Liputan6.com, Jakarta - PT United Tractors Tbk (UNTR) mengumumkan perubahan jadwal rencana pembagian dividen interim 2025. Hal ini seiring perseroan akan memakai laporan keuangan September 2026.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis (1/10/2026), PT United Tractors Tbk pada 28 September 2026 menyampaikan pembagian dividen interim yang sebelumnya dijadwalkan untuk dibayarkan pada 26 Oktober 2026 diubah menjadi ke November 2026.
Advertisement
"Perubahan jadwal pembagian dividen tersebut dikarenakan perseroan bermaksud untuk melakukan pembagian dividen interim dengan mengacu kepada laporan keuangan perseroan per 30 September 2026,” tulis Corporate Secretary PT United Tractors Tbk, Ari Setiyawan dalam keterbukaan informasi BEI.
Ia mengatakan, jumlah dividen interim yang akan dibagikan tidak mengalami perubahan dari yang telah diinformasikan pada keterbukaan informasi awal yakni maksimal Rp 1,478 triliun atau setara Rp 430 per saham. Jadwal baru atas pelaksanaan dan tata cara pembayaran dividen interim akan diumumkan oleh perseroan segera setelah perseroan mengumumkan laporan keuangan per 30 September 2026.
"Perubahan jadwal dan jumlah dividen interim akan dilakukan sesuai dengan peraturan dan ketentuan pasar modal yang berlaku,” ujar dia.
Ia menuturkan, perubahan jadwal pembagian dividen interim perseroan tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan atau kelangsungan usaha perseroan.
UNTR Kantongi Pendapatan Rp 58 Triliun hingga Semester I 2026
Sebelumnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat pendapatan dan laba kompak turun hingga semester pertama 2026. Hal itu salah satunya didorong penjualan emas lebih rendah di PT Agincourt Resources.
PT United Tractors Tbk meraup pendapatan bersih Rp 58,2 triliun hingga Juni 2026. Pendapatan perseroan turun 15% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 68,5 triliun. Hal ini terutama karena penjualan emas lebih rendah di PT Agincourt Resources dan penurunan kinerja pada segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal serta metalurgi sebagai dampak alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 lebih rendah.
Hal ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Kontraktor Penambangan yang terutama didorong oleh penguatan kurs USD.
Laba bersih Perseroan tidak termasuk nonrecurring items turun 48% menjadi Rp 4,3 triliun, terutama karena penjualan emas yang lebih rendah dari PT Agincourt Resources dan penurunan pendapatan yang sebagian besar mencerminkan dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional 2026 yang lebih rendah. Penjualan emas yang lebih rendah dari Tambang Emas Martabe disebabkan oleh penghentian sementara operasional tambang tersebut. Tambang Emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan kuartal kedua.
Selama semester pertama tahun 2026, Perseroan mencatat non-recurring items senilai Rp 3,3 triliun, terutama terdiri dari (i) penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan (ii) pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Per 30 Juni 2026, Perseroan mencatat utang bersih sebesar Rp 9,4 triliun, dengan rasio gearing sebesar 8,5%, dibandingkan dengan posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025. Perubahan ini utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham.