Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berencana mengubah model bisnis PT Pertamina Gas (Pertagas) untuk mengalirkan compressed natural gas (CNG) ke rumah tangga. Langkah ini dinilai dapat mengurangi beban subsidi LPG nasional.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan, porsi impor LPG Indonesia saat ini terlampau besar. Sebagai gantinya, CNG akan dicoba untuk dialirkan langsung ke rumah warga melalui pipa jaringan gas (jargas).
Advertisement
"Kalau ini bisa kita lakukan, kita akan trial di beberapa kota dulu, pasang ke rumah-rumah dengan model CNG. Ini sedang kita coba. Efeknya, kita tidak perlu lagi impor LPG sehingga menekan beban subsidi," ungkap Dony di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, dikutip Kamis (1/10/2026).
Sebagai informasi, pada 2025 lalu, Indonesia mengimpor sekitar 7,49 juta ton LPG atau lebih dari 80% dari total kebutuhan nasional. Sebagian besar didistribusikan untuk LPG subsidi 3 kilogram (kg). Jargas berpasokan CNG hasil produksi dalam negeri dinilai bisa menjadi alternatif utama kebutuhan gas rumah tangga.
"Bayangkan berapa banyak subsidi LPG yang harus dikeluarkan dan berapa devisa yang terpakai untuk impor. Ini memang transformasi panjang yang sedang kita lakukan. Satu per satu model bisnisnya kita ubah agar menjadi lebih tepat," jelasnya.
Gas Rumah Tangga Tinggal Putar
Dony menambahkan, subsidi LPG nantinya tidak sekadar dialihkan ke jargas CNG. Pemanfaatannya diubah dari LPG impor ke gas alam seperti LNG maupun CNG dari produksi dalam negeri. Langkah ini sekaligus dapat mengubah pola penggunaan gas rumah tangga serta menekan beban subsidi yang tidak tepat sasaran.
"Perusahaan gas kita selama ini berfokus pada tabung. Padahal di negara modern, gas tinggal diputar kran-nya karena instalasi sudah masuk ke dalam rumah," ucap Dony.
"Model seperti ini akan membuat subsidi tidak lagi salah sasaran. Anggaran yang tadinya tidak tepat guna bisa dialihkan untuk hal lain yang lebih bermanfaat," tambahnya.
Danantara Pertimbangkan Integrasi Bisnis Gas BUMN
Sebelumnya, Dony Oskaria juga mempertimbangkan penggabungan bisnis sektor gas BUMN, yaitu PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), agar lebih fokus pada rantai pasok midstream dan downstream.
"Ini sedang kita kaji polanya seperti apa. Namun yang paling penting, perusahaan gas kita nantinya harus fokus di midstream dan downstream," kata Dony.
Belum Tentukan Struktur Baru
Sebagaimana diketahui, Pertagas dan PGN sama-sama menjalankan bisnis penyaluran gas, termasuk jargas ke rumah tangga. Pihaknya mengaku masih mengkaji struktur terbaik untuk kedua entitas tersebut.
"Ada beberapa pilihan struktur yang sedang dinilai, mana yang terbaik antara Pertagas, PGN, dan lainnya. Intinya, mana yang memberi manfaat terbesar untuk Indonesia," jelasnya.
Saat dikonfirmasi mengenai bentuk perusahaan holding kedepannya, Dony menyebut faktor efisiensi serta analitis biaya dan manfaat (cost and benefit) menjadi pertimbangan utama.
"Belum diputuskan holding-nya. Tentu kita lihat dulu cost and benefit-nya. Kita bandingkan manfaat dari setiap skema, lalu kita pilih yang terbaik," pungkas Dony.