan Solidaritas Sosial Terhadap Kesejahteraan Buruh".
Selain pendidikan yang cukup mentereng, Syahganda Nainggolan dikenal sebagai aktivis era '80-an saat masih berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Bahkan dirinya pernah merasakan jeruji besi, saat divonis hukuman 10 bulan penjara karena demo pada saat itu.
Jejak Syahganda di Politik
Setelah bebas dari jeruji besi, Syahganda kembali aktif sebagai aktivis dan turut bergabung ke sejumlah partai salah satunya Persatuan Daulat Rakyat. Sebagaimana tercatat dalam buku 'Adi Sasono, di bawah bendera rakyat' karangan Herry Gunawan.
Namun, ia pertama kalinya menjadi caleg dari Partai Merdeka dari Dapil Tangerang. Ia kemudian pindah ke Partai Golkar, dan menjadi calon Partai Golkar untuk daerah Jawa Barat V pada 2009.
Pada era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Syahganda sempat mendapat posisi Komisaris Pelindo II. Tetapi pada 2008, dia dicopot karena menjadi caleg dari Partai Golkar yang tak lolos ke Senayan.
Nama Syahganda juga kembali mencuat pada 2007. Saat itu ia menjadi salah satu Tim Sukses dari Pasangan Presiden dan Wakil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla. Kontribusi tersebut membawanya mendapat posisi Komisaris PT Pelindo.
Setelah gagal menjadi Anggota DPR dari Partai Golkar, Syahganda pada 2010 membentuk lembaga konsultan politik Sabang Merauke Circle (SMC) pada 2010.
Lewat lembaga itulah, Syahganda bersama sejumlah aktivis era 80-an asal Institut Teknologi Bandung (ITB) turut menyalurkan analisis kritis terhadap pemerintah.
Sampai pada akhirnya Syahganda ikut bergabung bersama KAMI. KAMI dideklarasikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin bersama sejumlah tokoh lainnya.