Warga Diserbu Ribuan Lalat Gara-Gara Kandang Ayam

Warga mendesak pemerintah menindak tegas keberadaan puluhan kandang ayam di sekitar permukiman dan sekolah di wilayah setempat.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 01 Oktober 2026, 23:09 WIB
Lalat

Liputan6.com, Jakarta - Bau tidak sedap dan kerumunan ribuan lalat kembali meresahkan warga Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jawa Tengah. Warga mendesak pemerintah menindak tegas keberadaan puluhan kandang ayam di sekitar permukiman dan sekolah di wilayah setempat.

Tak kunjung mendapat respons selama bertahun tahun, warga Desa Bulungcangkring beramai ramai mendatangi area kandang milik PT Antoni Jaya Perkasa Farm, Kamis (1/10/2026).

Meskipun protes keras yang telah berulang kali dilontarkan warga Desa Bulungcangkring melalui serangkaian mediasi, hingga saat ini belum menemukan titik temu.

Sebelumnya juga telah dilakukan mediasi melibatkan masyarakat, pengelola kandang, pemerintah desa dan aparat. Salah satu kesepakatan kala itu, bagi kandang ayam yang tidak bisa menjaga kebersihan didesak menghentikan operasional sementara.

“Enam bulan lalu pernah ada mediasi. Ada kesepakatan kalau kandang tidak bersih, pihak pengelola bersedia tidak mengisi ayam atau tidak beroperasi,” ujar Nor Ahmad Effendi, warga desa setempat.

Namun seiring berjalannya waktu, kesepakatan tersebut ternyata tidak dijalankan oleh pihak perusahaan pengelolaan kandang ayam. Pemukiman warga dan lingkungan sekolah kembali dihantui gangguan lalat.

“Kehadiran ribuan lalat ini sudah berpuluh-puluh tahun. Kami selama ini sudah berusaha sabar, namun justru kondisinya semakin menjadi-jadi,” tukas Effendi dengan nada kesal.

Minta Pemerintah Tutup Sementara Kandang Ayam

Warga mendatangi area kandang milik PT Antoni Jaya Perkasa Farm. (Arief Pramono/Liputan6.com)

Dengan kondisi itu, warga mendesak pemerintah daerah mengambil tindakan nyata. Yakni menutup sementara kandang ayam yang tidak bisa mengendalikan lalat.

Kepala Desa Bulungcangkring, Sulakim mengakui bahwa aksi protes warga merupakan tindak lanjut mediasi yang dilakukan sebelumnya. Pemerintah desa segera memanggil 21 pengelola kandang ayam.

Penutupan sementara operasional kandang, kata Sulakim, merupakan opsi bagi kandang yang tidak memenuhi ketentuan. Namun demikian, keputusan akhir didasarkan pada hasil evaluasi masing-masing kandang yang ada di wilayah setempat.

Merespons gejolak warga Desa Bulungcangkring, Pemkab Kudus membentuk Tim Bina Lingkungan. Tim tersebut bakal memantau kondisi sekitar kandang dan mengawasi penyemprotan untuk mengurangi populasi lalat di wilayah desa setempat.

"Pembentukan tim ditargetkan selesai dalam satu minggu. Sedangkan penyemprotan diharapkan dimulai pekan berikutnya," tutur Wabup Belinda yang hadir menengahi konflik warga dengan pengelola kandang ayam.

Tak hanya itu, Bellinda juga mengusulkan langkah kongkret pengendalian lalat di dapur sekolah yang terdampak. Sebab sekolah yang terdampak, para siswanya sebagai penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Pengelola kandang yang tidak memenuhi ketentuan dapat dikenai tindakan lebih lanjut, termasuk penutupan. Kalau memang masyarakat minta untuk ditutup, ya kita tutup,” tegasnya.

Respons Pengelola Kandang

Mediasi antara warga dengan pemerintah terkait masalah lalat. (Arief Pramono/Liputan6.com)

Di sisi lain, perwakilan pengelola kandang milik PT Antoni Jaya Perkasa, Heri Hermawan, mengaku memahami keluhan warga. Selama ini, peternakan ayam broiler di Bulungcangkring telah melakukan penyemprotan dan sanitasi kandang masing-masing.

"Penyemprotan dan menjaga kebersihan sanitasi juga dilakukan di lingkungan pemukimann warga dan sekolah di Desa Bulungcangkring, " tandasnya.

Heri mengakui bahwa populasi lalat yang memang meningkat saat panen hasil penggemukan ayam. Sebab selama ini, jadwal panen ayam memang tidak serentak.

Heri menyebut bahwa proses pengerukan kotoran ayam memang dapat memicu munculnya lalat. Selain itu, perubahan musim dan kondisi lingkungan juga turut berpengaruh terhadap perkembangbiakan lalat.

“Kalau menghilangkan lalat, saya rasa di dunia peternakan susah. Harapan kami yakni lebih kepada mengurangi keberadaan lalat,” tukas Heri di hadapan warga.

Evaluasi terhadap 21 kandang kini menjadi perhatian pemerintah, pengelola, dan masyarakat. Tentunya agar aktivitas peternakan tetap berjalan tanpa terus mengganggu warga Desa Bulungcangkring.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya