Harga Emas Hari Ini Menguat di Tengah Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS

Sejumlah sentimen seperti imbal hasil obligasi AS yang tinggi mempengaruhi harga emas dunia.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 02 Oktober 2026, 06:43 WIB
Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas cenderung stabil pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026 (Jumat pagi Jakarta). Harga emas dunia yang menguat tipis seiring tekanan akibat dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat dan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS yang tinggi, diimbangi oleh data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. Hal ini mengurangi spekulasi mengenai kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) pada Oktober 2026.

Mengutip CNBC, Jumat (2/10/2026), harga emas spot naik tipis 0,4% menjadi US$ 4.171,19 per ons pada pukul 14.19 EDT, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember menguat 0,4% menjadi US$ 4.205,10. Harga emas sempat turun lebih dari 6% pada September 2026.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, sehingga meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas. Di sisi lain, dolar yang lebih kuat membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Harga minyak juga naik, memicu kekhawatiran inflasi, setelah China menangguhkan ekspor produk minyak. Langkah ini berpotensi memperketat pasar bahan bakar yang saat ini sudah menghadapi masalah kekurangan pasokan secara global.

"Apa pun yang meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pasti akan membebani sentimen di pasar emas. Kenaikan tajam tambahan pada harga energi atau eskalasi konflik di Timur Tengah juga akan berdampak serupa," ujar Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger.

Faktor yang mendukung harga emas adalah data Rabu yang menunjukkan inflasi AS pada Agustus naik lebih rendah dari perkiraan, sementara tekanan harga untuk bulan sebelumnya direvisi turun.

 

Pasar Kini Menantikan Data Ekonomi AS

Wisatawan berjalan melalui Terminal 3 di Bandara Internasional O'Hare, Chicago, Amerika Serikat, 19 Desember 2022. Liburan Natal dan Tahun Baru bagi sebagian warga Amerika Serikat dan Eropa tahun ini menghadirkan kekhawatiran karena tekanan ekonomi. (AP Photo/Nam Y. Huh)

Data tersebut mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober. Pasar kini memperkirakan peluang sebesar 28%, turun dari 45% sebelum data dirilis dan 69% pada pekan sebelumnya.

"Ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih rendah itulah yang telah menopang pasar logam mulia," Meger menambahkan.

Para investor kini menantikan laporan nonfarm payrolls AS September yang akan dirilis pada Jumat untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter.

"Melemahnya selera risiko dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed telah mendukung harga emas, namun tren jangka pendek masih cenderung turun (bearish). Pengujian ulang level US$ 4.000 masih mungkin terjadi, terutama jika laporan nonfarm payrolls besok menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan," ujar analis pasar senior di XM Trading, Achilleas Georgolopoulos, dalam sebuah catatan.

HSBC memangkas perkiraan rata-rata harga emas untuk 2026 dan 2027 masing-masing menjadi US$ 4.490 per ons dan US$ 4.825 per ons. HSBC juga mengatakan, emas mungkin masih menghadapi tekanan dalam waktu dekat tetapi kemungkinan besar sudah mendekati titik terendahnya.

Selain itu, HSBC memperkirakan bank-bank sentral akan kembali melakukan pembelian sebagai respons terhadap penurunan harga, khususnya saat harga berada di dekat atau di bawah level US$ 4.000.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya